Surat Cinta Buat PLN
Oleh; Sirilus Selaka *)
Timor Express, 29 Mei 2009
BEBERAPA waktu lalu, Pemred (kini Direktur Timex) Yusak Riwu Rohi pernah menulis surat cinta buat PT Semen Kupang dengan mengandaikan icon industri NTT itu sebagai gadis cantik, putih, tinggi semampai dan selalu menarik perhatian setiap kapal yang merapat ke dermaga. Surat berisi cinta dan perhatian serta mewakili harapan masyarakat agar PT SK itu tetap mengepulkan asap. Sayang, asset berharga itu salah urus sehingga statusnya menjadi ‘HTS’ alias hubungan tanpa status.
Terinspirasi oleh surat cinta tersebut, bersama ini kami menulis surat cinta buat PLN, dengan harapan; diantara kita tidak terjadi ‘HTS’ atau hubungan tanpa strum yang berkepanjangan. Pada tempat pertama, kami hendak menyampaikan tentang hari-hari hidup kami yang sering dilanda kesepian dan perasaan gunda-gulana tanpa kehadiranmu. Suasana berubah mencekam, menyeramkan dan mencemaskan dikala malam tiba, sementara engkau entah di mana. Kecemasan kian meningkat ketika engkau semakin sering datang dan pergi sesuka hati. Sering engkau pergi tiba-tiba saat kita makan malam bersama, membuat napsu makan berubah emosi, cemooh dan umpatan tersaji di meja makan. Terkadang saat kita nonton bareng, engkau menghilang tanpa pamit membuat caci-maki mengiring kepergianmu. Kemarin si Buyung dan Upik terpaksa belajar di bawah redup cahaya lilin menghadapi ujian akhir sambil mengucak mata dan hidung yang menghitam, lantaran engkau tak kunjung datang.
Atas semua tingkah lakumu yang aneh bin ajaib itu, kami selalu curiga dan cemburu; ada apa dengan cinta kita? Terdorong oleh rasa cinta dan hasrat saling membutuhkan, kami tiada henti bertanya tentangmu, baik via sms, telepon, surat, melalui perantara, sampai menemuimu dan melihat keadaanmu dari dekat. Engkau selalu beralasan sakit flu berat, hujan di malam minggu aku tak datang padamu, angin kencang dan pohon tumbang menghalangi perjalananmu, kehabisan solar, mesin kendaraan mogok dan tak bisa jalan kaki karena tulang tua, keropos juga asam urat menahun bertahun-tahun. Kami semakin curiga dibakar api cemburu; jangan-jangan engkau sudah berkhianat, menggadaikan cinta kita ke lain hati yang lebih tajir serta perfect dengan 3M; matang – mapan – dan menarik?
Kecurigaan kami mendekati kebenaran; engkau telah berkhianat. Dengan bukti-bukti pelanggaran yang engkau lakukan atas ‘akta pernikahan’ kita, beberapa kali ancaman perceraian kami sampaikan berupa wacana class action, tuntutan ganti rugi, dan pengaduan ke berbagai pihak namun engkau bergeming. Kalaupun peduli, engkau sebatas meminta maaf, lalu berjanji untuk kemudian diingkari. Terakhir engkau berjani bahwa akhir bulan ini engkau tidak lagi berulah yang aneh-aneh. Besar harapan kami agar kali ini engkau bisa menepati janji. Hati kami berbunga-bunga ketika membuka halaman Metro Harian ini edisi Rabu 20/05/2009 yang melansir; Pemkot – PLN Atasi Krisis Liatrik. Dimana PLN akan memasok tambahan daya menjadi 26 mega watt. Selama ini kebutuhan listrik warga kota Kupang sebesar 27 mega watt, sedangkan daya yang tersedia hanya 23 mega watt. Untuk tambahan daya 1 mega watt menjadi 27 mega watt, pemerintah dalam hal ini Pemkot Kupang berencana akan membeli mesin berkapasitas 1 mega watt lalu diberikan kepada PLN dan PLN akan melakukan sewa mesin dengan pembayaran menurut KWH terpakai.
Sebuah kebetulan yang menarik bahwa, kabar gembira ini diletakan tepat di bawah berita bergambar tentang nikah massal yang dihelat Pemkot Kupang. Judul berita yang menggelitik; Banyak Warga Kumpul Tanpa Ikatan. Ada korelasi yang kuat antara kedua berita ini, dimana masalah biaya menjadi penyebab terjalinya hubungan tanpa status dan strum. Sebagai warga kota Kupang, kami mengapresiasi pihak Pemkot yang peduli pada keadaan warganya dengan memfasilitasi nikah massal yang sudah mencapai angka 3000 pasutri hingga kini. Syalom dan terima kasih buat Walikota/Wakil Walikota beserta segenap jajaran atas perhatianya dalam masalah sosial kemasyarakatan ini.
Untuk masalah listrik yang kini tak bisa delepas-pisahkan dari keseharian warga kota, kami tak sabar menanti realisasi wacana tersebut. Maklum, kita sudah berjanji untuk nonton bareng final Liga Champion, race selanjutnya Motor GP yang semakin seru, pertarungan tinju kelas dunia, termasuk rematcth petinju kebanggan kita Chrisjon vs Rocky Juarez 27 Juni mendatang, dan banyak lagi momen penting yang sayang jika tanpa kehadiranmu. Pokoknya seru deh,, nggak ada lo nggak rame. Yang lebih penting dan seru adalah pilpres 8 Juli nanti. Kita masih ingat saat pileg kemarin engkau ikut dikambing-hitamkan dalam kesemerawutan proses penghitungan suara lantaran engkau keburu kabur.
Pada tempat kedua, kami ingin engkau menyadari bahwa sikapmu selama ini membuat kami sangat membencimu, tetapi kami tetap mencintaimu karena engkaulah satu-satunya yang kami miliki hingga saat ini. Sekiranya status tunggal ini tak membuatmu takabur dan kabur-kaburan, status kesendirianmu tak membuatmu lupa diri dan lupa pulang sampai bongkahan cinta kita yang mengkristal dalam freezer mencair, meleleh, tersia-sia kemana-mana. Tak terhitung lagi peralatan elektronok kita yang rusak, usaha bersama kita dengan sistim bagi hasil selalu terombang-ambing gelombang untung-rugi akibat seringnya engkau mangkir dari salon, bengkel, meubel, warung makan, swalayan, fotocopy, rental PS, warnet dll.
Kami juga ingin agar engkau sadar sesadar-sadarnya bahwa engkau ada karena kami ada. Dan hubungan kita yang berulang kali terancam putus bisa survive hanya karena cinta. Cinta itu butuh pengorbanan sayang, semua bisa bilang cinta tapi apalah arti cinta tanpa pengorbanan, saling pengertian dan saling mengisi? Kami juga menyadari bahwa ancaman-ancaman kami selama ini tak jua menyelesaikan persoalan, tetapi itu kami lakukan lantaran seringnya hati kami engkau sakiti. Sebagai manusia, kami punya ambang toleransi rasa sakit. Untuk itu sekali lagi kami berharap agar janji dan wacana penambahan daya ini benar-benar direalisasikan demi kesembuhan luka yang menganga di antara kita.
Kami optimis, biaya untuk penambahan daya 3 mega watt oleh PLN dan 1 mega watt dari Pemkot bukanlah harga yang terlampau tinggi untuk dijangkau. Apalagi kami dengar, PLN punya cukup banyak piutang belum tertagih. Kalau mereka itu hoby utang di atas utang, selesaikan saja dengan sistim ‘paksa badan’ atau pemutusan hubungan biar jera. Saran ‘agitatif’ ini hanyalah ungkapan kecemburuan kami pada sikap PLN yang pilih kasih dalam penerapan denda dan ancaman pemutusan hubungan atas kelalaian kami membayar tagihan. Cinta kok pake utang? seperti kata Megy Z, “utang cinta yang kau pinjamkan belum lunas mengapa tak menagih lagi?
Mengakhiri surat cinta ini, perkenankan kami memperdengarkan sepenggal lagu cinta Iwan Fals; “kumenanti seorang kekasih yang tercantik yang datang di hari ini, andai kau tak datang hari ini, musnah harapanku”. I love you bertubi-tubi. **
Penulis;
Warga Kota Kupang.
Sabtu, 30 April 2011
Selasa, 26 April 2011
Pelangi di RSU
Timor Express, 08 Oct 2008, | 155
Ada Pelangi Di RSU
Sebuah wawancara…
APA yang terlintas di benak saat mendengar kabar rumah sakit terbakar? Kematian. Mereka yang lumpuh, yang patah kaki, yang tak berdaya dan semua yang tidak dapat menyelamatkan diri mati terpanggang bersama penderitaanya.. Tapi, syukurlah, itu tidak terjadi berkat reaksi spontan semua orang yang tidak sempat memikirkan resiko apalagi pamrih untuk ambil bagian dalam tindakan pemadaman, penyelamtan dan pengamanan.
Apa yang dikatakan? Kasihan. Bangunan semegah itu harus terbakar. Rugi. Kita rugi, pemerintah rugi, bukan kita untung, bangsa untung. Heran. Rumah sakit secanggih ini bisa terbakar? Namanya juga musibah. Ataukah dengan emosional mengatakan su rasa..! Rumah sakit itu terlalu arogan, diskriminatif dan birokratis? Arogan memasang tarif setinggi langit tapi kualitas pelayanan setinggi bukit.
Apa yang dilihat malam itu? Lidah api berwarna warni seperti pelangi, merah, kuning, hijau di langit yang hitam. Wajar. Ada obat merah, rivanol dan cairan/bahan lain berwarna-warni ikut terbakar. Mungkin juga wajar bahwa pelangi itu dari terbakarnya rasa marah yang identik dengan merah, cemburu dan iri berwarna kuning, juga perasaan hati lainya sesuai warna masing-masing.
Apa yang dilakukan sekarang? Lakukan yang wajar-wajar saja, yang tidak wajar itu urusan yang berwajib, yang tidak berwajib jangan coba-coba main api,!
Banyak orang peduli pada rumah sakit ini, banyak pihak meminta RSU untuk berbenah. Apa yang perlu dibenah? Fisik (house), mau dilelang atau di-PL, sesudahnya, rumah sakit ini mau diasuransikan pada pihak ketiga atau dilengkapi sistim pengamanan super canggih, siapa bisa menjamin; ini kebakaran pertama dan terakhir,?
Memadamkan bara pelangi
Pembenahan pada situasi (home) RS yang selama ini banyak dikeluhkan terutama kualitas pelayanan perlu juga mendapat perhatian serius pasca kebakaran ini. Mahalnya tarif RS yang terasa tidak senafas dengan daya beli masyarakat NTT pada umumnya cukup mengindikasikan arogansi, dimana client seakan tidak punya ruang tawar-menawar untuk apa yang harus dibayar. Client seakan disodorkan alternarif; harta atau nyawa..Umbu T.W Pariangu dalam Kualitas Pelayanan Publik menulis; Pelayanan publik yang market oriented, patut diterapkan tetapi terlebih dahulu harus dengan memperhitungkan segi-segi jangkauan pelayanan yang seadil-adil mungkin, dimana orientasi tidak justeru memarginalisasi liberasi kebutuhan seluruh level rakyat dalam bingkai demokratisasi pelayanan.
Kasus kenaikan tarif RSU berdasarkan Perda No. 4 Tahun 2006 beberapa waktu yang sempat menuai penolakan oleh komponen masyarakat di Kota Kupang merupakan contoh betapa pelayanan publik secara demokratis masih diperhitungkan sebelah mata dan tidak berjiwa preferential for and with the poor.
Rakyat semakin miskin dalam menikmati wacana perubahan yang lipstikal, instant dan berorientasi jangka pendek. Kesulitan mereka menakar dan mengakses pelayanan dasar (based service, ex; health and education) menjadi femomena jamak yang terus bergelimangan frustasi maupun apatisme mereka dalam republik penuh mimpi ini.(Timex, 26 Juni 2008)
Sementara secara internal RSU, bara pelangi yang harus dipadamkan adalah; sistem ’otonomi’ unit-unit pelayanan yang berakibat pada kualitas pelayanan.
Sekedar contoh; lihat saja warna seragam yang dikenakan tiap unit atau instalasi yang berwarna-warni seperti pelangi. Kita memang perlu ’gaul’ dalam soal konveksi, tapi perlu juga soal keseragaman dalam ’rasa’, memupuk solidaritas sesama karyawan satu atap bernama RSU. Tiap unit seakan berlomba membusungkan dada mengklaim diri sebagai yang paling vital, yang lain hanya sekedar pelengkap atau penunjang. Parahnya lagi, superioritas itu berimbas pada penuntutan hak exlusiv tanpa rasa kasihan pada jerih- payah para pelengkap atau penunjang yang sejatinya berkontribusi sama vitalnya dalam kolektifitas kerja demi pelayanan yang komprehensif pada pasien.
Lesley Flyn menulis kiasan berikut; Di sanggar kerja seorang tukang kayu, perkakas-perkakas terlibat perbincangan. Beberapa diantaranya ingin agar palu sebagai pimpinan diganti, karena palu ribut dan sombong. ’Jika kalian ingin menyingkirkan saya, kalian harus menyingkirkan paku juga. Agar paku berguna, dia harus dipalu berulang kali’. ’Tunggu dulu’ sahut paku. ’Jika saya harus disingkirkan, kalian harus menyingkirkan amplas juga. Apapun yang dia lakukan hanya di permukaan saja, tidak pada bagian dalam’. Amplas menyela, ’jika itu persoalanya, maka penggaris juga harus menyingkir.
Dia selalu menggunakan dirinya sebagai ukuran bagi segala sesuatu. Dia selalu benar’. Penggaris mengejek, ’jika ada yang paling tidak diinginkan di sini, itu adalah serut, dia tidak pernah melakukan apa-apa kecuali melicinkan urat-urat kayu’.. Saat mereka sibuk berdebat, Tukang Kayu dari Nazaret muncul. Ia langsung bekerja membuat sebuah mimbar, yang akan digunakan untuk menyebarkan Firman Tuhan. Sepanjang hari Ia menggunakan palu, paku, amplas, penggaris, serut, dan perkakas lainya. Saat Tukang Kayu mengamati mimbar yang sudah selesai itu, gergaji berdiri dan berkata, ’Mimbar ini membuktikan, bahwa kita semua adalah rekan sekerja Allah’! (Temuan Baru, 2008)
Warna-warni pelangi ini akan membakar home rumah sakit in ketika ditiup angin kecemburuan, ketidakpuasan, merasa dianaktirikan dll. Bara ini harus dipadamkan dengan ’rekonsiliasi’ internal pasca kebakaran yang menyebabkan kedaruratan pelayanan saat ini.
Pembiaran terhadap pelangi yang menaungi lagit rumah sakit ini hanya akan membiaskan visi; ’Menjadi Rumah Sakit Kebanggan Masyarakat NTT’, semakin sulit membumi di hati dan perasaan (bangga) warga masyarakat kita yang relativ mudah tersinggung, gampang emosional, tak sabar antri dan sensitif terluka hatinya.
Api rakhmat dan petaka
Sebagaimana kita tahu, kerugian diatas 10 miliar. Ini petaka bagi rumah sakit yang tengah ’bedah rumah’, tetapi alangkah celakanya jika nyala ’mercusuar’ itu diabaikan dengan mempersetankan himbauan berbagai pihak yang peduli pada rumah sakit ini. Papan bertuliskan; ’Maaf Kenyamanan Anda Terganggu,,,,’ akan terus terpampang jika perencanaan bedah rumah mengabaikan prinsip orang bijak; ’Gagal dalam perencanaan, sama dengan merencanakan kegagalan’.
Ini sebuah rahmat karena RS ini tidak dibumi-hanguskan oleh si jago merah malam itu, tapi adalah petaka, jika kita kemudian tidak berbenah secara house dan home.
Emha Ainun Najib menulis sebuah sajak tentang Rakhmat Dan Petaka; ..Ini rakhmat dan ini petaka/mari terima dengan perasaan dingin/sebab ia belum selesai/esok hari yang menanti/minta separoh nyawa hari ini/Ia, ia-bakal menjelaskan/harus menjelaskan!/adegan belum akan selesai/manusia membayarnya dengan mati demi mati/dengan sepi demi sepi/untukNya yang tak terperi/jadi kini belum bisa bilang apa-apa/penilaian kita darurat/penilaian bergerak/terus bergerak:tak pernah jadi/musti berdasar esok hari/sedang nanti sore barangkali aku mati/dan besok kau/tapi mari layani dengan dingin/rasa sedih itu setan kecil/sedang bahagia kita bisa bikin sendiri.(Srg.79)
Sajak, tetaplah sebuah sajak, tapi bahwa rakhmat dan petaka kita bisa bikin sendiri. Jikalau pelangi itu rakhmat, mari terima dengan dingin, abadikanlah sebagai pengalaman tak terlupakan karena pengalaman adalah guru yang baik. Dan jikalau ini petaka, mari padamkan dengan dingin pula....Pelangi itu indah, tapi sayang fatamorgana..*
(PENULIS: Sirilus Selaka)
Ada Pelangi Di RSU
Sebuah wawancara…
APA yang terlintas di benak saat mendengar kabar rumah sakit terbakar? Kematian. Mereka yang lumpuh, yang patah kaki, yang tak berdaya dan semua yang tidak dapat menyelamatkan diri mati terpanggang bersama penderitaanya.. Tapi, syukurlah, itu tidak terjadi berkat reaksi spontan semua orang yang tidak sempat memikirkan resiko apalagi pamrih untuk ambil bagian dalam tindakan pemadaman, penyelamtan dan pengamanan.
Apa yang dikatakan? Kasihan. Bangunan semegah itu harus terbakar. Rugi. Kita rugi, pemerintah rugi, bukan kita untung, bangsa untung. Heran. Rumah sakit secanggih ini bisa terbakar? Namanya juga musibah. Ataukah dengan emosional mengatakan su rasa..! Rumah sakit itu terlalu arogan, diskriminatif dan birokratis? Arogan memasang tarif setinggi langit tapi kualitas pelayanan setinggi bukit.
Apa yang dilihat malam itu? Lidah api berwarna warni seperti pelangi, merah, kuning, hijau di langit yang hitam. Wajar. Ada obat merah, rivanol dan cairan/bahan lain berwarna-warni ikut terbakar. Mungkin juga wajar bahwa pelangi itu dari terbakarnya rasa marah yang identik dengan merah, cemburu dan iri berwarna kuning, juga perasaan hati lainya sesuai warna masing-masing.
Apa yang dilakukan sekarang? Lakukan yang wajar-wajar saja, yang tidak wajar itu urusan yang berwajib, yang tidak berwajib jangan coba-coba main api,!
Banyak orang peduli pada rumah sakit ini, banyak pihak meminta RSU untuk berbenah. Apa yang perlu dibenah? Fisik (house), mau dilelang atau di-PL, sesudahnya, rumah sakit ini mau diasuransikan pada pihak ketiga atau dilengkapi sistim pengamanan super canggih, siapa bisa menjamin; ini kebakaran pertama dan terakhir,?
Memadamkan bara pelangi
Pembenahan pada situasi (home) RS yang selama ini banyak dikeluhkan terutama kualitas pelayanan perlu juga mendapat perhatian serius pasca kebakaran ini. Mahalnya tarif RS yang terasa tidak senafas dengan daya beli masyarakat NTT pada umumnya cukup mengindikasikan arogansi, dimana client seakan tidak punya ruang tawar-menawar untuk apa yang harus dibayar. Client seakan disodorkan alternarif; harta atau nyawa..Umbu T.W Pariangu dalam Kualitas Pelayanan Publik menulis; Pelayanan publik yang market oriented, patut diterapkan tetapi terlebih dahulu harus dengan memperhitungkan segi-segi jangkauan pelayanan yang seadil-adil mungkin, dimana orientasi tidak justeru memarginalisasi liberasi kebutuhan seluruh level rakyat dalam bingkai demokratisasi pelayanan.
Kasus kenaikan tarif RSU berdasarkan Perda No. 4 Tahun 2006 beberapa waktu yang sempat menuai penolakan oleh komponen masyarakat di Kota Kupang merupakan contoh betapa pelayanan publik secara demokratis masih diperhitungkan sebelah mata dan tidak berjiwa preferential for and with the poor.
Rakyat semakin miskin dalam menikmati wacana perubahan yang lipstikal, instant dan berorientasi jangka pendek. Kesulitan mereka menakar dan mengakses pelayanan dasar (based service, ex; health and education) menjadi femomena jamak yang terus bergelimangan frustasi maupun apatisme mereka dalam republik penuh mimpi ini.(Timex, 26 Juni 2008)
Sementara secara internal RSU, bara pelangi yang harus dipadamkan adalah; sistem ’otonomi’ unit-unit pelayanan yang berakibat pada kualitas pelayanan.
Sekedar contoh; lihat saja warna seragam yang dikenakan tiap unit atau instalasi yang berwarna-warni seperti pelangi. Kita memang perlu ’gaul’ dalam soal konveksi, tapi perlu juga soal keseragaman dalam ’rasa’, memupuk solidaritas sesama karyawan satu atap bernama RSU. Tiap unit seakan berlomba membusungkan dada mengklaim diri sebagai yang paling vital, yang lain hanya sekedar pelengkap atau penunjang. Parahnya lagi, superioritas itu berimbas pada penuntutan hak exlusiv tanpa rasa kasihan pada jerih- payah para pelengkap atau penunjang yang sejatinya berkontribusi sama vitalnya dalam kolektifitas kerja demi pelayanan yang komprehensif pada pasien.
Lesley Flyn menulis kiasan berikut; Di sanggar kerja seorang tukang kayu, perkakas-perkakas terlibat perbincangan. Beberapa diantaranya ingin agar palu sebagai pimpinan diganti, karena palu ribut dan sombong. ’Jika kalian ingin menyingkirkan saya, kalian harus menyingkirkan paku juga. Agar paku berguna, dia harus dipalu berulang kali’. ’Tunggu dulu’ sahut paku. ’Jika saya harus disingkirkan, kalian harus menyingkirkan amplas juga. Apapun yang dia lakukan hanya di permukaan saja, tidak pada bagian dalam’. Amplas menyela, ’jika itu persoalanya, maka penggaris juga harus menyingkir.
Dia selalu menggunakan dirinya sebagai ukuran bagi segala sesuatu. Dia selalu benar’. Penggaris mengejek, ’jika ada yang paling tidak diinginkan di sini, itu adalah serut, dia tidak pernah melakukan apa-apa kecuali melicinkan urat-urat kayu’.. Saat mereka sibuk berdebat, Tukang Kayu dari Nazaret muncul. Ia langsung bekerja membuat sebuah mimbar, yang akan digunakan untuk menyebarkan Firman Tuhan. Sepanjang hari Ia menggunakan palu, paku, amplas, penggaris, serut, dan perkakas lainya. Saat Tukang Kayu mengamati mimbar yang sudah selesai itu, gergaji berdiri dan berkata, ’Mimbar ini membuktikan, bahwa kita semua adalah rekan sekerja Allah’! (Temuan Baru, 2008)
Warna-warni pelangi ini akan membakar home rumah sakit in ketika ditiup angin kecemburuan, ketidakpuasan, merasa dianaktirikan dll. Bara ini harus dipadamkan dengan ’rekonsiliasi’ internal pasca kebakaran yang menyebabkan kedaruratan pelayanan saat ini.
Pembiaran terhadap pelangi yang menaungi lagit rumah sakit ini hanya akan membiaskan visi; ’Menjadi Rumah Sakit Kebanggan Masyarakat NTT’, semakin sulit membumi di hati dan perasaan (bangga) warga masyarakat kita yang relativ mudah tersinggung, gampang emosional, tak sabar antri dan sensitif terluka hatinya.
Api rakhmat dan petaka
Sebagaimana kita tahu, kerugian diatas 10 miliar. Ini petaka bagi rumah sakit yang tengah ’bedah rumah’, tetapi alangkah celakanya jika nyala ’mercusuar’ itu diabaikan dengan mempersetankan himbauan berbagai pihak yang peduli pada rumah sakit ini. Papan bertuliskan; ’Maaf Kenyamanan Anda Terganggu,,,,’ akan terus terpampang jika perencanaan bedah rumah mengabaikan prinsip orang bijak; ’Gagal dalam perencanaan, sama dengan merencanakan kegagalan’.
Ini sebuah rahmat karena RS ini tidak dibumi-hanguskan oleh si jago merah malam itu, tapi adalah petaka, jika kita kemudian tidak berbenah secara house dan home.
Emha Ainun Najib menulis sebuah sajak tentang Rakhmat Dan Petaka; ..Ini rakhmat dan ini petaka/mari terima dengan perasaan dingin/sebab ia belum selesai/esok hari yang menanti/minta separoh nyawa hari ini/Ia, ia-bakal menjelaskan/harus menjelaskan!/adegan belum akan selesai/manusia membayarnya dengan mati demi mati/dengan sepi demi sepi/untukNya yang tak terperi/jadi kini belum bisa bilang apa-apa/penilaian kita darurat/penilaian bergerak/terus bergerak:tak pernah jadi/musti berdasar esok hari/sedang nanti sore barangkali aku mati/dan besok kau/tapi mari layani dengan dingin/rasa sedih itu setan kecil/sedang bahagia kita bisa bikin sendiri.(Srg.79)
Sajak, tetaplah sebuah sajak, tapi bahwa rakhmat dan petaka kita bisa bikin sendiri. Jikalau pelangi itu rakhmat, mari terima dengan dingin, abadikanlah sebagai pengalaman tak terlupakan karena pengalaman adalah guru yang baik. Dan jikalau ini petaka, mari padamkan dengan dingin pula....Pelangi itu indah, tapi sayang fatamorgana..*
(PENULIS: Sirilus Selaka)
Jumat, 22 April 2011
s.o.s for rsu
S.O.S for RSU
Oleh; Sirilus Selaka
Timor Express, 19 April 2011
PEREMPUAN itu berpakaian serba putih, berdiri di atas tanah lapang yang diapit gedung-gedung putih, melambaikan handuk putih, meminta bantuan ke udara, pada helikopter yang melintas di atas rumah sakit di salah satu kota di Jepang yang terkena dampak gempa dan tsunami kala itu.
Save Ours Soul untuk rumah sakit di Jepang akibat gempa tektonik dan tsunami, Save Ours System untuk rumah sakit di manapun yang diguncang gempa teknologi, teknokrat dan tsunami massa. Mereka meneriakan save ours soul di sana demi keselamatan jiwa dari amukan fenomena alam, teriakan mereka adalah spontan, tanpa berpikir, bertanya dan menganalisa apa yang sedang terjadi. Di sini, kami meneriakan save ours system demi keselamatan jiwa dan raga banyak orang, dari cengkraman noumena mismanajemen. Teriakan kami adalah lantang, bergetar dan berserak lantaran terlalu lama dibiarkan gelisah,kecewa, tertekan dan terhimpit antara kinerja dan kesejahteraan . Teriakan kami adalah murni bisikan nurani, steril dari kontaminasi tendesi serta jauh dari niat character assassination siapapun. Diantara lantang teriakan, kami saling berbisik; jangan nodai kemurnian perjuangan ini dengan pamrih murahan.
Kami adalah laki-laki dan prempuan, berpakaian serba-serbi, berdiri di atas tanah lapang yang diapit gedung-gedung putih berkaca setengah polos. Orasi kami membahana, bukan menghujat tetapi menambah devosi pada junjungan kami. Kami tampil bukan sok trampil, bukan sok pahlawan apalagi pahlawan kesiangan karena kami adalah rombongan pekerja yang tak pernah libur untuk melipur lara dan merawat luka-luka. Dan, karena terluka, kami memberontak. Menagih janji -demi janji, menuntut arti -demi arti.
Kami mendatangi laki-laki berpakaian serba gelap, antara biru, hijau dan coklat. Laki-laki itu menyapa kami dengan senyum ramah di wajahnya yang flamboyan. Suaranya penuh karisma; “Rumah sakit itu padat karya, padat modal dan padat manajemen. Karena selalu padat persoalan, sempat terpikir untuk ‘menjualnya’ pada pihak yang berniat meng-takeover”. Kami saling pandang dalam diam, kemudian mengagguk; jika itu adalah langkah penyelamatan, lakukanlah. Lakukan secepatnya sebelum rumah sakit ini ‘dijual’ dibawah tangan atau digadaikan tanpa agunan.
***
Dengan beralihstatus dari RSUD menjadi BLUD, banyak pihak menaruh ekspektasi akan sebuah rumah sakit pemerintah yang ramah, murah tapi bukan murahan. Muda-mudahan semuanya menjadi lebih baik, mulai dari pintu masuk, pelataran parkir yang rapi, lancar dan aman - pedagang kaki lima direlokasi ke tempat yang tidak mengganggu lalu lintas dan estetika - pos penjagaan dengan security yang tegas dan familiar - antrian di loketyang lebih cepat dan teratur, pasien beristirahat dalam ruangan yang nyaman dan aman, fasilitas penunjang tersedia, para karyawan melayani pasien dengan senyum dan komunikasi yang terapeutik, tidak lagi mengeluh apalagi melakukan aksi-aksi menuntut haknya - berita di surat kabar tidak lagi didominasi persoalan-persoalan pelik dan memprihatinkan. Terwujudlah visi; menjadi rumah sakit kebanggaan masyarakat NTT.
Faktanya, tiga bulan pertama perjalanan BLUD justeru semakin mengecewakan. Padahal, hasil indeks kepuasan pelanggan external tahun 2010 menunjukan, 84,78% pelanggan external merasa sangat puas, 47% pelanggan internal merasa tidak puas, dengan kesimpulan; ketidakpuasan pelanggan internal tidak berpengaruh terhadap kinerja yang diberikan kepada pelanggan external. Asumsinya, BLUD dijalankan dengan langkah blunder. Langkah pertama yang dianggap blunder adalah menuang ‘anggur’ lama ke dalam botol baru, dimana pola dan ritme manajemen lama dijalankan di atas koridor baru. Ini terkait erat dengan rekrutmen dan restrukturisasi. Langkah kedua, swakelola demi memotong panjang dan berbelitnya rantai birokrasi , justeru nyaris memotong-hilangkan beberapa mata rantai yang berdampak pada mandeknya aliran dana. Padahal, eksistensi entitas plat merah ini didanai negara dengan system prabayar. Keluhan orang sakit miskin berikut bukti otentik pembelanjaan kebutuhan yang semestinya didanai negara menjadi pembenaran asumsi ini.
Terlalu dini untuk menilai ini, tapi juga terlalu lama menunggu adaptasi putaran roda lama di atas rel baru yang akan menghambat laju perjalanan. Untuk itulah, teriakan minta tolong save ours system membahana. Pada titik ini, bukan lagi waktunya untuk mempertanyakan soal, tapi mempersoalkan jawaban, karena jawaban yang diberikan pihak-pihak berkompeten baru sebatas janji akan melakukan evaluasi, perombakan dan perbaikan.
Karyawan rumah sakit ini yang sering jadi bulan-bulanan berbagai pihak tatkala persoalan pelayanan kesehatan kepada orang sakit miskin merebak, berupaya menyelamatkan ‘korban bencana’ dengan berbagai cara. Upaya terbaru berupa pembentukan Forum Peduli Rumah Sakit yang dikapteni Ketua Ikatan Dokter Indonesia Cabang Kupang, dr. Kamilus Karangora SpPD cukup mendapat support dari berbagai kalangan. Beberapa diantaranya meminta agar upaya ini tidak terlokalisir pada persoalan dana Jamkesmas semata, tapi bisa menyentuh persoalan rumah sakit secara komperhensif. Bahkan ada yang ingin mejadi relawan dengan alasan, ingin ambil bagian bukan karena dipanggil atau tidak, tetapi terpanggil karena perjuangan ini senafas dengan impian mereka selama ini. Namun demikian, ada juga upaya untuk memperlemah forum ini. Karangora yang didukung langsung hampir semua dokter ahli, dokter umum dan lebih dari lima ratus karyawan lainya maju tak gentar membela yang miskin dengan semboyan; setiap perjuangan ada pengkhianatan.
***
Kami adalah laki-laki dan perempuan, berperang melawan musuh dalam selimut, berjuang menyibak tirai yang membelenggu ethos, pathos dan logos kami. Kami bersenjatakan fakta dan pakta; musuhnya musuh adalah teman. Kami adalah kaum nomaden tapi bukan bangsa barbar. Kami telah berjajni pada sejarah; pantang pulang sebelum menang. Kami adalah keturunan nenek-moyang pelaut, yang mengayuh bahtera dengan otot lengan terluka. Beberapa diantara kami terpaksa berkubur di laut, mejadi tumbal keganasan gelombang pertahanan diri.
Duhai penguasa tujuh samudra dan lima benua, selamatkan bahtera ini hingga kami membuang sauh di pantai idaman, merapat di dermaga impian… (*)
Oleh; Sirilus Selaka
Timor Express, 19 April 2011
PEREMPUAN itu berpakaian serba putih, berdiri di atas tanah lapang yang diapit gedung-gedung putih, melambaikan handuk putih, meminta bantuan ke udara, pada helikopter yang melintas di atas rumah sakit di salah satu kota di Jepang yang terkena dampak gempa dan tsunami kala itu.
Save Ours Soul untuk rumah sakit di Jepang akibat gempa tektonik dan tsunami, Save Ours System untuk rumah sakit di manapun yang diguncang gempa teknologi, teknokrat dan tsunami massa. Mereka meneriakan save ours soul di sana demi keselamatan jiwa dari amukan fenomena alam, teriakan mereka adalah spontan, tanpa berpikir, bertanya dan menganalisa apa yang sedang terjadi. Di sini, kami meneriakan save ours system demi keselamatan jiwa dan raga banyak orang, dari cengkraman noumena mismanajemen. Teriakan kami adalah lantang, bergetar dan berserak lantaran terlalu lama dibiarkan gelisah,kecewa, tertekan dan terhimpit antara kinerja dan kesejahteraan . Teriakan kami adalah murni bisikan nurani, steril dari kontaminasi tendesi serta jauh dari niat character assassination siapapun. Diantara lantang teriakan, kami saling berbisik; jangan nodai kemurnian perjuangan ini dengan pamrih murahan.
Kami adalah laki-laki dan prempuan, berpakaian serba-serbi, berdiri di atas tanah lapang yang diapit gedung-gedung putih berkaca setengah polos. Orasi kami membahana, bukan menghujat tetapi menambah devosi pada junjungan kami. Kami tampil bukan sok trampil, bukan sok pahlawan apalagi pahlawan kesiangan karena kami adalah rombongan pekerja yang tak pernah libur untuk melipur lara dan merawat luka-luka. Dan, karena terluka, kami memberontak. Menagih janji -demi janji, menuntut arti -demi arti.
Kami mendatangi laki-laki berpakaian serba gelap, antara biru, hijau dan coklat. Laki-laki itu menyapa kami dengan senyum ramah di wajahnya yang flamboyan. Suaranya penuh karisma; “Rumah sakit itu padat karya, padat modal dan padat manajemen. Karena selalu padat persoalan, sempat terpikir untuk ‘menjualnya’ pada pihak yang berniat meng-takeover”. Kami saling pandang dalam diam, kemudian mengagguk; jika itu adalah langkah penyelamatan, lakukanlah. Lakukan secepatnya sebelum rumah sakit ini ‘dijual’ dibawah tangan atau digadaikan tanpa agunan.
