HOREE, SUCI NAIK KELAS
Walau tak ada perubahan yang
signifikan dari format Kompetisi Stand
Up Comedy Indonesia Kompas TV hingga season
5 ini, tetapi tampilan SUCI 5 mulai dari babak audisi sampai grand final memang
beda.
Menyitir
Raditya Dika; “Beda membuatmu terlihat”, SUCI 5 terlihat dan terasa kian
bergengsi alias naik kelas, memangnya anak STM, hehehe. Apa pembeda yang
membuat SUCI 5 lebih terlihat dari adik-adik kelasnya? Yuk #CariDiKompasTV.
Kita
mulai dari babak audisi. Salah satu pembeda di sini adalah hadirnya penonton di
panggung audisi. Ini langkah maju, karena penonton audisi adalah representasi
penonton show dan pemirsa. Situasi
audisi seperti ini memberi keuntungan sekaligus tantangan bagi para peserta. Keuntunganya
jelas, bahwa bagi seorang comic,
tampil di hadapan sedikit orang lebih menyeramkan daripada tampil di hadapan
lebih banyak orang. Selebihnya, seorang comic
sebagai peserta audisi sudah beradaptasi jika lolos ke babak selanjutnya.
Tantanganya adalah materi audisi
tidak bisa dibawakan lagi di babak preshow,
seperti yang terjadi di SUCI 3 misalnya. Dengan demikian, seorang comic dituntut untuk memiliki stock materi yang cukup sebagai bekal
ketika memutuskan untuk terjun ke panggung SUCI. Tantangan lainya adalah
kompetisi ini begitu unuversal, tidak ada klasifikasi berdasarkan usia, wilayah
maupun jam terbang. Bagi pemula, gagal audisi is nothing to lose
tetapi berbeda dengan peserta sekelas Rachman Avri, Heri Hore atau si anak
motor Barry yang sudah naik-turun panggung di berbagai tour maupun kompetisi. Belum lagi tuntutan selera juri demi
variasi menu panggung SUCI yang empat sehat lima sempurna berupa persona absurd, one liner, story telling sampai yang bergaya sedeng seperti Indra Frimawan.
Mengacu
jumlah peserta audisi dengan lebih dari 60 golden
ticket yang keluar dari laci ajaib duo juri, jelas mengindikasikan adanya
peningkatan animo masyarakat Indonesia terhadap seni komedi import ini. Bahkan
banyak peserta yang mengikuti auidisi di lebih dari satu kota.
Selanjutnya, pemberian quota kepada
dua finalis Liga Komunitas Standup di
babak show turut memberi warna
berbeda di SUCI 5. Ini makin mengukuhkan kasta SUCI seperti Liga Champion Eropa yang memberi privilege bagi Juara Liga Eropa. Dan untuk alasan ini, jika semakin banyak
kompetisi stand up comedy yang
dihelat jelang SUCI akan semakin mendongkrak prestise dan prestasi SUCI.
Sebelum
ke babak grand final, kita jeda
sejenak sembari membuka galeri SUCI 5
untuk melihat pernak-pernik yang tak kalah menariknya. Adalah sah-sah saja jika
SUCI 5 diklaim sebagai season yang
paling hi-tech karena melibatkan banyak fasilitas digital seperti video contest sampai juri pemirsa.
Semua itu turut meramaikan Kamis Malam,
eh salah Malam Jumat, malam tawa sejuta
umat lewat layar kaca Televisi Inspirai Indonesia, negeri yang tujuh puluh
tahun merdeka tetapi seperti merdeka enggan kiamat tak mau. Merdeka itu, mereka
mau diajak let’s make laugh walau
makan malam tanpa lauk. Atau merdeka adalah,,, Ahh sudahlah.
Pembeda di babak grand final selain perubahan dari dua
besar menjadi tiga besar, hadiah utama SUCI 5 sungguh sebuah surprise. Banyak yang menduga bahwa hadiah
utama berupa sebuah mobil plus uang lima puluh juta rupiah, dan lain-lain
merupakan punch line dari set-up
SUCI 5 nan panjang dan melelahkan; pecah, tak terduga, keren banget dan,,
kompor gas! Betapa tidak, dari audisi
sampai show ke 15 tidak pernah
disebutkan hadiah utama membuat publik bertanya-tanya; apakah hadiah utama SUCI
5 sama seperti sebelum-sebelumnya? Apakah pajaknya ditanggung pemenang atau
pihak penyelenggara lalu pajaknya dikeplak pihak perampok berdasi? Apapun,
biarkan dugaan itu menemukan jawabanya sediri diantara tumpukan #BerkasKompas
beralas prinsip praduga tak bersalah, hahaha, gak nyambung sih.
Semua pembeda di atas jelas
membuat SUCI naik kelas dan
bersanding-sebanding dengan ‘sekolah’ lain di kompetisi televisi. Karena salah
satu indikator prestisius-tidaknya sebuah kompetisi adalah hadiah. Dari konteks
industri televisi, SUCI 5 sudah memasang standar yang ideal bagi kompetisi
pencarian bakat serupa. Premis ini merujuk pada nilai hadiah utama juga durasi iklan yang kian panjang dan lama, tidak
seperti yang digelisahkan Arie Kriting di SUCI 3. Sepak terjang para alumni
SUCI juga turut berkontribusi terhadap indeks prestasi dan akreditasi Kampus
Kompas Prodi Komedi. Tinggi-rendahnya rating
sebuah tayangan tergantung kualitas tayangan itu sendiri. Kualitas tayangan komedi
tidak bisa diukur dari tawa penonton bayaran. Ukuran sesungguhnya adalah tawa
yang jujur, tulus sampai aksi spontan penonton yang memukul-mukul pacar orang
di samping tanpa instruksi floor director,
itu sesuatu yang tak bisa dibeli tetapi bisa membayar pengacara bila dikenai
pasal Kekerasan Dalam Balai Kartini, junto pasal pencemaran hubungan asmara
sesama.
Seperti adigium; semua berubah,
yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Dengan naik kelasnya SUCI mengandung
konsekuensi berupa ancaman terhadap konsistensi obyektivitas penilaian yang relatif
masih terjaga, dimana penilaian juri hampir selalu senada dengan prediksi
pemirsa, sehingga jarang terjadi result surprise. Ini mengafirmasi
filosofi stand up comedy; tidak penting tampang, kaya atau
terkenal, yang penting lucu!
Semoga SUCI selanjutnya semakin beda agar
lebih terlihat ke seantero Nusantara. Harapan ini realistis melihat Kompas TV
yang terus berekspansi menginspirasi Indonesia. Salut dan Salam Satu Tawa dari
Timur Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar