Kamis, 16 Juli 2015

Horee, SUCI Naik Kelas

HOREE, SUCI  NAIK KELAS
Walau tak ada perubahan yang signifikan dari format Kompetisi Stand  Up Comedy Indonesia Kompas TV hingga season 5 ini, tetapi tampilan SUCI 5 mulai dari babak audisi sampai grand final memang beda.
            Menyitir Raditya Dika; “Beda membuatmu terlihat”, SUCI 5 terlihat dan terasa kian bergengsi alias naik kelas, memangnya anak STM, hehehe. Apa pembeda yang membuat SUCI 5 lebih terlihat dari adik-adik kelasnya? Yuk #CariDiKompasTV.
            Kita mulai dari babak audisi. Salah satu pembeda di sini adalah hadirnya penonton di panggung audisi. Ini langkah maju, karena penonton audisi adalah representasi penonton show dan pemirsa. Situasi audisi seperti ini memberi keuntungan sekaligus tantangan bagi para peserta. Keuntunganya jelas, bahwa bagi seorang comic, tampil di hadapan sedikit orang lebih menyeramkan daripada tampil di hadapan lebih banyak orang. Selebihnya, seorang comic sebagai peserta audisi sudah beradaptasi jika lolos ke babak selanjutnya.
Tantanganya adalah materi audisi tidak bisa dibawakan lagi di babak preshow, seperti yang terjadi di SUCI 3 misalnya. Dengan demikian, seorang comic dituntut untuk memiliki stock materi yang cukup sebagai bekal ketika memutuskan untuk terjun ke panggung SUCI. Tantangan lainya adalah kompetisi ini begitu unuversal, tidak ada klasifikasi berdasarkan usia, wilayah maupun jam terbang. Bagi pemula, gagal audisi is nothing to lose tetapi berbeda dengan peserta sekelas Rachman Avri, Heri Hore atau si anak motor Barry yang sudah naik-turun panggung di berbagai tour maupun kompetisi. Belum lagi tuntutan selera juri demi variasi menu panggung SUCI yang empat sehat lima sempurna berupa persona absurd, one liner, story telling sampai yang bergaya sedeng seperti Indra Frimawan.
            Mengacu jumlah peserta audisi dengan lebih dari 60 golden ticket yang keluar dari laci ajaib duo juri, jelas mengindikasikan adanya peningkatan animo masyarakat Indonesia terhadap seni komedi import ini. Bahkan banyak peserta yang mengikuti auidisi di lebih dari satu kota.
Selanjutnya, pemberian quota kepada dua finalis  Liga Komunitas Standup di babak show turut memberi warna berbeda di SUCI 5. Ini makin mengukuhkan kasta SUCI seperti  Liga Champion Eropa yang memberi privilege bagi Juara Liga Eropa.  Dan untuk alasan ini, jika semakin banyak kompetisi stand up comedy yang dihelat jelang SUCI akan semakin mendongkrak prestise dan prestasi SUCI.