***
Dengan beralihstatus dari RSUD menjadi BLUD, banyak pihak menaruh ekspektasi akan sebuah rumah sakit pemerintah yang ramah, murah tapi bukan murahan. Muda-mudahan semuanya menjadi lebih baik, mulai dari pintu masuk, pelataran parkir yang rapi, lancar dan aman - pedagang kaki lima direlokasi ke tempat yang tidak mengganggu lalu lintas dan estetika - pos penjagaan dengan security yang tegas dan familiar - antrian di loketyang lebih cepat dan teratur, pasien beristirahat dalam ruangan yang nyaman dan aman, fasilitas penunjang tersedia, para karyawan melayani pasien dengan senyum dan komunikasi yang terapeutik, tidak lagi mengeluh apalagi melakukan aksi-aksi menuntut haknya - berita di surat kabar tidak lagi didominasi persoalan-persoalan pelik dan memprihatinkan. Terwujudlah visi; menjadi rumah sakit kebanggaan masyarakat NTT.
Faktanya, tiga bulan pertama perjalanan BLUD justeru semakin mengecewakan. Padahal, hasil indeks kepuasan pelanggan external tahun 2010 menunjukan, 84,78% pelanggan external merasa sangat puas, 47% pelanggan internal merasa tidak puas, dengan kesimpulan; ketidakpuasan pelanggan internal tidak berpengaruh terhadap kinerja yang diberikan kepada pelanggan external. Asumsinya, BLUD dijalankan dengan langkah blunder. Langkah pertama yang dianggap blunder adalah menuang ‘anggur’ lama ke dalam botol baru, dimana pola dan ritme manajemen lama dijalankan di atas koridor baru. Ini terkait erat dengan rekrutmen dan restrukturisasi. Langkah kedua, swakelola demi memotong panjang dan berbelitnya rantai birokrasi , justeru nyaris memotong-hilangkan beberapa mata rantai yang berdampak pada mandeknya aliran dana. Padahal, eksistensi entitas plat merah ini didanai negara dengan system prabayar. Keluhan orang sakit miskin berikut bukti otentik pembelanjaan kebutuhan yang semestinya didanai negara menjadi pembenaran asumsi ini.
Terlalu dini untuk menilai ini, tapi juga terlalu lama menunggu adaptasi putaran roda lama di atas rel baru yang akan menghambat laju perjalanan. Untuk itulah, teriakan minta tolong save ours system membahana. Pada titik ini, bukan lagi waktunya untuk mempertanyakan soal, tapi mempersoalkan jawaban, karena jawaban yang diberikan pihak-pihak berkompeten baru sebatas janji akan melakukan evaluasi, perombakan dan perbaikan.
Karyawan rumah sakit ini yang sering jadi bulan-bulanan berbagai pihak tatkala persoalan pelayanan kesehatan kepada orang sakit miskin merebak, berupaya menyelamatkan ‘korban bencana’ dengan berbagai cara. Upaya terbaru berupa pembentukan Forum Peduli Rumah Sakit yang dikapteni Ketua Ikatan Dokter Indonesia Cabang Kupang, dr. Kamilus Karangora SpPD cukup mendapat support dari berbagai kalangan. Beberapa diantaranya meminta agar upaya ini tidak terlokalisir pada persoalan dana Jamkesmas semata, tapi bisa menyentuh persoalan rumah sakit secara komperhensif. Bahkan ada yang ingin mejadi relawan dengan alasan, ingin ambil bagian bukan karena dipanggil atau tidak, tetapi terpanggil karena perjuangan ini senafas dengan impian mereka selama ini. Namun demikian, ada juga upaya untuk memperlemah forum ini. Karangora yang didukung langsung hampir semua dokter ahli, dokter umum dan lebih dari lima ratus karyawan lainya maju tak gentar membela yang miskin dengan semboyan; setiap perjuangan ada pengkhianatan.
***
Kami adalah laki-laki dan perempuan, berperang melawan musuh dalam selimut, berjuang menyibak tirai yang membelenggu ethos, pathos dan logos kami. Kami bersenjatakan fakta dan pakta; musuhnya musuh adalah teman. Kami adalah kaum nomaden tapi bukan bangsa barbar. Kami telah berjajni pada sejarah; pantang pulang sebelum menang. Kami adalah keturunan nenek-moyang pelaut, yang mengayuh bahtera dengan otot lengan terluka. Beberapa diantara kami terpaksa berkubur di laut, mejadi tumbal keganasan gelombang pertahanan diri.
Duhai penguasa tujuh samudra dan lima benua, selamatkan bahtera ini hingga kami membuang sauh di pantai idaman, merapat di dermaga impian… (*)
Senin, 18 April 2011
Penyakit Aneh
Wabah Penyakit Aneh
Oleh; Sirilus Selaka
Dipublikasikan oleh Timor Express, 7 Oktober 2010
SEORANG teman menyebarkan sms yang katanya merupakan himbauan Menkes; “Waspadailah enam penyakit aneh yang rentan diderita oleh Pegawai Negeri Sipil (PNS) hari-hari ini; 1; Kudis alias kurang disiplin. 2; Asma; asal mengisi absen. 3; TBC; tidak bisa computer. 4; Kram; kurang trampil. 5; Asam Urat; asal sampai kantor uring-uringan alias tidur. 6; Ginjal; gaji ingin naik tapi kerjanya lamban”. Ada yang perlu ditambahkan? Mungkin mual-muntah alais mengeluh melulu, mutasi no kompetensi-prestasi, tetapi koneksi-relasi, yes.! Dan untuk mendapatkan tiga yes, you must do it; bekerjalah demi kepentingan yang berkuasa. Apapun yang dikerjakan harus menyenangkan hati bos, jangan banyak bertanya, apalagi mengkritik.
Penguasa jaman ini banyak yang menderita syndrom sensitifitis alias radang pada organ-organ sensitif. Tanda-tandanya; bila dikritik, kulit muka memerah, mata melotot, hidung kembang-kempis menahan napas, mulut komat-kamit seribu mantera. Umbu TW Pariangu bahkan memberi subjudul tulisanya, “seorang pejabat marah-marah” lantaran dikritik soal pembelian mobil mewah. Ini bukan soal emosi, melainkan penerapanya secara tepat dalam berbagai situasi. Daniel Goleman (1995), mengutip ucapan Aristoteles; “Setiap orang bias marah, itu mudah. Tetapi marah pada orang yang tepat, dalam tingkatan yang tepat, waktu yang tepat, untuk tujuan yang tepat, dan dengan cara yang tepat, ini tidak mudah”.
Bagaimana mengurangi sifat lekas marah atau Irritability Quotient ? David D Burns (1980) memperkenalkan dua pendekatan regular yang bisa digunakan untuk mengatasi rasa marah yaitu; dengan menekan kemarahan itu ke dalam, yang akan merusak diri dari dalam dan menyebabkan depresi dan apati atau mengekspresikanya. Namun demikian, mengekspresikan kemarahan yang tampaknya sederhana dan efektif, kadang malah membawa kita ke dalam kesulitan. Untuk itu, Burns menganjurkan pendekatan kognitif, yaitu dengan mengeliminasi keinginan untuk marah, karena kenyataanya hanya ada sedikit hal (kritik) yang perlu dimarahi. Apakah kita ingin mengatasi rasa takut pada kritik dengan cara yang lebih tenang dan tidak ofensif? Kemampuan ini akan berdampak luar biasa pada persepsi diri. Kritikan bisa jadi benar, salah atau ada di antaranya. Tetapi cara untuk menentukanya adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada si pemberi kritik. Tanyakan dengan spesifik meskipun terasa pedas dan pribadi. Ini akan mengungkapkan kebenaran, memberikan kesempatan untuk memperbaikinya atau dapat memastikan bahwa kritik itu hanya merupakan ekspresi rasa frustrasi dan tidak benar-benar mengkritik. Apapun itu, tidak perlu memunculkan rekasi negatif karena ada pilihan lain yang lebih sehat, apakah memanfaatkan kritik itu sebagai bahan instropeksi, refleksi dan koreksi diri, atau menganggapnya angin lalu.
Secara patofisiologi atau perjalanan penyakit, syndrom sensitifitis yang tidak segera disembuhkan dapat mengakibatkan sakit jantung, darah tinggi dan sudden death atau mati mendadak. Dalam kasus ini, kritik bukanlah etiologi yang mesti dihindari, tetapi mekanisme kooping menghadapi kritik adalah obat mujarab. Tidak mau dikritik? Jonatan Saturo menyarankan; “Cara pasti menghindari kritik adalah, jangan berbuat apapun, memiliki apapun dan menjadi apapun”.
Pejabat yang menderita syndrom sensitifitis cenderung menularkan penyakit eneh lain pada bawahanya. Bawahan yang rentan tertular adalah si tangan kanan, si anak emas, perak dan perunggu. Penyakit yang dimaksud adalah syndrom superioritas salah kaprah. Tanda dan gejalanya; suka menepuk dada karena merasa paling pintar, paling trampil, paling berkontrubsi, paling berhak atas fasilitas dinas, paling menuntut tak mau mengalah dan berbagi. Lalu si tangan kiri dan si anak tiri yang menderita syndrom inferioritas semu hanya bisa menunduk, menurut, mengangguk lalu menggeleng tak berdaya.
Syndrom superioritas salah kaprah ini bisa dicegah dan disembuhkan dengan memutus rantai politisasi birokrasi yang mewabah di musim pilkada. Himbauan bahkan instruksi tegas bagi setiap PNS untuk menjaga netralitas dalam setiap hajatan politik mesti diikuti sanksi tegas. Tanpa itu, oknum aparatur negara kian geranjingan bergerilia di medan abu-abu, tak peduli berseragam abu-abu, keki, safari, motif daerah sampai celana umpan dan model keong racun. Kelompok PNS ini mirip para pencari pesugihan, segala cara dihalalkan asal untung, yang penting menang dan senang. (istilah Romo Mangunwijaya). Atau dalam catatan Senny Pellokila (Timex, 15/01/2010), sebagai tujuh keistimewaan PNS; kerja santai, tidak stress, sulit dipecat, gaji dan pangkat selalu naik, karier dilindungi pangkat, pensiun dan jaminan hari tua, serta simbol status sosial. Pellokila ‘mendiagnosis’, kelompok ini sangat berperan aktif menghancurkan negara dan provinsi ini.
Sementara untuk kelompok penderita syndrom inferioritas semu, jangan terlalu terfokus pada kelebihan (semu) orang lain dan menjadi minder, lalu merasa diri tidak berarti. Karena Romo Mangunwijaya dan Senny Pellokila sungguh mengapresiasi kelompok ini sebagai yang berhati nurani. Menjadi aparatur negara disadarinya sebagai pannggilan hidup dan dijalaninya penuh kesadaran dan tanggung jawab baik secara hukum maupun secara moral. Orientasinya adalah untuk kemanusiaan, mengangkat harkat dan martabat manusia..
Waspadalah,, wabah penyakit berbahaya mengintai di setiap musim pancaroba politik yang sudah banyak menelan korban jiwa, harta dan martabat..
Oleh; Sirilus Selaka
Dipublikasikan oleh Timor Express, 7 Oktober 2010
SEORANG teman menyebarkan sms yang katanya merupakan himbauan Menkes; “Waspadailah enam penyakit aneh yang rentan diderita oleh Pegawai Negeri Sipil (PNS) hari-hari ini; 1; Kudis alias kurang disiplin. 2; Asma; asal mengisi absen. 3; TBC; tidak bisa computer. 4; Kram; kurang trampil. 5; Asam Urat; asal sampai kantor uring-uringan alias tidur. 6; Ginjal; gaji ingin naik tapi kerjanya lamban”. Ada yang perlu ditambahkan? Mungkin mual-muntah alais mengeluh melulu, mutasi no kompetensi-prestasi, tetapi koneksi-relasi, yes.! Dan untuk mendapatkan tiga yes, you must do it; bekerjalah demi kepentingan yang berkuasa. Apapun yang dikerjakan harus menyenangkan hati bos, jangan banyak bertanya, apalagi mengkritik.
Penguasa jaman ini banyak yang menderita syndrom sensitifitis alias radang pada organ-organ sensitif. Tanda-tandanya; bila dikritik, kulit muka memerah, mata melotot, hidung kembang-kempis menahan napas, mulut komat-kamit seribu mantera. Umbu TW Pariangu bahkan memberi subjudul tulisanya, “seorang pejabat marah-marah” lantaran dikritik soal pembelian mobil mewah. Ini bukan soal emosi, melainkan penerapanya secara tepat dalam berbagai situasi. Daniel Goleman (1995), mengutip ucapan Aristoteles; “Setiap orang bias marah, itu mudah. Tetapi marah pada orang yang tepat, dalam tingkatan yang tepat, waktu yang tepat, untuk tujuan yang tepat, dan dengan cara yang tepat, ini tidak mudah”.
Bagaimana mengurangi sifat lekas marah atau Irritability Quotient ? David D Burns (1980) memperkenalkan dua pendekatan regular yang bisa digunakan untuk mengatasi rasa marah yaitu; dengan menekan kemarahan itu ke dalam, yang akan merusak diri dari dalam dan menyebabkan depresi dan apati atau mengekspresikanya. Namun demikian, mengekspresikan kemarahan yang tampaknya sederhana dan efektif, kadang malah membawa kita ke dalam kesulitan. Untuk itu, Burns menganjurkan pendekatan kognitif, yaitu dengan mengeliminasi keinginan untuk marah, karena kenyataanya hanya ada sedikit hal (kritik) yang perlu dimarahi. Apakah kita ingin mengatasi rasa takut pada kritik dengan cara yang lebih tenang dan tidak ofensif? Kemampuan ini akan berdampak luar biasa pada persepsi diri. Kritikan bisa jadi benar, salah atau ada di antaranya. Tetapi cara untuk menentukanya adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada si pemberi kritik. Tanyakan dengan spesifik meskipun terasa pedas dan pribadi. Ini akan mengungkapkan kebenaran, memberikan kesempatan untuk memperbaikinya atau dapat memastikan bahwa kritik itu hanya merupakan ekspresi rasa frustrasi dan tidak benar-benar mengkritik. Apapun itu, tidak perlu memunculkan rekasi negatif karena ada pilihan lain yang lebih sehat, apakah memanfaatkan kritik itu sebagai bahan instropeksi, refleksi dan koreksi diri, atau menganggapnya angin lalu.
Secara patofisiologi atau perjalanan penyakit, syndrom sensitifitis yang tidak segera disembuhkan dapat mengakibatkan sakit jantung, darah tinggi dan sudden death atau mati mendadak. Dalam kasus ini, kritik bukanlah etiologi yang mesti dihindari, tetapi mekanisme kooping menghadapi kritik adalah obat mujarab. Tidak mau dikritik? Jonatan Saturo menyarankan; “Cara pasti menghindari kritik adalah, jangan berbuat apapun, memiliki apapun dan menjadi apapun”.
Pejabat yang menderita syndrom sensitifitis cenderung menularkan penyakit eneh lain pada bawahanya. Bawahan yang rentan tertular adalah si tangan kanan, si anak emas, perak dan perunggu. Penyakit yang dimaksud adalah syndrom superioritas salah kaprah. Tanda dan gejalanya; suka menepuk dada karena merasa paling pintar, paling trampil, paling berkontrubsi, paling berhak atas fasilitas dinas, paling menuntut tak mau mengalah dan berbagi. Lalu si tangan kiri dan si anak tiri yang menderita syndrom inferioritas semu hanya bisa menunduk, menurut, mengangguk lalu menggeleng tak berdaya.
Syndrom superioritas salah kaprah ini bisa dicegah dan disembuhkan dengan memutus rantai politisasi birokrasi yang mewabah di musim pilkada. Himbauan bahkan instruksi tegas bagi setiap PNS untuk menjaga netralitas dalam setiap hajatan politik mesti diikuti sanksi tegas. Tanpa itu, oknum aparatur negara kian geranjingan bergerilia di medan abu-abu, tak peduli berseragam abu-abu, keki, safari, motif daerah sampai celana umpan dan model keong racun. Kelompok PNS ini mirip para pencari pesugihan, segala cara dihalalkan asal untung, yang penting menang dan senang. (istilah Romo Mangunwijaya). Atau dalam catatan Senny Pellokila (Timex, 15/01/2010), sebagai tujuh keistimewaan PNS; kerja santai, tidak stress, sulit dipecat, gaji dan pangkat selalu naik, karier dilindungi pangkat, pensiun dan jaminan hari tua, serta simbol status sosial. Pellokila ‘mendiagnosis’, kelompok ini sangat berperan aktif menghancurkan negara dan provinsi ini.
Sementara untuk kelompok penderita syndrom inferioritas semu, jangan terlalu terfokus pada kelebihan (semu) orang lain dan menjadi minder, lalu merasa diri tidak berarti. Karena Romo Mangunwijaya dan Senny Pellokila sungguh mengapresiasi kelompok ini sebagai yang berhati nurani. Menjadi aparatur negara disadarinya sebagai pannggilan hidup dan dijalaninya penuh kesadaran dan tanggung jawab baik secara hukum maupun secara moral. Orientasinya adalah untuk kemanusiaan, mengangkat harkat dan martabat manusia..
Waspadalah,, wabah penyakit berbahaya mengintai di setiap musim pancaroba politik yang sudah banyak menelan korban jiwa, harta dan martabat..
Jumat, 15 April 2011
Stikes, Status dan Stamina
0leh; Sirilus Selaka *)
Timor Express, 1 Agustus 2009
SAMPAI saat ini, sekolah kesehatan masih menjadi salah satu destinasi favorit para lulusan SMA/SMK. Kondisi ini berimplikasi pada; mahalnya biaya pendidikan kesehatan dengan perincian irasional, otorisasi sistim pendidikan, sampai pembukaan kelas parallel-jarak jauh dengan mempersetankan status maupun stamina demi kualitas lulusan. Kondisi NTT yang selalu dikatakan kekurangan tenaga kesehatan menjadi ‘tameng’ pihak penyelenggara pendidikan tenaga kesehatan melebarkan sayap ‘malaikatnya’ hingga ke daerah-daerah.
