Kamis, 16 Juli 2015

Horee, SUCI Naik Kelas

HOREE, SUCI  NAIK KELAS
Walau tak ada perubahan yang signifikan dari format Kompetisi Stand  Up Comedy Indonesia Kompas TV hingga season 5 ini, tetapi tampilan SUCI 5 mulai dari babak audisi sampai grand final memang beda.
            Menyitir Raditya Dika; “Beda membuatmu terlihat”, SUCI 5 terlihat dan terasa kian bergengsi alias naik kelas, memangnya anak STM, hehehe. Apa pembeda yang membuat SUCI 5 lebih terlihat dari adik-adik kelasnya? Yuk #CariDiKompasTV.
            Kita mulai dari babak audisi. Salah satu pembeda di sini adalah hadirnya penonton di panggung audisi. Ini langkah maju, karena penonton audisi adalah representasi penonton show dan pemirsa. Situasi audisi seperti ini memberi keuntungan sekaligus tantangan bagi para peserta. Keuntunganya jelas, bahwa bagi seorang comic, tampil di hadapan sedikit orang lebih menyeramkan daripada tampil di hadapan lebih banyak orang. Selebihnya, seorang comic sebagai peserta audisi sudah beradaptasi jika lolos ke babak selanjutnya.
Tantanganya adalah materi audisi tidak bisa dibawakan lagi di babak preshow, seperti yang terjadi di SUCI 3 misalnya. Dengan demikian, seorang comic dituntut untuk memiliki stock materi yang cukup sebagai bekal ketika memutuskan untuk terjun ke panggung SUCI. Tantangan lainya adalah kompetisi ini begitu unuversal, tidak ada klasifikasi berdasarkan usia, wilayah maupun jam terbang. Bagi pemula, gagal audisi is nothing to lose tetapi berbeda dengan peserta sekelas Rachman Avri, Heri Hore atau si anak motor Barry yang sudah naik-turun panggung di berbagai tour maupun kompetisi. Belum lagi tuntutan selera juri demi variasi menu panggung SUCI yang empat sehat lima sempurna berupa persona absurd, one liner, story telling sampai yang bergaya sedeng seperti Indra Frimawan.
            Mengacu jumlah peserta audisi dengan lebih dari 60 golden ticket yang keluar dari laci ajaib duo juri, jelas mengindikasikan adanya peningkatan animo masyarakat Indonesia terhadap seni komedi import ini. Bahkan banyak peserta yang mengikuti auidisi di lebih dari satu kota.
Selanjutnya, pemberian quota kepada dua finalis  Liga Komunitas Standup di babak show turut memberi warna berbeda di SUCI 5. Ini makin mengukuhkan kasta SUCI seperti  Liga Champion Eropa yang memberi privilege bagi Juara Liga Eropa.  Dan untuk alasan ini, jika semakin banyak kompetisi stand up comedy yang dihelat jelang SUCI akan semakin mendongkrak prestise dan prestasi SUCI.
            Sebelum ke babak grand final, kita jeda sejenak sembari membuka  galeri SUCI 5 untuk melihat pernak-pernik yang tak kalah menariknya. Adalah sah-sah saja jika SUCI 5 diklaim sebagai season yang paling hi-tech karena  melibatkan banyak fasilitas digital seperti video contest sampai  juri pemirsa. Semua itu turut meramaikan Kamis  Malam, eh salah  Malam Jumat, malam tawa sejuta umat lewat layar kaca Televisi Inspirai Indonesia, negeri yang tujuh puluh tahun merdeka tetapi seperti merdeka enggan kiamat tak mau. Merdeka itu, mereka mau diajak let’s make laugh walau makan malam tanpa lauk. Atau merdeka adalah,,, Ahh sudahlah.
Pembeda di babak grand final selain perubahan dari dua besar menjadi tiga besar, hadiah utama SUCI 5 sungguh sebuah surprise. Banyak yang menduga bahwa hadiah utama berupa sebuah mobil plus uang lima puluh juta rupiah, dan lain-lain merupakan punch line dari set-up SUCI 5 nan panjang dan melelahkan; pecah, tak terduga, keren banget dan,, kompor gas!  Betapa tidak, dari audisi sampai show ke 15 tidak pernah disebutkan hadiah utama membuat publik bertanya-tanya; apakah hadiah utama SUCI 5 sama seperti sebelum-sebelumnya? Apakah pajaknya ditanggung pemenang atau pihak penyelenggara lalu pajaknya dikeplak pihak perampok berdasi? Apapun, biarkan dugaan itu menemukan jawabanya sediri diantara tumpukan #BerkasKompas beralas prinsip praduga tak bersalah, hahaha, gak nyambung sih.
Semua pembeda di atas jelas membuat SUCI  naik kelas dan bersanding-sebanding dengan ‘sekolah’ lain di kompetisi televisi. Karena salah satu indikator prestisius-tidaknya sebuah kompetisi adalah hadiah. Dari konteks industri televisi, SUCI 5 sudah memasang standar yang ideal bagi kompetisi pencarian bakat serupa. Premis ini merujuk pada nilai hadiah utama juga  durasi iklan yang kian panjang dan lama, tidak seperti yang digelisahkan Arie Kriting di SUCI 3. Sepak terjang para alumni SUCI juga turut berkontribusi terhadap indeks prestasi dan akreditasi Kampus Kompas Prodi Komedi. Tinggi-rendahnya rating sebuah tayangan tergantung kualitas tayangan itu sendiri. Kualitas tayangan komedi tidak bisa diukur dari tawa penonton bayaran. Ukuran sesungguhnya adalah tawa yang jujur, tulus sampai aksi spontan penonton yang memukul-mukul pacar orang di samping tanpa instruksi floor director, itu sesuatu yang tak bisa dibeli tetapi bisa membayar pengacara bila dikenai pasal Kekerasan Dalam Balai Kartini, junto pasal pencemaran hubungan asmara sesama.
Seperti adigium; semua berubah, yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Dengan naik kelasnya SUCI mengandung konsekuensi berupa ancaman terhadap konsistensi obyektivitas penilaian yang relatif masih terjaga, dimana penilaian juri hampir selalu senada dengan prediksi pemirsa, sehingga jarang  terjadi result surprise. Ini mengafirmasi filosofi stand up comedy; tidak penting tampang, kaya atau terkenal, yang penting lucu!

 Semoga SUCI selanjutnya semakin beda agar lebih terlihat ke seantero Nusantara. Harapan ini realistis melihat Kompas TV yang terus berekspansi menginspirasi Indonesia. Salut dan Salam Satu Tawa dari Timur Indonesia.

Sabtu, 10 Januari 2015

Lomba Blog Ikatan Perempuan Positif Indonesia, IPPI -2014



Absen Seksual
Oleh; Sirilus Selaka
Seks bukan segalanya  tetapi   segalanya  tiada tanpa seks. Premis ini mengacu pada fakta; manusia  bukan mahkluk aseksual dalam urusan reproduksi. Tinjauan filosofis melalui teori bioseksual  Maslow dan psikoseksual Freud adalah referensi lain untuk mengafirmasi hal ini.
Dalam perkembanganya, seks kemudian mengalami berbagai deviasi yang dikenal sebagai penyimpangan seksual, dari pedofilia sampai necrophillia. Sementara variasi seks dianggap sebagai modifikasi kenikmatan seksual yang wajar. Ketika pemenuhanya menemui  distorsi, lahirlah kekerasan seksual dengan berbagai fenomena, baik modus pelaku, sasaran serta dampak bagi korban. Kekerasan seksual yang setua peradaban, yang  seakan menjadi keseharian penghuni bumi ini, mengindikasikan betapa vitalnya pemenuhan kebutuhan alat vital itu. Komnas Perempuan merilis, terjadi  91.311 peristiwa kekerasan seksual sepanjang tahun 1998 – 2010. Jika ini puncak gunung es, terbayang isi perut bumi dengan bahaya bergesernya lempeng dan patahanya, bukit-bukit berikut ancaman longsor atau bibir-bibir pantai tanpa mitigasi tsunami.
Dampak buruk fisik dan psikis dari kekerasan seksual yang masih masif, menuntut solusi cerdas demi menekan prevalensi penyakit sosial kronis ini. Hukum formal-normatif, mitos primitif, tata krama, karma-darma, denda adat istiadat sampai  kecaman tokoh dunia dan seruan suara malaikat lewat pemimpin agama tak juga berdampak signifikan. Pendidikan seks usia dini sampai hari ini belum mampu menghalau galau buaya darat yang mengintai kemolekan kawanan pesolek di segala kawasan. Menyadari sulitnya mensucihamakan peradaban ini dari kebiadaban penjahat kelamin, maka langkah aman yang (mesti) diamini bersama adalah mencegahnya. Meminjam rumus disaster managemen, dimana disaster = hazard x vulnerability (Sastra Atmaja,2014), maka mengenal tanda bahaya dan mengurangi tingkat kerentanan merupakan kuncinya. Menyitir Charles Kettering, bahwa suatu masalah yang diketahui dengan jelas, sudah separuh diatasi, sehingga penting  untuk mengenal bentuk, jenis dan modus sebagai antisipasi kekerasan seksual.
Salah satu bentuk kekerasan seksual yang jauh dari hingar-bingar perbicangan para peri gosip, ramainya pemberitaan media,panasnya diskursus kaum cendikia dan senyap dari teriakan konvoi aktivis adalah absen seksual. Termasuk di dalamya pembatasan kuantitas, penurunan kualitas sampai dengan peniadaan hubungan seksual.  Absen seksual  cenderung menimpa  pasangan yang tidak lagi harmonis berlatar sosial, ekonomi atau medis. Bentuknya samar dalam kamar berhias kamuflase lazim predator yang mudah dibaca korban namun sulit berkelit dari lilitan situasi pelik. Napsu semu dan orgasme palsu adalah bentuk kekerasan seksual berbalut kemesraan, diiringi irama romantis Killing Me Softly-nya Beyonce.
Jika kekerasan seksual fisik akan merusak ke dalam jiwa, maka absen seksual  sebagai kekerasan seksual psikis merusak dari dalam ke luar. Keduanya bermuara pada perubahan perilaku, penurunan produktivitas, gangguan jiwa, bahkan bunuh diri.  Untuk puasa saling memuaskan masing-masing pasangan, baik temporal atau permanen dengan alsan yang disepakati lalu diterima kedua belah pihak, tentu saja tidak masuk kategori ini.
Bahwa abstinence dalam konteks ABC sebagai benteng kokoh penangkal agresi pasukan sekutu; HIV/AIDS dan penyakit menular seksual lainya bukan sebuah keniscayaan, karena hubungan seksual bukan satu-satunya jalan penularan. Untuk itu, apresiasi layak disematkan pada dada ODHA yang  gagah berani, tampil dengan testimoni harmoni kehidupan rumah tangganya. Terlebih mereka yang mengetahui pasanganya didiagnosa positif HIV/AIDS, ali-alih menghindari ranjang, malah merancang kama sutera sebagai sentral energi kebangkitan mental pasanganya yang luluhlantak.
Kita butuh lebih banyak pemberani untuk mendobrak stigma bahwa ODHA adalah ‘Orang Dengan Hidup Absen’ seksual. Kita perlu peluru testimoni, bahkan publikasi seremoni pernikahan pasangan ODHA yang hidup harmonis, romantis dan punya anak tak tertular HIV. Kita menanti konfirmasi praktisi keshatan tentang hasil test negatif dari ODHA yang patuh pada titah; bertobat, berobat dan bersahabat. Salam Hangat.

Jumat, 19 Desember 2014



RSU; Rumah Sejuta Umat
  Oleh; Sirilus Selaka 
(Opini Victory News, 23/9/2014) 


            “Cukup kejadian itu terjadi pada adik kami. Jangan ulangi dan jangan berdalil. Perbaikilah hati kalian hai paramedis. Jangan perlakukan orang sakit seperti binatang”. Ini pesan dari kampung, Desa Laboya Bawah, Kecamatan Laboya Barat – Sumba Barat yang disampaikan  Marthen Woda, kakak kandung Sherly Goro Lolu (24), sang ibu muda yang meninggal bersama bayinya di  Ruang Bersalin RSUD Kupang. Berita duka ini dirilis VN dengan judul; Gubernur Tidak Peduli Pembenahan RSUD.
Ada dua makna yang terkandung dalam pesan dari kampung tersebut. Pertama; ketika kata saran dan aksi protes terhadap buruknya pelayanan publik di instasi pemerintah mengalami resistensi, kata-kata keramat dari kampung menjadi terapi alternatif. Terapi alternatif yang diambil setelah metode konvensional tak berdampak signifikan bahkan mubazir. Shock therapy atau terapi kejut pun tak berdampak pada apatisnya nurani dan raga yang mati rasa. Rasa sombong dalam tubuh bongsor birokrasi tidak lagi memberi ruang bagi rasa berbagi ke dalam dan rasa iba ke luar.
 Dengan menyerap 75% anggaran kesehatan provinsi, maka RSUD Kupang termasuk dalam kategori birokrasi bongsor.  Bongsor yang identik dengan lamban dan inefisiensi atau padat dana, padat karya juga padat masalah.
Menyitir Laurensius Sayrani, bahwa birokrasi kita lahir dari rahim patrimonial yang melanggengkan nuansa feodalisme dan yang sering diibaratkan sebagai birokrasi priyayi yang tumbuh sebagai sebuah kelas sosial tersendiri dan berjarak dengan rakyat kebanyakan. Birokrasi yang masih membawa spirit kolonial yang menempatkan birokrasi sebagai organ pengabdi kekuasaan. Lalu diperparah dengan kentalnya pengaruh politik yang memasang jaring ekonomi untuk beburu rente. Dengan demikian, upaya ‘diet’ perampingan birokrsi tidak mesti pada besaran anggaran dan jumlah personil tetapi dengan menyedot ‘lemak jahat’ nuansa feodalisme dalam tubuh birokrasi, menetralkan birokrasi dari godaan politik kekuasaan, menghindarkanya dari jerat ekonomi pemburu rente serta menumbuhkan kesadaran akan peranya sebagai public service bukan sebagai kelas penguasa.  
Perbaikilah hati hai penguasa, hati-hati dengan kegemukan walau itu lambang kemakmuran. Cukup, jangan ulangi dengan dalil prosedur birokrasi. Kami orang kampung diwajibkan taat aturan orang kota. Kami umat Tuhan berhak mendapatkan pelayanan yang manusiawi. Adalah manusiawi mencari untung tetapi tidak harus dengan membuntungi yang bunting, yang busung lapar dan terkapar di selasar bangsal setengah jadi. Tidak perlu dengan memalak pedagang yang membuka lapak di pasar pekan, membajak petani pembajak lahan garapan atau menodong leher penyandang cacad. Ini pesan dari kampung; kembalikan fungsi rumah sejuta umat ini yang sekian lama dijadikan rumah sejuta untung, bung.
Kedua, pesan dari kampung ini seperti seruan dari atas bukit batu; berbaliklah hai para pemburu harta karun, kalian sedang tersesat. Berhentilah, masih ada waktu untuk memperbaiki kompas yang letaknya di pusat diri, di bawah jantung yang berdebar kencang diburu ambisi. Di atas ginjal yang lelah menyaring limbah kepongahan, dikelilingi usus yang aus memggiling bongkahan pungli. Diapit limpa yang membengkak, disesaki caci-maki dan sumpah serapah kaum teraniaya. Dihiasi empedu yang membatu diracuni tinta stempel dan tanda tangan dari tangan-tangan parkinson. Diperintah otak yang dicuci penganut ajaran mark up, up to you atau asal bapak senang.
Pesan dari kampung ini keramat karena kampung adalah asal segala aturan peradaban beradab. Mempersetankan pesan dari kampung berdalil membangun peradaban adalah pengingkaran terhadap asal usul. Orang kota adalah perantau yang tak boleh lupa pulang kampung sebelum batu nisanya ditulis; “Dia mati jauh dari tempatnya lahir dan kini sedang berjalan pulang”.
Adalah permintaan yang sederhana dan polos; layani kami selayaknya manusia. Manusia kampung yang miskin, dekil, bodoh dan sakit lalu sekrat lantaran  sering mengabaikan kesehatanya dengan berjemur di ladang, berjalan menunduk di lumpur sawah demi nasi yang tersaji di meja makan manusia kota.  Manusia yang putus otot lenganya mendayung perahu karena kehabisan solar demi lezatnya ikan bakar di tepi trotoar jalan protokol, yang patah tulang rusuknya terjatuh dari rangka bangunan bertingkat, full AC yang “hot and cool”. Manusia yang jadi mayat tanpa proses otopsi usai dimobilisasi mesin kampanye politik.
            Bagi manusia kampung, kesehatan mungkin tidak lebih penting dari perut, tetapi pesan dari kampung bahwa, jangan perlakukan orang sakit seperti binatang menyiratkan makna mendalam dan asasi; memanusiakan manusia dalam keadaan sakit ternyata sama nilainya dengan menyelematkan nyawa manusia itu sendiri, baik di meja operasi, di ruang bersalin maupun di ruang penuh kuman dan bau obat lainya.
            Pembawa pesan dari kampung ini dirundung duka, bukan saja karena kematian adik dan keponakanya. Dia juga berduka menyaksikan matinya sense of humanism di rumah putih yang sepatutnya menonjolkan fungsi sosial daripada fungsi ekonomi. Duka akan berbuah murka kala rumah sejuta umat itu bermetamorfosa menjadi rumah sejuta ular.
            Duhai wong ndeso yang kini jadi junjungan sejuta umat negeri ini, di tanah yang pernah memahat tapak kakimu, berkeliaran sejuta ular. Ini ular bludak, licik dan berbisa, yang hanya bisa dibasmi dengan blusukanmu. Datang, datanglah sebelum anakonda berganti kulit, pyton bertelur dan belut mencapai sungai.! ***
           
    


Sabtu, 30 April 2011

Surat Cinta Buat PLN

Surat Cinta Buat PLN
Oleh; Sirilus Selaka *)
Timor Express, 29 Mei 2009
BEBERAPA waktu lalu, Pemred (kini Direktur Timex) Yusak Riwu Rohi pernah menulis surat cinta buat PT Semen Kupang dengan mengandaikan icon industri NTT itu sebagai gadis cantik, putih, tinggi semampai dan selalu menarik perhatian setiap kapal yang merapat ke dermaga. Surat berisi cinta dan perhatian serta mewakili harapan masyarakat agar PT SK itu tetap mengepulkan asap. Sayang, asset berharga itu salah urus sehingga statusnya menjadi ‘HTS’ alias hubungan tanpa status.
Terinspirasi oleh surat cinta tersebut, bersama ini kami menulis surat cinta buat PLN, dengan harapan; diantara kita tidak terjadi ‘HTS’ atau hubungan tanpa strum yang berkepanjangan. Pada tempat pertama, kami hendak menyampaikan tentang hari-hari hidup kami yang sering dilanda kesepian dan perasaan gunda-gulana tanpa kehadiranmu. Suasana berubah mencekam, menyeramkan dan mencemaskan dikala malam tiba, sementara engkau entah di mana. Kecemasan kian meningkat ketika engkau semakin sering datang dan pergi sesuka hati. Sering engkau pergi tiba-tiba saat kita makan malam bersama, membuat napsu makan berubah emosi, cemooh dan umpatan tersaji di meja makan. Terkadang saat kita nonton bareng, engkau menghilang tanpa pamit membuat caci-maki mengiring kepergianmu. Kemarin si Buyung dan Upik terpaksa belajar di bawah redup cahaya lilin menghadapi ujian akhir sambil mengucak mata dan hidung yang menghitam, lantaran engkau tak kunjung datang.
Atas semua tingkah lakumu yang aneh bin ajaib itu, kami selalu curiga dan cemburu; ada apa dengan cinta kita? Terdorong oleh rasa cinta dan hasrat saling membutuhkan, kami tiada henti bertanya tentangmu, baik via sms, telepon, surat, melalui perantara, sampai menemuimu dan melihat keadaanmu dari dekat. Engkau selalu beralasan sakit flu berat, hujan di malam minggu aku tak datang padamu, angin kencang dan pohon tumbang menghalangi perjalananmu, kehabisan solar, mesin kendaraan mogok dan tak bisa jalan kaki karena tulang tua, keropos juga asam urat menahun bertahun-tahun. Kami semakin curiga dibakar api cemburu; jangan-jangan engkau sudah berkhianat, menggadaikan cinta kita ke lain hati yang lebih tajir serta perfect dengan 3M; matang – mapan – dan menarik?
Kecurigaan kami mendekati kebenaran; engkau telah berkhianat. Dengan bukti-bukti pelanggaran yang engkau lakukan atas ‘akta pernikahan’ kita, beberapa kali ancaman perceraian kami sampaikan berupa wacana class action, tuntutan ganti rugi, dan pengaduan ke berbagai pihak namun engkau bergeming. Kalaupun peduli, engkau sebatas meminta maaf, lalu berjanji untuk kemudian diingkari. Terakhir engkau berjani bahwa akhir bulan ini engkau tidak lagi berulah yang aneh-aneh. Besar harapan kami agar kali ini engkau bisa menepati janji. Hati kami berbunga-bunga ketika membuka halaman Metro Harian ini edisi Rabu 20/05/2009 yang melansir; Pemkot – PLN Atasi Krisis Liatrik. Dimana PLN akan memasok tambahan daya menjadi 26 mega watt. Selama ini kebutuhan listrik warga kota Kupang sebesar 27 mega watt, sedangkan daya yang tersedia hanya 23 mega watt. Untuk tambahan daya 1 mega watt menjadi 27 mega watt, pemerintah dalam hal ini Pemkot Kupang berencana akan membeli mesin berkapasitas 1 mega watt lalu diberikan kepada PLN dan PLN akan melakukan sewa mesin dengan pembayaran menurut KWH terpakai.