            Sebelum ke babak grand final, kita jeda sejenak sembari membuka  galeri SUCI 5 untuk melihat pernak-pernik yang tak kalah menariknya. Adalah sah-sah saja jika SUCI 5 diklaim sebagai season yang paling hi-tech karena  melibatkan banyak fasilitas digital seperti video contest sampai  juri pemirsa. Semua itu turut meramaikan Kamis  Malam, eh salah  Malam Jumat, malam tawa sejuta umat lewat layar kaca Televisi Inspirai Indonesia, negeri yang tujuh puluh tahun merdeka tetapi seperti merdeka enggan kiamat tak mau. Merdeka itu, mereka mau diajak let’s make laugh walau makan malam tanpa lauk. Atau merdeka adalah,,, Ahh sudahlah.
Pembeda di babak grand final selain perubahan dari dua besar menjadi tiga besar, hadiah utama SUCI 5 sungguh sebuah surprise. Banyak yang menduga bahwa hadiah utama berupa sebuah mobil plus uang lima puluh juta rupiah, dan lain-lain merupakan punch line dari set-up SUCI 5 nan panjang dan melelahkan; pecah, tak terduga, keren banget dan,, kompor gas!  Betapa tidak, dari audisi sampai show ke 15 tidak pernah disebutkan hadiah utama membuat publik bertanya-tanya; apakah hadiah utama SUCI 5 sama seperti sebelum-sebelumnya? Apakah pajaknya ditanggung pemenang atau pihak penyelenggara lalu pajaknya dikeplak pihak perampok berdasi? Apapun, biarkan dugaan itu menemukan jawabanya sediri diantara tumpukan #BerkasKompas beralas prinsip praduga tak bersalah, hahaha, gak nyambung sih.
Semua pembeda di atas jelas membuat SUCI  naik kelas dan bersanding-sebanding dengan ‘sekolah’ lain di kompetisi televisi. Karena salah satu indikator prestisius-tidaknya sebuah kompetisi adalah hadiah. Dari konteks industri televisi, SUCI 5 sudah memasang standar yang ideal bagi kompetisi pencarian bakat serupa. Premis ini merujuk pada nilai hadiah utama juga  durasi iklan yang kian panjang dan lama, tidak seperti yang digelisahkan Arie Kriting di SUCI 3. Sepak terjang para alumni SUCI juga turut berkontribusi terhadap indeks prestasi dan akreditasi Kampus Kompas Prodi Komedi. Tinggi-rendahnya rating sebuah tayangan tergantung kualitas tayangan itu sendiri. Kualitas tayangan komedi tidak bisa diukur dari tawa penonton bayaran. Ukuran sesungguhnya adalah tawa yang jujur, tulus sampai aksi spontan penonton yang memukul-mukul pacar orang di samping tanpa instruksi floor director, itu sesuatu yang tak bisa dibeli tetapi bisa membayar pengacara bila dikenai pasal Kekerasan Dalam Balai Kartini, junto pasal pencemaran hubungan asmara sesama.
Seperti adigium; semua berubah, yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Dengan naik kelasnya SUCI mengandung konsekuensi berupa ancaman terhadap konsistensi obyektivitas penilaian yang relatif masih terjaga, dimana penilaian juri hampir selalu senada dengan prediksi pemirsa, sehingga jarang  terjadi result surprise. Ini mengafirmasi filosofi stand up comedy; tidak penting tampang, kaya atau terkenal, yang penting lucu!

 Semoga SUCI selanjutnya semakin beda agar lebih terlihat ke seantero Nusantara. Harapan ini realistis melihat Kompas TV yang terus berekspansi menginspirasi Indonesia. Salut dan Salam Satu Tawa dari Timur Indonesia.

Sabtu, 10 Januari 2015

Lomba Blog Ikatan Perempuan Positif Indonesia, IPPI -2014



Absen Seksual
Oleh; Sirilus Selaka
Seks bukan segalanya  tetapi   segalanya  tiada tanpa seks. Premis ini mengacu pada fakta; manusia  bukan mahkluk aseksual dalam urusan reproduksi. Tinjauan filosofis melalui teori bioseksual  Maslow dan psikoseksual Freud adalah referensi lain untuk mengafirmasi hal ini.
Dalam perkembanganya, seks kemudian mengalami berbagai deviasi yang dikenal sebagai penyimpangan seksual, dari pedofilia sampai necrophillia. Sementara variasi seks dianggap sebagai modifikasi kenikmatan seksual yang wajar. Ketika pemenuhanya menemui  distorsi, lahirlah kekerasan seksual dengan berbagai fenomena, baik modus pelaku, sasaran serta dampak bagi korban. Kekerasan seksual yang setua peradaban, yang  seakan menjadi keseharian penghuni bumi ini, mengindikasikan betapa vitalnya pemenuhan kebutuhan alat vital itu. Komnas Perempuan merilis, terjadi  91.311 peristiwa kekerasan seksual sepanjang tahun 1998 – 2010. Jika ini puncak gunung es, terbayang isi perut bumi dengan bahaya bergesernya lempeng dan patahanya, bukit-bukit berikut ancaman longsor atau bibir-bibir pantai tanpa mitigasi tsunami.
Dampak buruk fisik dan psikis dari kekerasan seksual yang masih masif, menuntut solusi cerdas demi menekan prevalensi penyakit sosial kronis ini. Hukum formal-normatif, mitos primitif, tata krama, karma-darma, denda adat istiadat sampai  kecaman tokoh dunia dan seruan suara malaikat lewat pemimpin agama tak juga berdampak signifikan. Pendidikan seks usia dini sampai hari ini belum mampu menghalau galau buaya darat yang mengintai kemolekan kawanan pesolek di segala kawasan. Menyadari sulitnya mensucihamakan peradaban ini dari kebiadaban penjahat kelamin, maka langkah aman yang (mesti) diamini bersama adalah mencegahnya. Meminjam rumus disaster managemen, dimana disaster = hazard x vulnerability (Sastra Atmaja,2014), maka mengenal tanda bahaya dan mengurangi tingkat kerentanan merupakan kuncinya. Menyitir Charles Kettering, bahwa suatu masalah yang diketahui dengan jelas, sudah separuh diatasi, sehingga penting  untuk mengenal bentuk, jenis dan modus sebagai antisipasi kekerasan seksual.
Salah satu bentuk kekerasan seksual yang jauh dari hingar-bingar perbicangan para peri gosip, ramainya pemberitaan media,panasnya diskursus kaum cendikia dan senyap dari teriakan konvoi aktivis adalah absen seksual. Termasuk di dalamya pembatasan kuantitas, penurunan kualitas sampai dengan peniadaan hubungan seksual.  Absen seksual  cenderung menimpa  pasangan yang tidak lagi harmonis berlatar sosial, ekonomi atau medis. Bentuknya samar dalam kamar berhias kamuflase lazim predator yang mudah dibaca korban namun sulit berkelit dari lilitan situasi pelik. Napsu semu dan orgasme palsu adalah bentuk kekerasan seksual berbalut kemesraan, diiringi irama romantis Killing Me Softly-nya Beyonce.
Jika kekerasan seksual fisik akan merusak ke dalam jiwa, maka absen seksual  sebagai kekerasan seksual psikis merusak dari dalam ke luar. Keduanya bermuara pada perubahan perilaku, penurunan produktivitas, gangguan jiwa, bahkan bunuh diri.  Untuk puasa saling memuaskan masing-masing pasangan, baik temporal atau permanen dengan alsan yang disepakati lalu diterima kedua belah pihak, tentu saja tidak masuk kategori ini.
Bahwa abstinence dalam konteks ABC sebagai benteng kokoh penangkal agresi pasukan sekutu; HIV/AIDS dan penyakit menular seksual lainya bukan sebuah keniscayaan, karena hubungan seksual bukan satu-satunya jalan penularan. Untuk itu, apresiasi layak disematkan pada dada ODHA yang  gagah berani, tampil dengan testimoni harmoni kehidupan rumah tangganya. Terlebih mereka yang mengetahui pasanganya didiagnosa positif HIV/AIDS, ali-alih menghindari ranjang, malah merancang kama sutera sebagai sentral energi kebangkitan mental pasanganya yang luluhlantak.
Kita butuh lebih banyak pemberani untuk mendobrak stigma bahwa ODHA adalah ‘Orang Dengan Hidup Absen’ seksual. Kita perlu peluru testimoni, bahkan publikasi seremoni pernikahan pasangan ODHA yang hidup harmonis, romantis dan punya anak tak tertular HIV. Kita menanti konfirmasi praktisi keshatan tentang hasil test negatif dari ODHA yang patuh pada titah; bertobat, berobat dan bersahabat. Salam Hangat.