Sebuah kebetulan yang menarik bahwa, kabar gembira ini diletakan tepat di bawah berita bergambar tentang nikah massal yang dihelat Pemkot Kupang. Judul berita yang menggelitik; Banyak Warga Kumpul Tanpa Ikatan. Ada korelasi yang kuat antara kedua berita ini, dimana masalah biaya menjadi penyebab terjalinya hubungan tanpa status dan strum. Sebagai warga kota Kupang, kami mengapresiasi pihak Pemkot yang peduli pada keadaan warganya dengan memfasilitasi nikah massal yang sudah mencapai angka 3000 pasutri hingga kini. Syalom dan terima kasih buat Walikota/Wakil Walikota beserta segenap jajaran atas perhatianya dalam masalah sosial kemasyarakatan ini.
Untuk masalah listrik yang kini tak bisa delepas-pisahkan dari keseharian warga kota, kami tak sabar menanti realisasi wacana tersebut. Maklum, kita sudah berjanji untuk nonton bareng final Liga Champion, race selanjutnya Motor GP yang semakin seru, pertarungan tinju kelas dunia, termasuk rematcth petinju kebanggan kita Chrisjon vs Rocky Juarez 27 Juni mendatang, dan banyak lagi momen penting yang sayang jika tanpa kehadiranmu. Pokoknya seru deh,, nggak ada lo nggak rame. Yang lebih penting dan seru adalah pilpres 8 Juli nanti. Kita masih ingat saat pileg kemarin engkau ikut dikambing-hitamkan dalam kesemerawutan proses penghitungan suara lantaran engkau keburu kabur.
Pada tempat kedua, kami ingin engkau menyadari bahwa sikapmu selama ini membuat kami sangat membencimu, tetapi kami tetap mencintaimu karena engkaulah satu-satunya yang kami miliki hingga saat ini. Sekiranya status tunggal ini tak membuatmu takabur dan kabur-kaburan, status kesendirianmu tak membuatmu lupa diri dan lupa pulang sampai bongkahan cinta kita yang mengkristal dalam freezer mencair, meleleh, tersia-sia kemana-mana. Tak terhitung lagi peralatan elektronok kita yang rusak, usaha bersama kita dengan sistim bagi hasil selalu terombang-ambing gelombang untung-rugi akibat seringnya engkau mangkir dari salon, bengkel, meubel, warung makan, swalayan, fotocopy, rental PS, warnet dll.
Kami juga ingin agar engkau sadar sesadar-sadarnya bahwa engkau ada karena kami ada. Dan hubungan kita yang berulang kali terancam putus bisa survive hanya karena cinta. Cinta itu butuh pengorbanan sayang, semua bisa bilang cinta tapi apalah arti cinta tanpa pengorbanan, saling pengertian dan saling mengisi? Kami juga menyadari bahwa ancaman-ancaman kami selama ini tak jua menyelesaikan persoalan, tetapi itu kami lakukan lantaran seringnya hati kami engkau sakiti. Sebagai manusia, kami punya ambang toleransi rasa sakit. Untuk itu sekali lagi kami berharap agar janji dan wacana penambahan daya ini benar-benar direalisasikan demi kesembuhan luka yang menganga di antara kita.
Kami optimis, biaya untuk penambahan daya 3 mega watt oleh PLN dan 1 mega watt dari Pemkot bukanlah harga yang terlampau tinggi untuk dijangkau. Apalagi kami dengar, PLN punya cukup banyak piutang belum tertagih. Kalau mereka itu hoby utang di atas utang, selesaikan saja dengan sistim ‘paksa badan’ atau pemutusan hubungan biar jera. Saran ‘agitatif’ ini hanyalah ungkapan kecemburuan kami pada sikap PLN yang pilih kasih dalam penerapan denda dan ancaman pemutusan hubungan atas kelalaian kami membayar tagihan. Cinta kok pake utang? seperti kata Megy Z, “utang cinta yang kau pinjamkan belum lunas mengapa tak menagih lagi?
Mengakhiri surat cinta ini, perkenankan kami memperdengarkan sepenggal lagu cinta Iwan Fals; “kumenanti seorang kekasih yang tercantik yang datang di hari ini, andai kau tak datang hari ini, musnah harapanku”. I love you bertubi-tubi. **
Penulis;
Warga Kota Kupang.

Selasa, 26 April 2011

Pelangi di RSU

Timor Express, 08 Oct 2008, | 155

Ada Pelangi Di RSU
Sebuah wawancara…

APA yang terlintas di benak saat mendengar kabar rumah sakit terbakar? Kematian. Mereka yang lumpuh, yang patah kaki, yang tak berdaya dan semua yang tidak dapat menyelamatkan diri mati terpanggang bersama penderitaanya.. Tapi, syukurlah, itu tidak terjadi berkat reaksi spontan semua orang yang tidak sempat memikirkan resiko apalagi pamrih untuk ambil bagian dalam tindakan pemadaman, penyelamtan dan pengamanan.

Apa yang dikatakan? Kasihan. Bangunan semegah itu harus terbakar. Rugi. Kita rugi, pemerintah rugi, bukan kita untung, bangsa untung. Heran. Rumah sakit secanggih ini bisa terbakar? Namanya juga musibah. Ataukah dengan emosional mengatakan su rasa..! Rumah sakit itu terlalu arogan, diskriminatif dan birokratis? Arogan memasang tarif setinggi langit tapi kualitas pelayanan setinggi bukit.

Apa yang dilihat malam itu? Lidah api berwarna warni seperti pelangi, merah, kuning, hijau di langit yang hitam. Wajar. Ada obat merah, rivanol dan cairan/bahan lain berwarna-warni ikut terbakar. Mungkin juga wajar bahwa pelangi itu dari terbakarnya rasa marah yang identik dengan merah, cemburu dan iri berwarna kuning, juga perasaan hati lainya sesuai warna masing-masing.

Apa yang dilakukan sekarang? Lakukan yang wajar-wajar saja, yang tidak wajar itu urusan yang berwajib, yang tidak berwajib jangan coba-coba main api,!
Banyak orang peduli pada rumah sakit ini, banyak pihak meminta RSU untuk berbenah. Apa yang perlu dibenah? Fisik (house), mau dilelang atau di-PL, sesudahnya, rumah sakit ini mau diasuransikan pada pihak ketiga atau dilengkapi sistim pengamanan super canggih, siapa bisa menjamin; ini kebakaran pertama dan terakhir,?

Memadamkan bara pelangi
Pembenahan pada situasi (home) RS yang selama ini banyak dikeluhkan terutama kualitas pelayanan perlu juga mendapat perhatian serius pasca kebakaran ini. Mahalnya tarif RS yang terasa tidak senafas dengan daya beli masyarakat NTT pada umumnya cukup mengindikasikan arogansi, dimana client seakan tidak punya ruang tawar-menawar untuk apa yang harus dibayar. Client seakan disodorkan alternarif; harta atau nyawa..Umbu T.W Pariangu dalam Kualitas Pelayanan Publik menulis; Pelayanan publik yang market oriented, patut diterapkan tetapi terlebih dahulu harus dengan memperhitungkan segi-segi jangkauan pelayanan yang seadil-adil mungkin, dimana orientasi tidak justeru memarginalisasi liberasi kebutuhan seluruh level rakyat dalam bingkai demokratisasi pelayanan.

Kasus kenaikan tarif RSU berdasarkan Perda No. 4 Tahun 2006 beberapa waktu yang sempat menuai penolakan oleh komponen masyarakat di Kota Kupang merupakan contoh betapa pelayanan publik secara demokratis masih diperhitungkan sebelah mata dan tidak berjiwa preferential for and with the poor.

Rakyat semakin miskin dalam menikmati wacana perubahan yang lipstikal, instant dan berorientasi jangka pendek. Kesulitan mereka menakar dan mengakses pelayanan dasar (based service, ex; health and education) menjadi femomena jamak yang terus bergelimangan frustasi maupun apatisme mereka dalam republik penuh mimpi ini.(Timex, 26 Juni 2008)
Sementara secara internal RSU, bara pelangi yang harus dipadamkan adalah; sistem ’otonomi’ unit-unit pelayanan yang berakibat pada kualitas pelayanan.

Sekedar contoh; lihat saja warna seragam yang dikenakan tiap unit atau instalasi yang berwarna-warni seperti pelangi. Kita memang perlu ’gaul’ dalam soal konveksi, tapi perlu juga soal keseragaman dalam ’rasa’, memupuk solidaritas sesama karyawan satu atap bernama RSU. Tiap unit seakan berlomba membusungkan dada mengklaim diri sebagai yang paling vital, yang lain hanya sekedar pelengkap atau penunjang. Parahnya lagi, superioritas itu berimbas pada penuntutan hak exlusiv tanpa rasa kasihan pada jerih- payah para pelengkap atau penunjang yang sejatinya berkontribusi sama vitalnya dalam kolektifitas kerja demi pelayanan yang komprehensif pada pasien.

Lesley Flyn menulis kiasan berikut; Di sanggar kerja seorang tukang kayu, perkakas-perkakas terlibat perbincangan. Beberapa diantaranya ingin agar palu sebagai pimpinan diganti, karena palu ribut dan sombong. ’Jika kalian ingin menyingkirkan saya, kalian harus menyingkirkan paku juga. Agar paku berguna, dia harus dipalu berulang kali’. ’Tunggu dulu’ sahut paku. ’Jika saya harus disingkirkan, kalian harus menyingkirkan amplas juga. Apapun yang dia lakukan hanya di permukaan saja, tidak pada bagian dalam’. Amplas menyela, ’jika itu persoalanya, maka penggaris juga harus menyingkir.

Dia selalu menggunakan dirinya sebagai ukuran bagi segala sesuatu. Dia selalu benar’. Penggaris mengejek, ’jika ada yang paling tidak diinginkan di sini, itu adalah serut, dia tidak pernah melakukan apa-apa kecuali melicinkan urat-urat kayu’.. Saat mereka sibuk berdebat, Tukang Kayu dari Nazaret muncul. Ia langsung bekerja membuat sebuah mimbar, yang akan digunakan untuk menyebarkan Firman Tuhan. Sepanjang hari Ia menggunakan palu, paku, amplas, penggaris, serut, dan perkakas lainya. Saat Tukang Kayu mengamati mimbar yang sudah selesai itu, gergaji berdiri dan berkata, ’Mimbar ini membuktikan, bahwa kita semua adalah rekan sekerja Allah’! (Temuan Baru, 2008)

Warna-warni pelangi ini akan membakar home rumah sakit in ketika ditiup angin kecemburuan, ketidakpuasan, merasa dianaktirikan dll. Bara ini harus dipadamkan dengan ’rekonsiliasi’ internal pasca kebakaran yang menyebabkan kedaruratan pelayanan saat ini.

Pembiaran terhadap pelangi yang menaungi lagit rumah sakit ini hanya akan membiaskan visi; ’Menjadi Rumah Sakit Kebanggan Masyarakat NTT’, semakin sulit membumi di hati dan perasaan (bangga) warga masyarakat kita yang relativ mudah tersinggung, gampang emosional, tak sabar antri dan sensitif terluka hatinya.

Api rakhmat dan petaka
Sebagaimana kita tahu, kerugian diatas 10 miliar. Ini petaka bagi rumah sakit yang tengah ’bedah rumah’, tetapi alangkah celakanya jika nyala ’mercusuar’ itu diabaikan dengan mempersetankan himbauan berbagai pihak yang peduli pada rumah sakit ini. Papan bertuliskan; ’Maaf Kenyamanan Anda Terganggu,,,,’ akan terus terpampang jika perencanaan bedah rumah mengabaikan prinsip orang bijak; ’Gagal dalam perencanaan, sama dengan merencanakan kegagalan’.

Ini sebuah rahmat karena RS ini tidak dibumi-hanguskan oleh si jago merah malam itu, tapi adalah petaka, jika kita kemudian tidak berbenah secara house dan home.
Emha Ainun Najib menulis sebuah sajak tentang Rakhmat Dan Petaka; ..Ini rakhmat dan ini petaka/mari terima dengan perasaan dingin/sebab ia belum selesai/esok hari yang menanti/minta separoh nyawa hari ini/Ia, ia-bakal menjelaskan/harus menjelaskan!/adegan belum akan selesai/manusia membayarnya dengan mati demi mati/dengan sepi demi sepi/untukNya yang tak terperi/jadi kini belum bisa bilang apa-apa/penilaian kita darurat/penilaian bergerak/terus bergerak:tak pernah jadi/musti berdasar esok hari/sedang nanti sore barangkali aku mati/dan besok kau/tapi mari layani dengan dingin/rasa sedih itu setan kecil/sedang bahagia kita bisa bikin sendiri.(Srg.79)

Sajak, tetaplah sebuah sajak, tapi bahwa rakhmat dan petaka kita bisa bikin sendiri. Jikalau pelangi itu rakhmat, mari terima dengan dingin, abadikanlah sebagai pengalaman tak terlupakan karena pengalaman adalah guru yang baik. Dan jikalau ini petaka, mari padamkan dengan dingin pula....Pelangi itu indah, tapi sayang fatamorgana..*
(PENULIS: Sirilus Selaka)