Mencuatnya permasalahan Stikes Surabaya Multikelas-Kupang menjadi titik balik yang sekaligus membuka paksa tameng pada wajah ‘mulia’ pendidikan tenaga kesehatan kita. Sebelum jawaban pasti atas pertanyaan para mahasiswa Stikes Surabaya Multikelas-Kupang perihal status kampus mereka, maka keberadaan Stikes Surabaya Multikelas-Kupang adalah illegal. Ini mengacu Prof.Dr. I Gusti Bagus Arjana, Pembantu Rektor Bidang Akademik Universitas Nusa Cendana bahwa sesuai aturan, semua Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia dilarang untuk menyelenggarakan kelas jauh kecuali Universitas Terbuka (UT) atau PT yang diberi tugas. Karena nomenklaturnya disebutkan kelas jauh, sehingga ada PT yang menamakan multikelas, kelas parallel dan sebutan lainya. Namun prakteknya tetap sama sehingga tidak dibenarkan. ( Timex, 15/07/2009).
Lepas dari kisruh status Stikes Surabaya Multikelas-Kupang, hal esensial yang mesti menjadi perhatian adalah kelayakan berdirinya sebuah lembaga pendidikan tenaga kesehatan. Hal yang dimaksud adalah sarana dan prasarana yang menjadi élan vital sebuah lembaga pendidikan tenaga kesehatan, seperti tenaga pendidik dan sarana vital serta penunjang lainya. Fenomena dosen terbang yang kini trend di hampir semua lembaga pendidikan tenaga kesehatan di NTT adalah sebuah gambaran ketidaklayakan. Bagaimana dosen bisa memberi kuliah dalam stamina tubuh dan otak yang letih-lesuh-lelah akibat mabuk perjalanan? Kemudian tidak ada termin tanya-jawab karena dosenya ‘kejar jam tayang’. Mahasiswa silahkan belajar sendiri sambil berdiri sampai mandiri, nanti juga pintar sendiri, ujian? asal tahu diri, lulus asal fulus.
Padahal, perguruan tinggi merupakan suatu institusi industri yang memproduksi berbagai jasa pendidikan. Jasa tersebut antara lain; kegiatan pembelajaran atau perkuliahan dan administrasi yang dapat dimanfaatkan oleh pelanggan (mahasiswa). Proses pembelajaran adalah suatu proses yang dijalani pelanggan untuk mengubah perilaku dalam proses menjadi. Melalui proses ini pelanggan akan keluar sebagai lulusan, selanjutnya akan dipaki oleh masyarakat dalam dunia kerja. Dalam suatu perguruan tinggi, pengguna jasa pendidikan dibagi menjadi internal dan eksternal. Internal antara lain; dosen, tenaga administrasi dan tenaga tehnis lainya. Sedangkan eksternal antara lain; mahasiswa, orangtua, pemerintah daerah, sponsor dll. Mutu dapat meningkat jika proses pembelajaran sesuai standard dan sesuai kebutuhan mahasiswa sebagai pelanggan. Untuk mendapatkan pembelajaran yang bermutu diperlukan pola manajemen lembaga perguruan tinggi yang berorientasi pada kebutuhan pasar tenaga kerja. Dengan demikian akan meminimalisir kesenjangan antara perguruan tinggi dan dunia industri (Sabina Gero, sesuai Pulungan 2001, Jurnal Info Kesehatan).
Dalam kaitan stamina prima demi lulusan yang berkualitas, status sebuah lembaga pendidikan tenaga kesehatan tidak saja sebatas pada akte, surat ijin atau surat keputusan pejabat negara yang mungkin tanpa verifikasi terhadap proposal penyelenggara. Status (kelayakan) berdiri dan beroperasinya sebuah lembaga pendidikan tenaga kesehatan tidak saja menjamin legalitas lulusan tapi juga kualitas. Dengan demikian unsur internal maupun eksternal sebuah perguruan tinggi mesti menjadi jaminan status baik defacto maupun dejure.
Aksi demo para mahasiswa Stikes Surabaya Multikelas-Kupang yang menghawatirkan legalitas kelulusan mereka kelak adalah langkah terlambat, tetapi jauh lebih terlambat jika hingga hari ini kita tidak melakukan ‘aksi demo’ menghawatirkan kualitas output dari lembaga pendidikan tenaga kesehatan lain yang setali tiga uang dengan Stikes Surabaya Multikelas-Kupang dalam konteks kelayakan.
Layak-tidak layak, dilayakan saja demi standarisasi pelayanan kesehatan bukanlah solusi sehat untuk keluar dari kompleksitas masalah kesehatan di daerah ini. Karena tenaga kesehatan sebagai ujung tombak pembangunan di bidang kesehatan mesti lahir dari rahim almamater yang layak melahirkan, bukan diaborsi dengan indikasi kepayahan stamina sang ibu. Walau tak bisa dinafikan kontribusi lembaga pendidikan tenaga kesehatan di NTT yang dalam segala keterbatasan telah menghasilkan ribuan tenaga kesehatan (nakes), tetapi pelebaran sayap demi target ratio nakes ; jumlah penduduk yang proporsional dengan mempersetankan status dan stamina akan memperburuk keadaan yang mestinya dipertahankan (maintenance).
Mengutip tulisan adik Vinsen Making (Timex, 21/07/2009) bahwa besarnya harapan dalam langkah kecil konvoi para mahasiswa Stikes Surabaya Multikelas-Kupang menjemput kepastian masa depan mereka yang ditipkan orangtua dan keluarga yang dengan susah payah membiayai mahalnya kuliah mesti didengar dalam dua penggal jeritan hati. Pertama, kepastian status demi terwujudnya cita-cita mereka, harapan orangtua, keluarga dan masyarakat. Kedua, biaya yang ala mak mahal tersebut mesti diimbangi dengan kelayakan proses kuliah berupa servis memuaskan dari provider pada pelanggan.
Keseluruhan tahapan pembentukan seorang nakes, dari input-process-output adalah satu paket pembuatan produk yang akan dijual kepada pelanggan jasa pelayanan kesehatan dimanapun. Dengan mengesampingkan satu diantaranya akan berdampak pada kualitas pelayanan kesehatan yang bermuara pada genangan ketidakpuasan pelanggan. Ibarat sebuah provider selular, casing mentereng – synyal lemah,, mana puas mas,,? **
0leh; Sirilus Selaka *)
Timor Express, 1 Agustus 2009
SAMPAI saat ini, sekolah kesehatan masih menjadi salah satu destinasi favorit para lulusan SMA/SMK. Kondisi ini berimplikasi pada; mahalnya biaya pendidikan kesehatan dengan perincian irasional, otorisasi sistim pendidikan, sampai pembukaan kelas parallel-jarak jauh dengan mempersetankan status maupun stamina demi kualitas lulusan. Kondisi NTT yang selalu dikatakan kekurangan tenaga kesehatan menjadi ‘tameng’ pihak penyelenggara pendidikan tenaga kesehatan melebarkan sayap ‘malaikatnya’ hingga ke daerah-daerah.
Mencuatnya permasalahan Stikes Surabaya Multikelas-Kupang menjadi titik balik yang sekaligus membuka paksa tameng pada wajah ‘mulia’ pendidikan tenaga kesehatan kita. Sebelum jawaban pasti atas pertanyaan para mahasiswa Stikes Surabaya Multikelas-Kupang perihal status kampus mereka, maka keberadaan Stikes Surabaya Multikelas-Kupang adalah illegal. Ini mengacu Prof.Dr. I Gusti Bagus Arjana, Pembantu Rektor Bidang Akademik Universitas Nusa Cendana bahwa sesuai aturan, semua Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia dilarang untuk menyelenggarakan kelas jauh kecuali Universitas Terbuka (UT) atau PT yang diberi tugas. Karena nomenklaturnya disebutkan kelas jauh, sehingga ada PT yang menamakan multikelas, kelas parallel dan sebutan lainya. Namun prakteknya tetap sama sehingga tidak dibenarkan. ( Timex, 15/07/2009).
Lepas dari kisruh status Stikes Surabaya Multikelas-Kupang, hal esensial yang mesti menjadi perhatian adalah kelayakan berdirinya sebuah lembaga pendidikan tenaga kesehatan. Hal yang dimaksud adalah sarana dan prasarana yang menjadi élan vital sebuah lembaga pendidikan tenaga kesehatan, seperti tenaga pendidik dan sarana vital serta penunjang lainya. Fenomena dosen terbang yang kini trend di hampir semua lembaga pendidikan tenaga kesehatan di NTT adalah sebuah gambaran ketidaklayakan. Bagaimana dosen bisa memberi kuliah dalam stamina tubuh dan otak yang letih-lesuh-lelah akibat mabuk perjalanan? Kemudian tidak ada termin tanya-jawab karena dosenya ‘kejar jam tayang’. Mahasiswa silahkan belajar sendiri sambil berdiri sampai mandiri, nanti juga pintar sendiri, ujian? asal tahu diri, lulus asal fulus.
Padahal, perguruan tinggi merupakan suatu institusi industri yang memproduksi berbagai jasa pendidikan. Jasa tersebut antara lain; kegiatan pembelajaran atau perkuliahan dan administrasi yang dapat dimanfaatkan oleh pelanggan (mahasiswa). Proses pembelajaran adalah suatu proses yang dijalani pelanggan untuk mengubah perilaku dalam proses menjadi. Melalui proses ini pelanggan akan keluar sebagai lulusan, selanjutnya akan dipaki oleh masyarakat dalam dunia kerja. Dalam suatu perguruan tinggi, pengguna jasa pendidikan dibagi menjadi internal dan eksternal. Internal antara lain; dosen, tenaga administrasi dan tenaga tehnis lainya. Sedangkan eksternal antara lain; mahasiswa, orangtua, pemerintah daerah, sponsor dll. Mutu dapat meningkat jika proses pembelajaran sesuai standard dan sesuai kebutuhan mahasiswa sebagai pelanggan. Untuk mendapatkan pembelajaran yang bermutu diperlukan pola manajemen lembaga perguruan tinggi yang berorientasi pada kebutuhan pasar tenaga kerja. Dengan demikian akan meminimalisir kesenjangan antara perguruan tinggi dan dunia industri (Sabina Gero, sesuai Pulungan 2001, Jurnal Info Kesehatan).
Dalam kaitan stamina prima demi lulusan yang berkualitas, status sebuah lembaga pendidikan tenaga kesehatan tidak saja sebatas pada akte, surat ijin atau surat keputusan pejabat negara yang mungkin tanpa verifikasi terhadap proposal penyelenggara. Status (kelayakan) berdiri dan beroperasinya sebuah lembaga pendidikan tenaga kesehatan tidak saja menjamin legalitas lulusan tapi juga kualitas. Dengan demikian unsur internal maupun eksternal sebuah perguruan tinggi mesti menjadi jaminan status baik defacto maupun dejure.
Aksi demo para mahasiswa Stikes Surabaya Multikelas-Kupang yang menghawatirkan legalitas kelulusan mereka kelak adalah langkah terlambat, tetapi jauh lebih terlambat jika hingga hari ini kita tidak melakukan ‘aksi demo’ menghawatirkan kualitas output dari lembaga pendidikan tenaga kesehatan lain yang setali tiga uang dengan Stikes Surabaya Multikelas-Kupang dalam konteks kelayakan.
Layak-tidak layak, dilayakan saja demi standarisasi pelayanan kesehatan bukanlah solusi sehat untuk keluar dari kompleksitas masalah kesehatan di daerah ini. Karena tenaga kesehatan sebagai ujung tombak pembangunan di bidang kesehatan mesti lahir dari rahim almamater yang layak melahirkan, bukan diaborsi dengan indikasi kepayahan stamina sang ibu. Walau tak bisa dinafikan kontribusi lembaga pendidikan tenaga kesehatan di NTT yang dalam segala keterbatasan telah menghasilkan ribuan tenaga kesehatan (nakes), tetapi pelebaran sayap demi target ratio nakes ; jumlah penduduk yang proporsional dengan mempersetankan status dan stamina akan memperburuk keadaan yang mestinya dipertahankan (maintenance).
Mengutip tulisan adik Vinsen Making (Timex, 21/07/2009) bahwa besarnya harapan dalam langkah kecil konvoi para mahasiswa Stikes Surabaya Multikelas-Kupang menjemput kepastian masa depan mereka yang ditipkan orangtua dan keluarga yang dengan susah payah membiayai mahalnya kuliah mesti didengar dalam dua penggal jeritan hati. Pertama, kepastian status demi terwujudnya cita-cita mereka, harapan orangtua, keluarga dan masyarakat. Kedua, biaya yang ala mak mahal tersebut mesti diimbangi dengan kelayakan proses kuliah berupa servis memuaskan dari provider pada pelanggan.
Keseluruhan tahapan pembentukan seorang nakes, dari input-process-output adalah satu paket pembuatan produk yang akan dijual kepada pelanggan jasa pelayanan kesehatan dimanapun. Dengan mengesampingkan satu diantaranya akan berdampak pada kualitas pelayanan kesehatan yang bermuara pada genangan ketidakpuasan pelanggan. Ibarat sebuah provider selular, casing mentereng – synyal lemah,, mana puas mas,,? **
Kamis, 14 April 2011
Menanti Ajal
Menanti Ajal
(Derita Pasien Miskin Di Rumah Sakit Kaya)
Oleh: Sirilus Selaka.
Timor Express, 15 Juli 2008
SETIAP perubahan selalu ada konsekuensinya. Sekalipun perubahan itu bertujuan memperbaiki.seperti konversi minyak tanah ke gas yang bertujuan penghematan mengundang kontroversi dan memakan korban jiwa.
Peralihan program nasional berupa subsidi pemerintah melalui Depkes untuk mewujutkan pelayanan kesehatan yang menyeluruh bagi masyarakat miskin dari askeskin ke jamkesmas baru – baru ini juga”memekan korban”. Konflikpun tak terhindarkan antara pasien peserta transisi dengan pihak rumah sakit, yang dalam hal ini memperlakukan status pasien sesuai data dari Pemkab/Pemkot dalam bentuk dokumen elektronik. Sebelum kartu Jamkesmas diterbitkan dan didistribusikan oleh PT.Askes yang juga berdasarkan data dari Pemkab/Pemkot,maka peserta yang datang ke rumah sakit berbekal kartu Jaring Pengaman Sosial{JPS}atau Askeskin harus disingkirkan dulu status kemiskinannya.Apabila namanya tidak tertera dalam dokumen maka akan diperlakukan sebagai pasien umum.
Seperti kasus menimpa pasien tumor kandungan, sesuai pemberitaan Timex tanggal 12 Juli 2008 lalu. Pasien ini tidak dapat dilayani gratis karena tak mengantongi kartu Jamkesmas,hanya memegang kartu Jaring Pengaman Sosial {JPS}.
Beberapa pasien pemegang kartu JPS,Askeskin maupun yamg merasa tidak mampu, kemudian mengurus Surat Keterangan Tidak Mampu {SKTM}dan tetap ditolak, harus mendatangi kantor Bupati atau Walikota untuk meminta pertolongan. Mereka didorong oleh keinginan yang kuat untuk sembuh dan sehat, ditambah ketidakmampuan menjangkau biaya pengobatan yang aduhai mahal, juga ‘cemburu’ pada tetangga yang dijamin pemerintah. Dan bila tidak berhasil juga, maka pasien dengan penyakit yang harus membutuhkan tindakan dan obat yamg harganya jutaan rupiah, yang bagi beberapa saudara kita selama hidupnya tidak pernah menggenggam uang sebanyak itu harus pasrah ‘menanti ajal’.
Ajal ko dinanti?
Bukankah seharusnya dihindari atau dilawan? Alih –alih menanti, beberapa orang menjemputnya untuk mengakhiri penantian, sebagai bentuk ketidakmampuan menghindar dan ketidakberdayaan melawan ajal. Apakah itu pilihan? Kaca mata iman dan hukum tentu menjawab tidak. Tetapi pengalaman membuktikan bahwa kehidupan telah menyediakan alternatif ini untuk dipilh.
Saat seseorang menderita penyakit yang menurutnya tidah ada harapan sembuh bila tidak punya biaya, maka tak banyak yang bisa dilakukan selain pasrah menanti ajal, sambil mengharapkan keajaiban dari Sang Tabib Ilahi, sumber segala kesembuhan. Keajaiban itu sering menyata dalam bentuk;dompet amal, tali kasih, operasi gratis,rumah sakit terapung dan bantuan –bantuan lain yang biasa musiman
Setiap pasien mengharapkan yang terbaik dan merencanakan yang terburuk. Bila terburuk yang harus direncanakan, maka dia perlu mempersiapkan atau dipersiapkan sebaik mungkin sebelum ajalnya datang. Seorang imam, dalam renungan malam di salah satu stasiun TV meminta begini;’Ambil sehelai kertas, tuliskan nama-nama orang yang akan datang melayat bila anda meninggal dunia nanti. Bila kertas itu belum penuh, itu artinya anda belum siap untuk mati, karena anda kurang berbuat baik. Dan bila anda harus mengambil lagi sehelai kertas, maka anda fudah siap’. Ini jelas bukan suatu teori ilmu agama, tapi banyak orang mempraktekaya. Banyak yang membutuhkan berhelai-helai kertas untuk menulis lebih dari sekali nama orang yang tidak sanggup menulis separuh halaman karena tidak mengingat lagi atau karena memeang dia pelit. Tidak sedikit orang yamg mempersetankan penuh tidaknya lembaran itu, mereka percaya pada Sang Maha’Tahu telah mencatatnya dengan tinta emas.
Jika teori ini kita pakai untuk pendahulu-pendahulu Jamkesmas yang mati karena ‘penyakit’ sesuai diagnosa Menkes, yang adalah seorang dokter spesialis jantug bahwa;’ Bukan programnya yang jelek, tapi banyaknya jalur-jalur di Askeskin yang korup. Mulai pembuat surat pengantar miskin di RT\RW yang bisa digosok, hingga birokrasi di PT. Askes yang birokratis dan banyak pungutan.{Jawa Pos, 10 Juli 2008}.Maka berapa helai kertas yang harus ditulis dan tenda duka seluas berapa lapangan bola untuk menampung para pelayay.
Askaskin sudah menemui ajalnya. Walaupun tanah kuburannya belum kering, arwahnya masih gentayangan dan penasaran karena warisanya disengketakan orang, kita patut berterima kasih padanya karena sudah banyak membantu kaum miskin, juga kaya yang mengaku miskin untuk keluar dari penderitaan karena sakit.
Diagnosa {baca: warning}dari Menkes itu patut kita anggap sebagai surat wasiat ‘almarhum’ Askeskin untuk para stakeholder yang terlibat dalam program Jamkesmas, agar subsidi silang untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang menyeluruh bagi masyarakat miskin ini dikelola dengan: benar, menyeluruh {komprehensif},sesuai dengan standar pelayanan medik yang ‘cost efektif’, rasional, pelayanan terstruktur, berjenjang, portabilitas, transparan dan ankuntabel(Pedoman Pelaksanaan Jamkesmas 2008). Sehingga kelak bila Jamkesmas harus menemui ajalnya {diakhiri} maka tidak ada sengketa harta gono gini. Bersyukurlah kita yang masih diberi kesempatan ke dua untuk mengelola warisan dari Askeskin.
Rumah sakit yang kaya.
Jauh sebelum program –program bantuan untuk pasien miskin diluncurkan, RSU Kupag sudah mengamalkan Pancasila dan UUD 45 pasal 28 ayat {1},pasal 34 ayat {1}dan ayat {3}{yang menjadi landasan hukum Jamkesmas}sebagai rumah sakit pemerintah dengan salah satu fungsi sosialnya.. Bahkan sampai datangnya program bantuan pun, rumah sakit ini masih tetap berkorban. Banyak piutang tak tertagih harus dimaklumi karena situasi di RS yang tidak harus membayar di depan {pay forward}. Ini termasuk pasien-pasien yang terpaksa dicap gratis, kemudian tidak bisa diklaim pmebayaranya karena keabsahan kepesertaanya tidak memenuhi syarat. Contoh kasus Diana yang menderita seorang diri di RS sampai ajal menjemputnya tanpa seorangpun mengaku sebagai keluarga, sahabat atau sekedar kenalan. Siapa yang menebus obat tahan sakitnya, agar dia lebih tenang dalam menanti ajalnya?
Sekarang RS pemerintah yang hendak “diprivatisasi” menjadi Badan Layanan Umum {BLU}ini bisa bernapas legah karena Jamkesmas akan menjamin juga masyarakat miskin yang tidak mempunyai kartu identitas seperti; gelandangan, pengemis, anak terlantar yang karena sesuatu alas an tidak terdaftar dalam SK Bupati /Walikota, akan dikoordinasi oleh PT.Askes dengan Dinsos setempat untuk diberikan kartunya.
Belajar dari pengalam ini, maka wajar bila RS yang kaya ini nampak mulai “pelit” yang akhirnya menstigma dirinya di mata masyarakat dengan sebutan diskriminatif, birokratis, dll.
Jumlah sasaran peserta program Jamkesmas tahun 2008 sebanyak 19,1 juta Rumah Tangga miskin atau sekitar 76,4 juta jiwa bersumber dari data BPS tahun 2006 yang dijadikan dasar penetapan jumlah sasaran peserta secara Nasional oleh Menkes RI. Berdasarkan jumlah sasaran Nasional tersebut, Menkes membagi sasaran kuota Kabupaten/ Kota. Berdasarkan kuota ini, Bupati/ Walikota menetapkan peserta dalam satuan jiwa. Apabilah jumlah yang ditetapkan dengan SK ini melebihi dari jumlah kuota yang telah ditetapkan maka menjadi tanggung jawab Pemda setempat {Pedoman Pelaksanaan Jamkesmas 2008}. Sistim kuota ini baik untuk menghindari permitaan “jatah” lebih oleh daerah-daerah. Beruntunglah mereka yang miskin di bawah tahun 2006, dan bag yang jauh miskin di atas tahun 2006 harus berharap pada Pemda untuk dapat ditolong. Bila tidak, maka penyakit mereka yang butuh biaya mahal terpaksa pasrah menanti ajal.
Pengalaman ditolaknya SKTM dari RT/ RW sampai ditandatangani oleh Camat yang terjadi selama ini, tidak perlu terulang. Kita berharap, program ini benar-benar menolong mereka yang miskin, yang sering mengabaikan kesehatanya dengan berjemur panas di lading, berjalan menunduk di lumpur sawah demi nasi yang tersaji di meja makan kita. Mereka yang putus otot lenganya mendayung perahu yang kehabisan solar demi lezatnya ikan bakar. Mereka yang patah tulang rusuknya, terjatuh dari rangka bangunan, bertingkat full AC yang “hot and cool”. Mereka yang,,, ah, harus berapa helai kertas lagi..?
Bagi mereka, kesehatan mungkin tidak lebih penting dari perut, tapi sakit ternyata lebih mahal dari nyawa sekalipun…….
(Derita Pasien Miskin Di Rumah Sakit Kaya)
Oleh: Sirilus Selaka.
Timor Express, 15 Juli 2008
SETIAP perubahan selalu ada konsekuensinya. Sekalipun perubahan itu bertujuan memperbaiki.seperti konversi minyak tanah ke gas yang bertujuan penghematan mengundang kontroversi dan memakan korban jiwa.
Peralihan program nasional berupa subsidi pemerintah melalui Depkes untuk mewujutkan pelayanan kesehatan yang menyeluruh bagi masyarakat miskin dari askeskin ke jamkesmas baru – baru ini juga”memekan korban”. Konflikpun tak terhindarkan antara pasien peserta transisi dengan pihak rumah sakit, yang dalam hal ini memperlakukan status pasien sesuai data dari Pemkab/Pemkot dalam bentuk dokumen elektronik. Sebelum kartu Jamkesmas diterbitkan dan didistribusikan oleh PT.Askes yang juga berdasarkan data dari Pemkab/Pemkot,maka peserta yang datang ke rumah sakit berbekal kartu Jaring Pengaman Sosial{JPS}atau Askeskin harus disingkirkan dulu status kemiskinannya.Apabila namanya tidak tertera dalam dokumen maka akan diperlakukan sebagai pasien umum.
Seperti kasus menimpa pasien tumor kandungan, sesuai pemberitaan Timex tanggal 12 Juli 2008 lalu. Pasien ini tidak dapat dilayani gratis karena tak mengantongi kartu Jamkesmas,hanya memegang kartu Jaring Pengaman Sosial {JPS}.
Beberapa pasien pemegang kartu JPS,Askeskin maupun yamg merasa tidak mampu, kemudian mengurus Surat Keterangan Tidak Mampu {SKTM}dan tetap ditolak, harus mendatangi kantor Bupati atau Walikota untuk meminta pertolongan. Mereka didorong oleh keinginan yang kuat untuk sembuh dan sehat, ditambah ketidakmampuan menjangkau biaya pengobatan yang aduhai mahal, juga ‘cemburu’ pada tetangga yang dijamin pemerintah. Dan bila tidak berhasil juga, maka pasien dengan penyakit yang harus membutuhkan tindakan dan obat yamg harganya jutaan rupiah, yang bagi beberapa saudara kita selama hidupnya tidak pernah menggenggam uang sebanyak itu harus pasrah ‘menanti ajal’.
Ajal ko dinanti?
Bukankah seharusnya dihindari atau dilawan? Alih –alih menanti, beberapa orang menjemputnya untuk mengakhiri penantian, sebagai bentuk ketidakmampuan menghindar dan ketidakberdayaan melawan ajal. Apakah itu pilihan? Kaca mata iman dan hukum tentu menjawab tidak. Tetapi pengalaman membuktikan bahwa kehidupan telah menyediakan alternatif ini untuk dipilh.
Saat seseorang menderita penyakit yang menurutnya tidah ada harapan sembuh bila tidak punya biaya, maka tak banyak yang bisa dilakukan selain pasrah menanti ajal, sambil mengharapkan keajaiban dari Sang Tabib Ilahi, sumber segala kesembuhan. Keajaiban itu sering menyata dalam bentuk;dompet amal, tali kasih, operasi gratis,rumah sakit terapung dan bantuan –bantuan lain yang biasa musiman
Setiap pasien mengharapkan yang terbaik dan merencanakan yang terburuk. Bila terburuk yang harus direncanakan, maka dia perlu mempersiapkan atau dipersiapkan sebaik mungkin sebelum ajalnya datang. Seorang imam, dalam renungan malam di salah satu stasiun TV meminta begini;’Ambil sehelai kertas, tuliskan nama-nama orang yang akan datang melayat bila anda meninggal dunia nanti. Bila kertas itu belum penuh, itu artinya anda belum siap untuk mati, karena anda kurang berbuat baik. Dan bila anda harus mengambil lagi sehelai kertas, maka anda fudah siap’. Ini jelas bukan suatu teori ilmu agama, tapi banyak orang mempraktekaya. Banyak yang membutuhkan berhelai-helai kertas untuk menulis lebih dari sekali nama orang yang tidak sanggup menulis separuh halaman karena tidak mengingat lagi atau karena memeang dia pelit. Tidak sedikit orang yamg mempersetankan penuh tidaknya lembaran itu, mereka percaya pada Sang Maha’Tahu telah mencatatnya dengan tinta emas.
Jika teori ini kita pakai untuk pendahulu-pendahulu Jamkesmas yang mati karena ‘penyakit’ sesuai diagnosa Menkes, yang adalah seorang dokter spesialis jantug bahwa;’ Bukan programnya yang jelek, tapi banyaknya jalur-jalur di Askeskin yang korup. Mulai pembuat surat pengantar miskin di RT\RW yang bisa digosok, hingga birokrasi di PT. Askes yang birokratis dan banyak pungutan.{Jawa Pos, 10 Juli 2008}.Maka berapa helai kertas yang harus ditulis dan tenda duka seluas berapa lapangan bola untuk menampung para pelayay.
Askaskin sudah menemui ajalnya. Walaupun tanah kuburannya belum kering, arwahnya masih gentayangan dan penasaran karena warisanya disengketakan orang, kita patut berterima kasih padanya karena sudah banyak membantu kaum miskin, juga kaya yang mengaku miskin untuk keluar dari penderitaan karena sakit.
Diagnosa {baca: warning}dari Menkes itu patut kita anggap sebagai surat wasiat ‘almarhum’ Askeskin untuk para stakeholder yang terlibat dalam program Jamkesmas, agar subsidi silang untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang menyeluruh bagi masyarakat miskin ini dikelola dengan: benar, menyeluruh {komprehensif},sesuai dengan standar pelayanan medik yang ‘cost efektif’, rasional, pelayanan terstruktur, berjenjang, portabilitas, transparan dan ankuntabel(Pedoman Pelaksanaan Jamkesmas 2008). Sehingga kelak bila Jamkesmas harus menemui ajalnya {diakhiri} maka tidak ada sengketa harta gono gini. Bersyukurlah kita yang masih diberi kesempatan ke dua untuk mengelola warisan dari Askeskin.
Rumah sakit yang kaya.
Jauh sebelum program –program bantuan untuk pasien miskin diluncurkan, RSU Kupag sudah mengamalkan Pancasila dan UUD 45 pasal 28 ayat {1},pasal 34 ayat {1}dan ayat {3}{yang menjadi landasan hukum Jamkesmas}sebagai rumah sakit pemerintah dengan salah satu fungsi sosialnya.. Bahkan sampai datangnya program bantuan pun, rumah sakit ini masih tetap berkorban. Banyak piutang tak tertagih harus dimaklumi karena situasi di RS yang tidak harus membayar di depan {pay forward}. Ini termasuk pasien-pasien yang terpaksa dicap gratis, kemudian tidak bisa diklaim pmebayaranya karena keabsahan kepesertaanya tidak memenuhi syarat. Contoh kasus Diana yang menderita seorang diri di RS sampai ajal menjemputnya tanpa seorangpun mengaku sebagai keluarga, sahabat atau sekedar kenalan. Siapa yang menebus obat tahan sakitnya, agar dia lebih tenang dalam menanti ajalnya?
Sekarang RS pemerintah yang hendak “diprivatisasi” menjadi Badan Layanan Umum {BLU}ini bisa bernapas legah karena Jamkesmas akan menjamin juga masyarakat miskin yang tidak mempunyai kartu identitas seperti; gelandangan, pengemis, anak terlantar yang karena sesuatu alas an tidak terdaftar dalam SK Bupati /Walikota, akan dikoordinasi oleh PT.Askes dengan Dinsos setempat untuk diberikan kartunya.
Belajar dari pengalam ini, maka wajar bila RS yang kaya ini nampak mulai “pelit” yang akhirnya menstigma dirinya di mata masyarakat dengan sebutan diskriminatif, birokratis, dll.
Jumlah sasaran peserta program Jamkesmas tahun 2008 sebanyak 19,1 juta Rumah Tangga miskin atau sekitar 76,4 juta jiwa bersumber dari data BPS tahun 2006 yang dijadikan dasar penetapan jumlah sasaran peserta secara Nasional oleh Menkes RI. Berdasarkan jumlah sasaran Nasional tersebut, Menkes membagi sasaran kuota Kabupaten/ Kota. Berdasarkan kuota ini, Bupati/ Walikota menetapkan peserta dalam satuan jiwa. Apabilah jumlah yang ditetapkan dengan SK ini melebihi dari jumlah kuota yang telah ditetapkan maka menjadi tanggung jawab Pemda setempat {Pedoman Pelaksanaan Jamkesmas 2008}. Sistim kuota ini baik untuk menghindari permitaan “jatah” lebih oleh daerah-daerah. Beruntunglah mereka yang miskin di bawah tahun 2006, dan bag yang jauh miskin di atas tahun 2006 harus berharap pada Pemda untuk dapat ditolong. Bila tidak, maka penyakit mereka yang butuh biaya mahal terpaksa pasrah menanti ajal.
Pengalaman ditolaknya SKTM dari RT/ RW sampai ditandatangani oleh Camat yang terjadi selama ini, tidak perlu terulang. Kita berharap, program ini benar-benar menolong mereka yang miskin, yang sering mengabaikan kesehatanya dengan berjemur panas di lading, berjalan menunduk di lumpur sawah demi nasi yang tersaji di meja makan kita. Mereka yang putus otot lenganya mendayung perahu yang kehabisan solar demi lezatnya ikan bakar. Mereka yang patah tulang rusuknya, terjatuh dari rangka bangunan, bertingkat full AC yang “hot and cool”. Mereka yang,,, ah, harus berapa helai kertas lagi..?
Bagi mereka, kesehatan mungkin tidak lebih penting dari perut, tapi sakit ternyata lebih mahal dari nyawa sekalipun…….
Sabtu, 09 April 2011
Sekedar Membagi: Berburu Rente
Sekedar Membagi: Berburu Rente: "Berburu Rente di Rumah Sakit Oleh; Sirilus Selaka Dipublikasikan oleh Timor Express, 30 September 2010 SEKILAS, judul ini klise karena ru..."
Dokter Juga Manusia
Timor Express, 19 Sep 2008, | 484
Dokter Juga Manusia
(Sisi Lain dari Tulisan dr. Samson Ehe Teron)
Oleh: Sirilus Selaka *)
ADA semacam keraguan menghampiri ketika hendak membuat tulisan ini. Betapa tidak, kesadaran diri sebagai seorang ’pembantu’ dokter berani benar ikut campur urusan dokter yang nota bene beda ’kasta’, atasan, junjungan.ADA semacam keraguan menghampiri ketika hendak membuat tulisan ini. Betapa tidak, kesadaran diri sebagai seorang ’pembantu’ dokter berani benar ikut campur urusan dokter yang nota bene beda ’kasta’, atasan, junjungan dan tempat bertanya juga berlindung. ”Lalu mengapa anda terus saja menulis”? Satu suara ’aneh’ menghardiku. Saat menoleh ke arah sumber suara itu, hanya jam dinding yang setia berdetak, jarum panjang menutup yang pendek dan menunjuk angka duabelas, saat dimana sang waktu berganti, bumi semakin tua, usia sumpah Hippocrates semakin jauh berjalan mengiring langkah para dokter di rumah sakit, puskesmas, tempat praktek, lokasi bencana, ruang kuliah dan di tempat manapun.
Kelancangan ini didorong oleh keinginan untuk ’menjawab’ pertanyaan dr, Samson Ehe Teron dalam tulisanya; Memaknai Sumpah Hippocrates Yang Diperbaharui. (secara refleksi menyongsong pendidikan dokter Undana) yang dipublikasikan di harian Timex edisi 10 September 2008. Karena, bagaimanapun seorang dokter dalam menjalankan tugas profesionalnya tidak bekerja sendiri, dengan demikian apapun konsekuensi dari sebuah tindakan kolaboratif terhadap pasien menjadi tanggungjawab bersama profesi lain yang terkait, baik secara moral maupun formal normatif.
Bahwa roda operasional sebuah rumah sakit melibatkan 260 jenis pekejaan. Sehingga dikotomi medis-non medis atau mengkotak-kotak diri sesuai warna baju yang berimbas pada penuntutan hak, hanya mengurangi nilai kolektifitas, mempertebal ego, superioritas dan exlusivitas.
Pertanyaan yang dilontarkan dr, Samson bahwa; Apakah organisasi profesi Ikatan Dokter Indonesia, Ikatan Farmasi Indonesia dan Ikatan profesi lain yang terkait mempunyai keberpihakan pada penderita dan keluarganya dan selalu memberikan pencerahan kepada anggotanya untuk secara terus menerus menjalani etika profesinya secara tulus? Dengan hati bening kita harus mengakui bahwa, pertanyaan tersebut merupakan representasi sekian banyak tanda tanya yang bercokol di benak kita selama ini.
Pertanyaan mantan ketua IDI Kupang itu didasari oleh fakta miris, dimana globalisasi bisnis bidang kedokteran terutama bisnis di bidang pengelolaan rumah sakit telah banyak mencedrai makna sumpah Hippocrates yang sangat menjunjung tinggi nilai luhur etika kedokteran dan kemanusiaan.
Walau ’diagnosis’ dr. Samson hanya ditujukan pada sebagian dokter yang cenderung menulis resep obat paten karena ada pesanan sponsor, padahalnya mereka sadar bahwa obat generik tersedia dan berkasiat sama, bahkan lagi kecenderungan melakukan permintaan pemeriksaan penunjang laboratorium dan rontgen berbasis bonus dan jauh dari rasionalitas dan etika kedokteran tidak bisa dipungkiri... Tapi kenyataanya bahwa dampak dari ’kartelisasi’ tersebut tidak saja mengorbankan sebagian pasien (kaya), tapi sesama teman sejawat merekapun jadi korban.
Pengalaman pahit dr. Samson yang low profile itu kemudian menimbulkan pertanyaan lagi; Masih adakah nilai kesejawatan sebagai cermin dari salah satu sumpah dokter yang menghendaki perlakuan kepada sejawat sebagai saudara kandung, apalagi mungkin dokter tersebut lebih senior dan mungkin sebagai guru kita yang dalam sumpah dokter juga menghendaki kita memberikan penghargaan yang sepantasnya?
Terlepas dari pertanyaan itu bertendensi ’menyerang’ personal atau tidak, benak kita tentu dihinggapi pertanyaan menakutkan; ”Kalau terhadap saudara kandung mereka saja sedemikian tega, bagaimana nasib kita yang hanya karena sama-sama bernama manusia”? Ketakutan itu ternyata sudah sekian lama menghantui kesehatan lahir, batin dan finansial banyak orang, dimana jeritan pilu tak terdengar membahana di depan kasir apotek ’pesanan’ dengan harga selangit yang tak bisa ditawar apalagi minta ditukar dengan yang lebih murah lantaran instruksi dilarang mengganti nama obat tanpa sepengetahuan dokter. Belum lagi jawaban; Tidak ada persediaan atau obat ini tidak masuk daftar gratis dan harus beli di sini atau cari di sana.
Inilah yang ’didiagnosis’ oleh Ario Djatmiko sebagai; Mc Donaldisasi Rumah Sakit, dimana, anggota Litbang IDI Jatim itu menulis; ”Saat anda tergolek tak berdaya, anda tak tahu lagi tangan yang menyentuh anda itu tulus menolong atau tangan bisnis yang melihat anda sebagai peluang empuk untuk meraup untung sebesar-besarnya. Jelas rumah sakit itu industri jasa. Dapat berwatak mulia atau sebaliknya sangat keji” (Jawa Pos, 25 Juli 2007)
RSU Kupang memang bukan restaurant Mc Donald yang siap saji sesuai pesanan, tapi merupakan rumah penuh kuman yang memakan (menyerap) 75,6% APBD kesehatan provinsi NTT. Siapapun yang menjual jasa di sana demi manusia dan kemanusiaan sepatutnya berperikemanusiaan, lingkungan dan sarana kesehatan (sarkes) kudu ’steril’ dari kontaminasi opportunity desease yang lazim menyerang mereka ketika imunitasnya rendah.
RUU RS haruslah pro-kemanusiaan yang akan tertuang dalam Perda/tarif yang tidak mencekik hingga sianosis. Wacana Menkes untuk memberi label plafon harga obat harusnya direalisasikan ditengah menjamurnya apotek dan bisnis obat palsu maupun legal yang serba kartel (persekongkolan harga)..
Membongkar kartel farmasi
Adalah menteri keuangan RI Sri Mulyani Indrawati yang pernah membongkar kartel farmasi dengan pernyataanya; ”Industri pabrik obat memang membentuk kartel, dan dokter bagian dari kartel. Kartel tersebut telah mengambil keuntungan terlalu besar. Mereka telah menghisap, karena rent itu menyedot habis. Itu menjadi profit perusahaan obat, dibagi dengan dokter, baik dengan mentraktir pergi seminar, mobil dan lainsebagainya. Kartel farmasi mesti dibongkar agar harga obat bisa menjangkau masyarakat miskin” (sesuai berita Jawa Pos)
Terhadap pernyataan ini, menkes Siti Fadila Supari berang dan menetapkan Formularium Rumah Sakit Askeskin yang diberlakukan sejak Januari 2007 lalu. SK menkes NO 417/MENKES/SK/IV/2007 itu pada awalnya memang membantu. Tapi persoalan baru muncul berupa hilangnya beberapa jenis obat penting dari peredaran. Dokter Asep Purnama, Sp.PD, direktur RSUD dr. TC. Hillers-Maumere mendeskripsikan perjalanana Formularium RS Askeskin tersebut sampai dengan ketidakjujuran para pedagang besar farmasi (PBF) yang mengatakan tidak sanggup ’mengamankan instruksi’ menkes dengan dalih obat yang dipesan lagi kosong.
Opini dr. Asep yang dipublikasikan di Harian Pos Kupang 18 Januari 2008 itu menyiratkan dilema para direktur RS dimana; mau konsisten dengan harga obat yang dipatok oleh menkes tapi tidak ada persediaan (TAP) atau membeli sesuai harga pasaran dengan resiko ’didiagnosis’ melakukan mark up? Untuk itu pula, menkes kemudian mengeluarkan sekali lagi peraturan tentang harga obat generik bernama dagang dengan harga maksimal 3x lipat harga obat generik.
Tapi mengapa masalah tak juga teratasi hingga kini? Ironis memang, komedian Pepeng yang menderita penyakit ’aneh’ bernama multisklerosis hanya pasrah menanti keajaiban bertahun-tahun lantaran belum ada obat untuk penyakit ’aneh’ itu, tapi banyak pasien miskin yang menderita penyakit konvensional juga pasrah sampai mati karena ketiadaan (ditiadakan) obat yang ditumpuk sampai kadaluarsa.
Sunguh teganya- teganya- teganya, kata Megy Z yang memilih; lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Bagi penggemar drama Mandarin tentu akrab dengan ucapan tokoh Janggem bahwa; ”Bukan tabib yang menyembuhkan, melainkan pasien sendiri”. Ya, tabib itu hanya mengarahkan, pasien silahkan cari sendiri kemana obat, berapa harga dan bagaimana menebusnya hanya pasien yang tahu sendiri.
Rasanya, tak ada jawaban yang terlalu pasti terhadap pertanyaan reflektif dr. Samson tersebut, selain kita harus mengakui bahwa fenomena ini sebagai syndrom metamorfosis sumpah Hippocrates yang demi kemanusiaan itu menjadi kian menipis.
Tentang pertanyaan; Masih adakah nilai kesejawatan,,,? kita tentu berharap, selalu ada nilai dari setiap titik nila yang merusak susu sebelanga. Berharap bersama pernyataan Rektor Undana Prof. Ir. Frans Umbu Datta, M.App.Sc.Ph.D yang memprioritaskan putra-putri ’asli’ daerah untuk dikuliahkan (dididik kognisi, afeksi dan psikomotor) melalui seleksi masuk yang obyektif, sehingga kelak terlahir sebagai dokter yang menguratnadikan sumpah Hippocrates ke alam bawah sadarnya dan menggema di setiap ruang pelayanan medik dan setiap saat menjaga keluhuran martabat profesi dokter, sesuai harapan dr. Samson dan tentunya harapan kita semua.
Pencerahan dari wadah organisasi profesi seperti yang diharapkan dr. Samson juga, sebaiknya jangan hanya bernuansa bagaimana menangkap peluang (berupa tingginya angka kesakitan misalnya) menjadi uang (busines orientet) semata, karena RS juga punya fungsi sosial. Walau berat, kita harus bergandengan tangan, meraup puing-puing nilai ritus dan sakral sumpah Hippocrates dan juga sumpah profesi masing-masing kita yang luluh-lantah akibat pergeseran nilai (value)
”Oh baby”,,,Cinta Laura masih terus mendesah telor. Sudah jam tiga pagi, suara ’aneh’ itu datang lagi. Kali ini suaranya agak serak mirip pasien batuk pilek. Dengan nada sedih berucap; ”Saya Juga Manusia”.
Oh, please, engkaukah itu Hippocrates? Berapa uang kuliah kedokteranmu dulu?
Siapapun engkau, tapi tolong ingatkan pada kami bahwa; ”Menerima upah dari pekerjaan yang tidak dilakukan, sama dengan menodongkan pistol ke kepala orang”.
Dokter Juga Manusia
(Sisi Lain dari Tulisan dr. Samson Ehe Teron)
Oleh: Sirilus Selaka *)
ADA semacam keraguan menghampiri ketika hendak membuat tulisan ini. Betapa tidak, kesadaran diri sebagai seorang ’pembantu’ dokter berani benar ikut campur urusan dokter yang nota bene beda ’kasta’, atasan, junjungan.ADA semacam keraguan menghampiri ketika hendak membuat tulisan ini. Betapa tidak, kesadaran diri sebagai seorang ’pembantu’ dokter berani benar ikut campur urusan dokter yang nota bene beda ’kasta’, atasan, junjungan dan tempat bertanya juga berlindung. ”Lalu mengapa anda terus saja menulis”? Satu suara ’aneh’ menghardiku. Saat menoleh ke arah sumber suara itu, hanya jam dinding yang setia berdetak, jarum panjang menutup yang pendek dan menunjuk angka duabelas, saat dimana sang waktu berganti, bumi semakin tua, usia sumpah Hippocrates semakin jauh berjalan mengiring langkah para dokter di rumah sakit, puskesmas, tempat praktek, lokasi bencana, ruang kuliah dan di tempat manapun.
Kelancangan ini didorong oleh keinginan untuk ’menjawab’ pertanyaan dr, Samson Ehe Teron dalam tulisanya; Memaknai Sumpah Hippocrates Yang Diperbaharui. (secara refleksi menyongsong pendidikan dokter Undana) yang dipublikasikan di harian Timex edisi 10 September 2008. Karena, bagaimanapun seorang dokter dalam menjalankan tugas profesionalnya tidak bekerja sendiri, dengan demikian apapun konsekuensi dari sebuah tindakan kolaboratif terhadap pasien menjadi tanggungjawab bersama profesi lain yang terkait, baik secara moral maupun formal normatif.
Bahwa roda operasional sebuah rumah sakit melibatkan 260 jenis pekejaan. Sehingga dikotomi medis-non medis atau mengkotak-kotak diri sesuai warna baju yang berimbas pada penuntutan hak, hanya mengurangi nilai kolektifitas, mempertebal ego, superioritas dan exlusivitas.
Pertanyaan yang dilontarkan dr, Samson bahwa; Apakah organisasi profesi Ikatan Dokter Indonesia, Ikatan Farmasi Indonesia dan Ikatan profesi lain yang terkait mempunyai keberpihakan pada penderita dan keluarganya dan selalu memberikan pencerahan kepada anggotanya untuk secara terus menerus menjalani etika profesinya secara tulus? Dengan hati bening kita harus mengakui bahwa, pertanyaan tersebut merupakan representasi sekian banyak tanda tanya yang bercokol di benak kita selama ini.
Pertanyaan mantan ketua IDI Kupang itu didasari oleh fakta miris, dimana globalisasi bisnis bidang kedokteran terutama bisnis di bidang pengelolaan rumah sakit telah banyak mencedrai makna sumpah Hippocrates yang sangat menjunjung tinggi nilai luhur etika kedokteran dan kemanusiaan.
Walau ’diagnosis’ dr. Samson hanya ditujukan pada sebagian dokter yang cenderung menulis resep obat paten karena ada pesanan sponsor, padahalnya mereka sadar bahwa obat generik tersedia dan berkasiat sama, bahkan lagi kecenderungan melakukan permintaan pemeriksaan penunjang laboratorium dan rontgen berbasis bonus dan jauh dari rasionalitas dan etika kedokteran tidak bisa dipungkiri... Tapi kenyataanya bahwa dampak dari ’kartelisasi’ tersebut tidak saja mengorbankan sebagian pasien (kaya), tapi sesama teman sejawat merekapun jadi korban.
Pengalaman pahit dr. Samson yang low profile itu kemudian menimbulkan pertanyaan lagi; Masih adakah nilai kesejawatan sebagai cermin dari salah satu sumpah dokter yang menghendaki perlakuan kepada sejawat sebagai saudara kandung, apalagi mungkin dokter tersebut lebih senior dan mungkin sebagai guru kita yang dalam sumpah dokter juga menghendaki kita memberikan penghargaan yang sepantasnya?
Terlepas dari pertanyaan itu bertendensi ’menyerang’ personal atau tidak, benak kita tentu dihinggapi pertanyaan menakutkan; ”Kalau terhadap saudara kandung mereka saja sedemikian tega, bagaimana nasib kita yang hanya karena sama-sama bernama manusia”? Ketakutan itu ternyata sudah sekian lama menghantui kesehatan lahir, batin dan finansial banyak orang, dimana jeritan pilu tak terdengar membahana di depan kasir apotek ’pesanan’ dengan harga selangit yang tak bisa ditawar apalagi minta ditukar dengan yang lebih murah lantaran instruksi dilarang mengganti nama obat tanpa sepengetahuan dokter. Belum lagi jawaban; Tidak ada persediaan atau obat ini tidak masuk daftar gratis dan harus beli di sini atau cari di sana.
Inilah yang ’didiagnosis’ oleh Ario Djatmiko sebagai; Mc Donaldisasi Rumah Sakit, dimana, anggota Litbang IDI Jatim itu menulis; ”Saat anda tergolek tak berdaya, anda tak tahu lagi tangan yang menyentuh anda itu tulus menolong atau tangan bisnis yang melihat anda sebagai peluang empuk untuk meraup untung sebesar-besarnya. Jelas rumah sakit itu industri jasa. Dapat berwatak mulia atau sebaliknya sangat keji” (Jawa Pos, 25 Juli 2007)
RSU Kupang memang bukan restaurant Mc Donald yang siap saji sesuai pesanan, tapi merupakan rumah penuh kuman yang memakan (menyerap) 75,6% APBD kesehatan provinsi NTT. Siapapun yang menjual jasa di sana demi manusia dan kemanusiaan sepatutnya berperikemanusiaan, lingkungan dan sarana kesehatan (sarkes) kudu ’steril’ dari kontaminasi opportunity desease yang lazim menyerang mereka ketika imunitasnya rendah.
RUU RS haruslah pro-kemanusiaan yang akan tertuang dalam Perda/tarif yang tidak mencekik hingga sianosis. Wacana Menkes untuk memberi label plafon harga obat harusnya direalisasikan ditengah menjamurnya apotek dan bisnis obat palsu maupun legal yang serba kartel (persekongkolan harga)..
Membongkar kartel farmasi
Adalah menteri keuangan RI Sri Mulyani Indrawati yang pernah membongkar kartel farmasi dengan pernyataanya; ”Industri pabrik obat memang membentuk kartel, dan dokter bagian dari kartel. Kartel tersebut telah mengambil keuntungan terlalu besar. Mereka telah menghisap, karena rent itu menyedot habis. Itu menjadi profit perusahaan obat, dibagi dengan dokter, baik dengan mentraktir pergi seminar, mobil dan lainsebagainya. Kartel farmasi mesti dibongkar agar harga obat bisa menjangkau masyarakat miskin” (sesuai berita Jawa Pos)
Terhadap pernyataan ini, menkes Siti Fadila Supari berang dan menetapkan Formularium Rumah Sakit Askeskin yang diberlakukan sejak Januari 2007 lalu. SK menkes NO 417/MENKES/SK/IV/2007 itu pada awalnya memang membantu. Tapi persoalan baru muncul berupa hilangnya beberapa jenis obat penting dari peredaran. Dokter Asep Purnama, Sp.PD, direktur RSUD dr. TC. Hillers-Maumere mendeskripsikan perjalanana Formularium RS Askeskin tersebut sampai dengan ketidakjujuran para pedagang besar farmasi (PBF) yang mengatakan tidak sanggup ’mengamankan instruksi’ menkes dengan dalih obat yang dipesan lagi kosong.
Opini dr. Asep yang dipublikasikan di Harian Pos Kupang 18 Januari 2008 itu menyiratkan dilema para direktur RS dimana; mau konsisten dengan harga obat yang dipatok oleh menkes tapi tidak ada persediaan (TAP) atau membeli sesuai harga pasaran dengan resiko ’didiagnosis’ melakukan mark up? Untuk itu pula, menkes kemudian mengeluarkan sekali lagi peraturan tentang harga obat generik bernama dagang dengan harga maksimal 3x lipat harga obat generik.
Tapi mengapa masalah tak juga teratasi hingga kini? Ironis memang, komedian Pepeng yang menderita penyakit ’aneh’ bernama multisklerosis hanya pasrah menanti keajaiban bertahun-tahun lantaran belum ada obat untuk penyakit ’aneh’ itu, tapi banyak pasien miskin yang menderita penyakit konvensional juga pasrah sampai mati karena ketiadaan (ditiadakan) obat yang ditumpuk sampai kadaluarsa.
Sunguh teganya- teganya- teganya, kata Megy Z yang memilih; lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Bagi penggemar drama Mandarin tentu akrab dengan ucapan tokoh Janggem bahwa; ”Bukan tabib yang menyembuhkan, melainkan pasien sendiri”. Ya, tabib itu hanya mengarahkan, pasien silahkan cari sendiri kemana obat, berapa harga dan bagaimana menebusnya hanya pasien yang tahu sendiri.
Rasanya, tak ada jawaban yang terlalu pasti terhadap pertanyaan reflektif dr. Samson tersebut, selain kita harus mengakui bahwa fenomena ini sebagai syndrom metamorfosis sumpah Hippocrates yang demi kemanusiaan itu menjadi kian menipis.
Tentang pertanyaan; Masih adakah nilai kesejawatan,,,? kita tentu berharap, selalu ada nilai dari setiap titik nila yang merusak susu sebelanga. Berharap bersama pernyataan Rektor Undana Prof. Ir. Frans Umbu Datta, M.App.Sc.Ph.D yang memprioritaskan putra-putri ’asli’ daerah untuk dikuliahkan (dididik kognisi, afeksi dan psikomotor) melalui seleksi masuk yang obyektif, sehingga kelak terlahir sebagai dokter yang menguratnadikan sumpah Hippocrates ke alam bawah sadarnya dan menggema di setiap ruang pelayanan medik dan setiap saat menjaga keluhuran martabat profesi dokter, sesuai harapan dr. Samson dan tentunya harapan kita semua.
Pencerahan dari wadah organisasi profesi seperti yang diharapkan dr. Samson juga, sebaiknya jangan hanya bernuansa bagaimana menangkap peluang (berupa tingginya angka kesakitan misalnya) menjadi uang (busines orientet) semata, karena RS juga punya fungsi sosial. Walau berat, kita harus bergandengan tangan, meraup puing-puing nilai ritus dan sakral sumpah Hippocrates dan juga sumpah profesi masing-masing kita yang luluh-lantah akibat pergeseran nilai (value)
”Oh baby”,,,Cinta Laura masih terus mendesah telor. Sudah jam tiga pagi, suara ’aneh’ itu datang lagi. Kali ini suaranya agak serak mirip pasien batuk pilek. Dengan nada sedih berucap; ”Saya Juga Manusia”.
Oh, please, engkaukah itu Hippocrates? Berapa uang kuliah kedokteranmu dulu?
Siapapun engkau, tapi tolong ingatkan pada kami bahwa; ”Menerima upah dari pekerjaan yang tidak dilakukan, sama dengan menodongkan pistol ke kepala orang”.
Rabu, 06 April 2011
Berburu Rente
Berburu Rente di Rumah Sakit
Oleh; Sirilus Selaka
Dipublikasikan oleh Timor Express, 30 September 2010
SEKILAS, judul ini klise karena rumah sakit pemerintah merupakan sebuah entitas yang mesti menonjolkan fungsi sosial daripada fungsi ekonomi, apalagi politik. Visi-misinya jelas, mengacu pada kepuasan masyarakat sebagai pelanggan, bukan untuk menguntungkan segelintir karyawan dan kawan-kawanya. Tornquist yang dikutip Eric Hiariej (2005), mengkategorikan praktik perburuan rente menjadi penjarahan sumber daya milik negara untuk memperkaya diri sendiri serta rente atas administrasi dan asset-aset publik. Berdasarkan kategori ini, para pejabat yang terlibat dalam menumpuk rente bisa dibedakan menjadi koruptor, kapitalis politik rente dan kapitalis politik keuangan.
Ketika visi-misi mulia sebuah rumah sakit milik negara terbiasa dibiaskan dan dibiarkan, maka judul di atas merupakan fakta.! Fakata bahwa rumah sakit ini telah dijadikan semacam perusahan waralaba. Fakta inilah yang ‘didiagnosis’ oleh dr. Ario Djatmiko sebagai Mcdonaldisasi Rumah Sakit. Dalam kapasitas sebagai Anggota Litbang Ikatan Dokter Indonesia Jatim, dr. Ario menulis; “Ironis memang, saat Anda tergolek tak berdaya, Anda tidak tahu lagi tangan yang menyentuh Anda itu tulus menolong atau tangan bisnis yang melihat Anda sebagai peluang empuk untuk meraup untung sebesar-besarnya?”.
Adakah ini autokritik yang overdosis.atau stereotype mengingat profesi mulia semacam dokter, perawat dan paramedis lainya berpijak di atas nurani yang dikukuhkan dengan sumpah profesi.? Maybe yes. Tetapi dr. Ario says no to it dengan premis; “Berapa besar peran nurani dalam menentukan kualitas pelayanan saat penanganan medis telah menjadi begitu kompleks? Benar, sentuhan nurani itu mutlak. Tetapi jelas itu saja tidak cukup. Tidak bisa keselamatan pasien diserahkan pada landasan moral –nurani semata. Lebih dari itu, pengetahuan, keterampila dan kerja tim ikut menentukan kualitas pelayanan. Yang terpenting bagaimana memastikan produk medik itu sampai ke pasien dengan tepat, aman, efekif, efisien, dan nyaman. Jelas setiap tindakan pelaku medik termasuk dokter harus dinilai dan diawasi ketat. Disinilah sistem itu bekerja. Saat segala hal di muka bumi ini telah menjadi bisnis, masih mungkinkah kita bertanya tentang moral? Jelas rumah sakit itu industri jasa. Dapat berwatak mulia atau sebaliknya, sangat keji!”. ( Jawa Pos, 25/07/2007)
Dokter Tan Shot Yen yang aktif menulis bukan saja resep obat tapi juga artikel di berbagai media, mengutip tulisan yang sangat dihormatinya yang terpampang di aula besar FKUI beberapa puluh tahun lalu; “Menjadi dokter itu baik. Menjadi pedagang juga baik. Tetapi bila keduanya dicampuradukan, maka tidak baik sama sekali”. Dokter Tan juga mengajukan pertanyaan; Berapa banyak dokter masih menakuti pasien supaya hanya pendapat dokter tersebut yang perlu diikuti pasien? Lantas dokter tersebut berkiblat pada kepentingan siapa? Menjadi dokter, bisa menghasilkan nafkah yang baik, semua adalah ‘bonus’, dampak baik dari suatu perbuatan baik. Yang baik tentu bukan bonusnya, tapi perbuatan baik itu sendiri. Bagi dr. Tan, bonus tiap hari hadir dengan cara istimewa. Pasien saling menawarkan tumpangan pulang bagi pasien lain, pasien berbagi resep masakan sehat di ruang tunggu, pasien membelikan sekeranjang sayur segar bagi sanak keluarganya. Semua berkah indah yang menentramkan hati dokter. Tak terbayar uang.
Rentetan perburuan rente lain yang gencar belakangan ini adalah pembelotan para utusan rumah sakit usai menempuh pendidikan lanjutan yang dibiayai dari uang rakyat. Betapa, tinta ijasah belum juga kering, langsung ‘diculik’ perusahan waralaba lain semacam lembaga pendidikan kesehatan berstatus abu-abu, hidup enggan mati tak mau tetapi mahalnya ala mak. Konsekuensi dari pembelotan yang mesti dipertanggung-jawabkan secara moril maupun materil adalah, bahwa tujuan sebuah rumah sakit mengirim karyawanya untuk melanjutkan pendidikan adalah guna meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan pada masyarakat. Yang terjadi justeru sebaliknya. Ini akibat tugas pelayanan kesehatan terbengkalai karena sibuk nyambi sini, lembur sana.
Hal ini terjadi akibat kesalahan yang disengaja oleh para stakeholder dengan mengabaikan semacam MoU dalam investasi manusia ini. Ikatan dinas berikut item-itemnya mutlak diterapkan sebagai tali kekang pembelotan, sekaligus sebagai pelindung kaum intelek ini dari aksi penculikan. Selain itu, perlu adanya kesadaran dan tahu diri bahwa kami ini utusan yang dilepaspergikan untuk kembali mengabdi di sisni, bukan jadi Malin(g) Kundang moderen. Fenomena atau tepatnya noumena ini jelas mengindikasikan adanya metamorfosis profesi. Tak ubahnya kupu-kupu yang terbang kesana-sini dan lupa asal-usulnya akibat dimabuk manisnya saribunga.
The next hunter is, mereka yang ambil bagian dalam proyek ‘sunatan massal’ terhadap berbagai jenis penghasilan para karyawan rumah sakit atas nama pajak penghasilan (PPh 21). Menyitir Appolonaris Berkanis, bahwa salah satu penjelasan PPh 21 adalah; Pegawai Negara, Pegawai Negeri Sipil / PNS, anggota TNI Polri yang menerima honorarium serta bentuk imbalan lain yang berasal dari keuangan negara atau keuangan daerah, penghasilan dipotong PPh 21 sebesar 15% kecuali untuk golongan IId atau lebih rendah, TNI Polri pangkat Peltu ke bawah atau Ajun Insp. / Tingkat I ke bawah. Dalam penerapanya, PPh 21 tidak berlaku secara nasional. Beberapa daerah mengotonomikan keputusan Menteri Keuangan RI ini dengan penjelasan yang tidak dipahami oleh PNS yang disunat hasil keringatnya. Kami tidak mengerti, apakah ini akibat dari diberlakukanya undang-undang otonomi daerah atau disesuikan dengan PAD masing-masing daerah.
Kami juga tidak mengerti dengan penerapan PPh 21 ini di RSU Kupang, yang memperlihatkan perbedaan signifikan antara tenaga dokter dan tenaga non dokter, dimana bagi PNS golongan III non dokter dikenakan potongan pajak penghasilan sebesar 15%, sementara bagi tenaga dokter potongan sebesar 7,5% saja. Persoalan ini pernah disampaikan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) dalam audensi dengan DPRD NTT dam Asisten III Gubernur NTT pada peringatan hari Perawat Sedunia, 12 Mei 2008 lalu. Hasilnya, kami diminta menunggu. Dalam penantian panjang yang tiada pasti, kami tetap berharap agar segera dilakukan revisi terhadap kebijakan ini menjadi sebijaksana mungkin. Karena perlakuan diskriminatif yang akibatnya cukup mengganggu ini, seakan tidak pernah disadari oleh pihak manajemen sebagai suatu masalah yang ikut mempengaruhi banyaknya keluhan terhadap kualitas pelayanan publik. (Opini Timex).
Masih banyak pemburu rente bertopeng yang bergentayangan di belantara berkuman ini. Mulai dari pintu masuk, pelataran parkir hingga kamar jenasah yang mencatatkan sejarah ’mayat pulang jalan kaki’. RSU Kupang tetap menjadi lahan favorit para pemburu rente karena Anggaran Daerah untuk bidang kesehatan terbesaar dialokasikan di sini. Mereka kian geranjingan berburu, selain karena ketagihan lezatnya darah dan daging manusia, juga karena mendapat pasokan senapan dari tangan-tangan siluman (invisible hand) yang gelisah menunggu hasil tangkapan. Sorry to say buat yang kirim sms; sirik tanda tak mampu. Bukanya sirik tanda tak mampu, tetapi mengkritisi ketidakmampuan kita bersama dalam memajukan RSU tercinta ini. *
Oleh; Sirilus Selaka
Dipublikasikan oleh Timor Express, 30 September 2010
SEKILAS, judul ini klise karena rumah sakit pemerintah merupakan sebuah entitas yang mesti menonjolkan fungsi sosial daripada fungsi ekonomi, apalagi politik. Visi-misinya jelas, mengacu pada kepuasan masyarakat sebagai pelanggan, bukan untuk menguntungkan segelintir karyawan dan kawan-kawanya. Tornquist yang dikutip Eric Hiariej (2005), mengkategorikan praktik perburuan rente menjadi penjarahan sumber daya milik negara untuk memperkaya diri sendiri serta rente atas administrasi dan asset-aset publik. Berdasarkan kategori ini, para pejabat yang terlibat dalam menumpuk rente bisa dibedakan menjadi koruptor, kapitalis politik rente dan kapitalis politik keuangan.
Ketika visi-misi mulia sebuah rumah sakit milik negara terbiasa dibiaskan dan dibiarkan, maka judul di atas merupakan fakta.! Fakata bahwa rumah sakit ini telah dijadikan semacam perusahan waralaba. Fakta inilah yang ‘didiagnosis’ oleh dr. Ario Djatmiko sebagai Mcdonaldisasi Rumah Sakit. Dalam kapasitas sebagai Anggota Litbang Ikatan Dokter Indonesia Jatim, dr. Ario menulis; “Ironis memang, saat Anda tergolek tak berdaya, Anda tidak tahu lagi tangan yang menyentuh Anda itu tulus menolong atau tangan bisnis yang melihat Anda sebagai peluang empuk untuk meraup untung sebesar-besarnya?”.
Adakah ini autokritik yang overdosis.atau stereotype mengingat profesi mulia semacam dokter, perawat dan paramedis lainya berpijak di atas nurani yang dikukuhkan dengan sumpah profesi.? Maybe yes. Tetapi dr. Ario says no to it dengan premis; “Berapa besar peran nurani dalam menentukan kualitas pelayanan saat penanganan medis telah menjadi begitu kompleks? Benar, sentuhan nurani itu mutlak. Tetapi jelas itu saja tidak cukup. Tidak bisa keselamatan pasien diserahkan pada landasan moral –nurani semata. Lebih dari itu, pengetahuan, keterampila dan kerja tim ikut menentukan kualitas pelayanan. Yang terpenting bagaimana memastikan produk medik itu sampai ke pasien dengan tepat, aman, efekif, efisien, dan nyaman. Jelas setiap tindakan pelaku medik termasuk dokter harus dinilai dan diawasi ketat. Disinilah sistem itu bekerja. Saat segala hal di muka bumi ini telah menjadi bisnis, masih mungkinkah kita bertanya tentang moral? Jelas rumah sakit itu industri jasa. Dapat berwatak mulia atau sebaliknya, sangat keji!”. ( Jawa Pos, 25/07/2007)
Dokter Tan Shot Yen yang aktif menulis bukan saja resep obat tapi juga artikel di berbagai media, mengutip tulisan yang sangat dihormatinya yang terpampang di aula besar FKUI beberapa puluh tahun lalu; “Menjadi dokter itu baik. Menjadi pedagang juga baik. Tetapi bila keduanya dicampuradukan, maka tidak baik sama sekali”. Dokter Tan juga mengajukan pertanyaan; Berapa banyak dokter masih menakuti pasien supaya hanya pendapat dokter tersebut yang perlu diikuti pasien? Lantas dokter tersebut berkiblat pada kepentingan siapa? Menjadi dokter, bisa menghasilkan nafkah yang baik, semua adalah ‘bonus’, dampak baik dari suatu perbuatan baik. Yang baik tentu bukan bonusnya, tapi perbuatan baik itu sendiri. Bagi dr. Tan, bonus tiap hari hadir dengan cara istimewa. Pasien saling menawarkan tumpangan pulang bagi pasien lain, pasien berbagi resep masakan sehat di ruang tunggu, pasien membelikan sekeranjang sayur segar bagi sanak keluarganya. Semua berkah indah yang menentramkan hati dokter. Tak terbayar uang.
Rentetan perburuan rente lain yang gencar belakangan ini adalah pembelotan para utusan rumah sakit usai menempuh pendidikan lanjutan yang dibiayai dari uang rakyat. Betapa, tinta ijasah belum juga kering, langsung ‘diculik’ perusahan waralaba lain semacam lembaga pendidikan kesehatan berstatus abu-abu, hidup enggan mati tak mau tetapi mahalnya ala mak. Konsekuensi dari pembelotan yang mesti dipertanggung-jawabkan secara moril maupun materil adalah, bahwa tujuan sebuah rumah sakit mengirim karyawanya untuk melanjutkan pendidikan adalah guna meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan pada masyarakat. Yang terjadi justeru sebaliknya. Ini akibat tugas pelayanan kesehatan terbengkalai karena sibuk nyambi sini, lembur sana.
Hal ini terjadi akibat kesalahan yang disengaja oleh para stakeholder dengan mengabaikan semacam MoU dalam investasi manusia ini. Ikatan dinas berikut item-itemnya mutlak diterapkan sebagai tali kekang pembelotan, sekaligus sebagai pelindung kaum intelek ini dari aksi penculikan. Selain itu, perlu adanya kesadaran dan tahu diri bahwa kami ini utusan yang dilepaspergikan untuk kembali mengabdi di sisni, bukan jadi Malin(g) Kundang moderen. Fenomena atau tepatnya noumena ini jelas mengindikasikan adanya metamorfosis profesi. Tak ubahnya kupu-kupu yang terbang kesana-sini dan lupa asal-usulnya akibat dimabuk manisnya saribunga.
The next hunter is, mereka yang ambil bagian dalam proyek ‘sunatan massal’ terhadap berbagai jenis penghasilan para karyawan rumah sakit atas nama pajak penghasilan (PPh 21). Menyitir Appolonaris Berkanis, bahwa salah satu penjelasan PPh 21 adalah; Pegawai Negara, Pegawai Negeri Sipil / PNS, anggota TNI Polri yang menerima honorarium serta bentuk imbalan lain yang berasal dari keuangan negara atau keuangan daerah, penghasilan dipotong PPh 21 sebesar 15% kecuali untuk golongan IId atau lebih rendah, TNI Polri pangkat Peltu ke bawah atau Ajun Insp. / Tingkat I ke bawah. Dalam penerapanya, PPh 21 tidak berlaku secara nasional. Beberapa daerah mengotonomikan keputusan Menteri Keuangan RI ini dengan penjelasan yang tidak dipahami oleh PNS yang disunat hasil keringatnya. Kami tidak mengerti, apakah ini akibat dari diberlakukanya undang-undang otonomi daerah atau disesuikan dengan PAD masing-masing daerah.
Kami juga tidak mengerti dengan penerapan PPh 21 ini di RSU Kupang, yang memperlihatkan perbedaan signifikan antara tenaga dokter dan tenaga non dokter, dimana bagi PNS golongan III non dokter dikenakan potongan pajak penghasilan sebesar 15%, sementara bagi tenaga dokter potongan sebesar 7,5% saja. Persoalan ini pernah disampaikan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) dalam audensi dengan DPRD NTT dam Asisten III Gubernur NTT pada peringatan hari Perawat Sedunia, 12 Mei 2008 lalu. Hasilnya, kami diminta menunggu. Dalam penantian panjang yang tiada pasti, kami tetap berharap agar segera dilakukan revisi terhadap kebijakan ini menjadi sebijaksana mungkin. Karena perlakuan diskriminatif yang akibatnya cukup mengganggu ini, seakan tidak pernah disadari oleh pihak manajemen sebagai suatu masalah yang ikut mempengaruhi banyaknya keluhan terhadap kualitas pelayanan publik. (Opini Timex).
Masih banyak pemburu rente bertopeng yang bergentayangan di belantara berkuman ini. Mulai dari pintu masuk, pelataran parkir hingga kamar jenasah yang mencatatkan sejarah ’mayat pulang jalan kaki’. RSU Kupang tetap menjadi lahan favorit para pemburu rente karena Anggaran Daerah untuk bidang kesehatan terbesaar dialokasikan di sini. Mereka kian geranjingan berburu, selain karena ketagihan lezatnya darah dan daging manusia, juga karena mendapat pasokan senapan dari tangan-tangan siluman (invisible hand) yang gelisah menunggu hasil tangkapan. Sorry to say buat yang kirim sms; sirik tanda tak mampu. Bukanya sirik tanda tak mampu, tetapi mengkritisi ketidakmampuan kita bersama dalam memajukan RSU tercinta ini. *
Senin, 04 April 2011
Meteor Baru RSU Kupang
Meteor Baru RSU Kupang
OLEH; SIRILUS SELAKA *
Dipublikasikan oleh Pos Kupang, 15 Januari 2009
PADA hari pelantikan paket Fren menjadi gubernur-wakil gubernur NTT periode 2008-2013, Aco Manafe menulis; “Fren, Meteor Baru NTT”. Fren ibarat ‘meteor politik baru’ yang diharapkan bisa mereformasi kondosi dalam pembangunan dan memimpin NTT 2008-2013. Fren mesti bekerja serba cepat, serba arif dengan solusi optimal. Cepat bak dikejar-kejar waktu, mengacu ucapan presiden baru Korsel, Lee Myunbak, yang begitu dilantik 26 Februari 2008, mengatakan, dia harus bergerak cepat. Bagi presiden Lee, masa lima tahun amat singkat. Banyak masalah yang tak rampung dan terbengkelai (PK, 16/7/08).
Dengan mengacu juga pada tulisan wartawan senior tersebut, Direktur baru RSU Kupang yang dilantik pada 30 Desember 2008 ibarat ‘meteor baru’ yang diharapkan bisa mereformasi kondisi pelayanan dan memimpin lebih dari seribu karyawan yang terdiri dari berbagai profesi, karakter, suku, budaya dan agama tersebut. Menyampaikan harapan saat melihat pijar cahaya meteor mungkin berbau klenik, namun pada ‘meteor baru’ RSU Kupang ini tentu berbau klinik dan realistis akan sebuah perubahan kondisi pelayanan rumah sakit terbesar se-NTT ini yang selalu dikeluhkan masyarakat dengan istilah; arogan, birokratis dan diskriminatif. Arogan dalam memasang tarif setinggi langit, tapi kualitas pelayanan setinggi bukit. Birokratis dalam proses pelayanan yang katanya kalau bisa mudah kenapa dipersulit. Dan diskriminatif dalam memperlakukan klien berdasarkan sentimen tertentu.
Realistisnya harapan ini kiranya tidaklah berlebihan ketika melihat langkah awal Direktur baru yang pada beberapa saat setelah pelantikanya langsung mengadakan ‘rapat kilat’ dengan karyawan dari ruangan ke ruangan RSU. Dokter spesialis kandungan dan kebidanan ini menyatakan; “Pergantian pimpinan adalah hal yang lumrah, namun saya mengakui bahwa, sampai dengan saat pelantikan, banyak gosip yang cukup menggelisahkan hati banyak orang. Terhadap berbagi kegelisahan itu, saya berjanji dalam kepemimpinan nantinya tidak akan memandang siapa yang pro dan siapa yang kontra. Saya membuka diri untuk dikritik dan menerima saran positif demi kebaikan rumah sakit ini”. Sungguh sebuah langkah awal yang simpatik untuk didukung bersama demi terwujudnya harapan sesuai visi RSU Kupang; “Menjadi Rumah Sakit Kebanggaan Masyarakat NTT”. Ya, merubah rasa gelisah menjadi rasa bangga.
Tidak untuk menafikan buah tangan direktur RSU sebelumnya, namun patut diakui bahwa aroma kegelisahan itu memang terasa dan sangat berpengaruh pada kualitas pelayanan kesehatan terhadap klien. Diakui atau tidak, dari balik tembok gedung megah yang nyaris dibumihanguskan si jago merah 21 September 2008 lalu itu, kegelisahan hati para penderita tertumpah pada prosedur pelayanan kesehatan yang berbelit-belit, keresahan hati keluarga pasien tercurah pada lembar-lembar tagihan biaya perawatan, obat-obatan, pemeriksaan diagnostik dan tetek-bengek lain yang sulit dipahami. Sementara tingkat kepuasan user yang sulit ditakar dengan angka mutlak hanya terpancar dari kerutan dahi dan anggukan setuju yang dipaksakan. Dipaksakan karena klien seakan disodorkan pilihan; harta atau nyawa. Memang, untuk merubah semua itu butuh proses dan waktu, tapi untuk beberapa kegelisahan seperti mahalnya biaya, kita tak harus bersandar pada kalimat Judika Idol dalam iklan B4M; “Sehat itu mahal, tapi sakit jauh lebih mahal”. Mengutip Emanuel Kolfidus dalam 50 Tahun NTT dan Orang Miskin, “Saat ini, masih 27% rakyat NTT miskin, 80% petani, 79% pendidikan di bawah SD dan penyumbang terbesar PAD justeru dari bidang kesehatan (RS) yang berarti bahwa semiskin-miskinya masyarakat NTT dan dalam keadaaan sakit mereka masih memberikan kontribusi besar bagi pendapatan daerah”(PK, 30/12/08). Ungkapan kegelisahan lain yang ditulis dr. Samson Ehe Teron; “Globalisasi bisnis bidang kedokteran terutama bisnis di bidang pengelolaan rumah sakit telah banyak mencederai makna sumpah Hippocrates yang sangat menjunjung tinggi nilai luhur etika kedokteran dan kemanusiaan”. Mantan ketua IDI Kupang ini mendeskripsikan, “Ada kecenderungan pada sebagian dokter untuk menulis resep obat paten karena ada pesanan sponsor, padahalnya mereka sadar bahwa obat generik tersedia dan berkhasiat sama, bahkan lagi kecenderungan melakukan permintaan pemeriksaan penunjang laboratorium dan rontgent berbasis bonus, jauh dari rasionalitas dan etika kedokteran”(Timex, 10/9/08).
Akumulasi kegelisahan itu seakan mampet bersama saluran pembuangan limbah RSU yang menyebarkan aroma menyengat. Aksi protes masyarakat terhadap kenaikan tarif RSU berdasarkan Perda No 4 Tahun 2006 lalu pun tak melancarkan got yang dihuni tikus dan kecoak busuk penebar kuman mematikan itu. Alih-alih berbuah rasional dan pro kemanusiaan, pembongkaran kartel farmasi oleh Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati pun berbuah pil pahit yang mampu-tidak mampu harus ditebus klien. Sri Mulyani Indrawati blak-blakan menyatakan; “Industri pabrik obat memang membentuk kartel, dan dokter bagian dari kartel. Kartel tersebut telah mengambil keuntungan terlalu besar. Mereka telah menghisap, karena rent itu menyedot habis. Itu menjadi profit perusahan obat, dibagi dengan dokter, baik dengan mentraktir pergi seminar, mobil dan lain sebagainya. Kartel farmasi mesti dibongkar agar harga obat bisa menjangkau masyarakat miskin”(JP, 3/10/07). ‘Kasihan si Muklis, tiap episode so pasti ditipu. Kalu bukan oleh Abdel, pasti Temon atau Udin Jungkring cowok paling ganteng sekompeks. Klis, Klis, kasihan amat nasibmu, sudah miskin ditipu melulu’. Laku kocak dan tipu-menipu para pemeran serial komedi Bukan Super Star itu tentu bukan salah bunda mengandung, tapi tuntutan skenario sang sutradara. Inilah yang disebut Prudhon sebagai exploitation de i’home par i’home (pengisapan manusia atas manusia). Menyalin ‘resep’ dr. Asep Purnama, Direktur RSUD dr. TC Hillers-Maumere bahwa; Peran besar pedagang besar farmasi (PBF) yang tidak jujur telah meroketkan harga dan menyebabkan kelangkaan obat (PK, 18/01/08). Entah sudah berapa banyak Perda tentang tarif pelayanan publik yang dihasilkan maupun direvisi demi visi-misi yang pro rakyat atau pro kontra dan berakhir pro penguasa dan pengusaha kaya?. Sampai Sri Sultan Hamengku Buwono X saat berkunjung ke NTT pun bertanya; Tunjukan di mana ada Perda yang disahkan Dewan, atau UU buatan Negara yang pro rakyat?
Menoleh ke dalam rumah penuh kuman yang menggerogoti 75,6% APBD Kesehatan privinsi NTT ini, kinerja, loyalitas dan profesionalisme karyawan terus saja dikutuk dan dituntut, sementara bara api kecemburuan yang selalu memanggang situasi kerja terus saja ditutup selimut apatisme, egoisme dan mungkin juga nepotisme serta isme-isme yang lain. Tulisan Appolonaris Berkanis salah seorang karyawan RSU Kupang yang kini tengah menyelesaikan program S2 Hukum Kesehatan di Unika Semarang, tentang penerapan PPh 21 bagi PNS golongan III di lingkup RSU Kupang yang diskriminatif dan primitif antara tenaga medis dan non medis pun tak digubris pihak berkompeten. Bahkan kegelisahan para PNS yang hasil keringatnya disunat atas nama pajak penghasilan itu pernah disampaikan dalam audensi bersama DPRD I dan Pemprov NTT bulan Mei 2008 lalu hanya berbuah kata menunggu dan menunggu. Tentu bukan cara yang santun dengan aksi demo meluapkan kegelisahan sebagaimana yang dilakukan para karyawan RSUD TC Hillers-Maumere atau RSUD-Larantuka beberapa waktu lalu untuk menuntut kebersamaan ‘rasa’ dalam suka-duka, sehat-sakit. Namun terkadang luapan kegelisahan yang terakumulasi bisa meruntuhkan sopan santun, respek dan loyalitas sebagai karyawan.
Tulisan singkat ini tidak dalam menggelisahkan hati siapapun, selain ‘meng-copy-resepkan’ tanda dan gejala penyakit kronis yang sungguh menggelisahkan hati banyak orang. Kini kegelisahan itu dititipkan pada tongkat estafet kepemimpinan RSU yang diserah-terimakan. Ketika memandang pijar cahaya ‘meteor baru’ RSU, tersibaklah rambut ikal ini sambil memohon; sekiranya harapan ini membumi di hati dan perasaan (bangga) masyarakat NTT yang relatif mudah tersinggung, gampang emosi, tak sabar antri dan sensitif terluka.. Congratulation ‘meteor baru’ RSU.*
OLEH; SIRILUS SELAKA *
Dipublikasikan oleh Pos Kupang, 15 Januari 2009
PADA hari pelantikan paket Fren menjadi gubernur-wakil gubernur NTT periode 2008-2013, Aco Manafe menulis; “Fren, Meteor Baru NTT”. Fren ibarat ‘meteor politik baru’ yang diharapkan bisa mereformasi kondosi dalam pembangunan dan memimpin NTT 2008-2013. Fren mesti bekerja serba cepat, serba arif dengan solusi optimal. Cepat bak dikejar-kejar waktu, mengacu ucapan presiden baru Korsel, Lee Myunbak, yang begitu dilantik 26 Februari 2008, mengatakan, dia harus bergerak cepat. Bagi presiden Lee, masa lima tahun amat singkat. Banyak masalah yang tak rampung dan terbengkelai (PK, 16/7/08).
Dengan mengacu juga pada tulisan wartawan senior tersebut, Direktur baru RSU Kupang yang dilantik pada 30 Desember 2008 ibarat ‘meteor baru’ yang diharapkan bisa mereformasi kondisi pelayanan dan memimpin lebih dari seribu karyawan yang terdiri dari berbagai profesi, karakter, suku, budaya dan agama tersebut. Menyampaikan harapan saat melihat pijar cahaya meteor mungkin berbau klenik, namun pada ‘meteor baru’ RSU Kupang ini tentu berbau klinik dan realistis akan sebuah perubahan kondisi pelayanan rumah sakit terbesar se-NTT ini yang selalu dikeluhkan masyarakat dengan istilah; arogan, birokratis dan diskriminatif. Arogan dalam memasang tarif setinggi langit, tapi kualitas pelayanan setinggi bukit. Birokratis dalam proses pelayanan yang katanya kalau bisa mudah kenapa dipersulit. Dan diskriminatif dalam memperlakukan klien berdasarkan sentimen tertentu.
Realistisnya harapan ini kiranya tidaklah berlebihan ketika melihat langkah awal Direktur baru yang pada beberapa saat setelah pelantikanya langsung mengadakan ‘rapat kilat’ dengan karyawan dari ruangan ke ruangan RSU. Dokter spesialis kandungan dan kebidanan ini menyatakan; “Pergantian pimpinan adalah hal yang lumrah, namun saya mengakui bahwa, sampai dengan saat pelantikan, banyak gosip yang cukup menggelisahkan hati banyak orang. Terhadap berbagi kegelisahan itu, saya berjanji dalam kepemimpinan nantinya tidak akan memandang siapa yang pro dan siapa yang kontra. Saya membuka diri untuk dikritik dan menerima saran positif demi kebaikan rumah sakit ini”. Sungguh sebuah langkah awal yang simpatik untuk didukung bersama demi terwujudnya harapan sesuai visi RSU Kupang; “Menjadi Rumah Sakit Kebanggaan Masyarakat NTT”. Ya, merubah rasa gelisah menjadi rasa bangga.
Tidak untuk menafikan buah tangan direktur RSU sebelumnya, namun patut diakui bahwa aroma kegelisahan itu memang terasa dan sangat berpengaruh pada kualitas pelayanan kesehatan terhadap klien. Diakui atau tidak, dari balik tembok gedung megah yang nyaris dibumihanguskan si jago merah 21 September 2008 lalu itu, kegelisahan hati para penderita tertumpah pada prosedur pelayanan kesehatan yang berbelit-belit, keresahan hati keluarga pasien tercurah pada lembar-lembar tagihan biaya perawatan, obat-obatan, pemeriksaan diagnostik dan tetek-bengek lain yang sulit dipahami. Sementara tingkat kepuasan user yang sulit ditakar dengan angka mutlak hanya terpancar dari kerutan dahi dan anggukan setuju yang dipaksakan. Dipaksakan karena klien seakan disodorkan pilihan; harta atau nyawa. Memang, untuk merubah semua itu butuh proses dan waktu, tapi untuk beberapa kegelisahan seperti mahalnya biaya, kita tak harus bersandar pada kalimat Judika Idol dalam iklan B4M; “Sehat itu mahal, tapi sakit jauh lebih mahal”. Mengutip Emanuel Kolfidus dalam 50 Tahun NTT dan Orang Miskin, “Saat ini, masih 27% rakyat NTT miskin, 80% petani, 79% pendidikan di bawah SD dan penyumbang terbesar PAD justeru dari bidang kesehatan (RS) yang berarti bahwa semiskin-miskinya masyarakat NTT dan dalam keadaaan sakit mereka masih memberikan kontribusi besar bagi pendapatan daerah”(PK, 30/12/08). Ungkapan kegelisahan lain yang ditulis dr. Samson Ehe Teron; “Globalisasi bisnis bidang kedokteran terutama bisnis di bidang pengelolaan rumah sakit telah banyak mencederai makna sumpah Hippocrates yang sangat menjunjung tinggi nilai luhur etika kedokteran dan kemanusiaan”. Mantan ketua IDI Kupang ini mendeskripsikan, “Ada kecenderungan pada sebagian dokter untuk menulis resep obat paten karena ada pesanan sponsor, padahalnya mereka sadar bahwa obat generik tersedia dan berkhasiat sama, bahkan lagi kecenderungan melakukan permintaan pemeriksaan penunjang laboratorium dan rontgent berbasis bonus, jauh dari rasionalitas dan etika kedokteran”(Timex, 10/9/08).
Akumulasi kegelisahan itu seakan mampet bersama saluran pembuangan limbah RSU yang menyebarkan aroma menyengat. Aksi protes masyarakat terhadap kenaikan tarif RSU berdasarkan Perda No 4 Tahun 2006 lalu pun tak melancarkan got yang dihuni tikus dan kecoak busuk penebar kuman mematikan itu. Alih-alih berbuah rasional dan pro kemanusiaan, pembongkaran kartel farmasi oleh Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati pun berbuah pil pahit yang mampu-tidak mampu harus ditebus klien. Sri Mulyani Indrawati blak-blakan menyatakan; “Industri pabrik obat memang membentuk kartel, dan dokter bagian dari kartel. Kartel tersebut telah mengambil keuntungan terlalu besar. Mereka telah menghisap, karena rent itu menyedot habis. Itu menjadi profit perusahan obat, dibagi dengan dokter, baik dengan mentraktir pergi seminar, mobil dan lain sebagainya. Kartel farmasi mesti dibongkar agar harga obat bisa menjangkau masyarakat miskin”(JP, 3/10/07). ‘Kasihan si Muklis, tiap episode so pasti ditipu. Kalu bukan oleh Abdel, pasti Temon atau Udin Jungkring cowok paling ganteng sekompeks. Klis, Klis, kasihan amat nasibmu, sudah miskin ditipu melulu’. Laku kocak dan tipu-menipu para pemeran serial komedi Bukan Super Star itu tentu bukan salah bunda mengandung, tapi tuntutan skenario sang sutradara. Inilah yang disebut Prudhon sebagai exploitation de i’home par i’home (pengisapan manusia atas manusia). Menyalin ‘resep’ dr. Asep Purnama, Direktur RSUD dr. TC Hillers-Maumere bahwa; Peran besar pedagang besar farmasi (PBF) yang tidak jujur telah meroketkan harga dan menyebabkan kelangkaan obat (PK, 18/01/08). Entah sudah berapa banyak Perda tentang tarif pelayanan publik yang dihasilkan maupun direvisi demi visi-misi yang pro rakyat atau pro kontra dan berakhir pro penguasa dan pengusaha kaya?. Sampai Sri Sultan Hamengku Buwono X saat berkunjung ke NTT pun bertanya; Tunjukan di mana ada Perda yang disahkan Dewan, atau UU buatan Negara yang pro rakyat?
Menoleh ke dalam rumah penuh kuman yang menggerogoti 75,6% APBD Kesehatan privinsi NTT ini, kinerja, loyalitas dan profesionalisme karyawan terus saja dikutuk dan dituntut, sementara bara api kecemburuan yang selalu memanggang situasi kerja terus saja ditutup selimut apatisme, egoisme dan mungkin juga nepotisme serta isme-isme yang lain. Tulisan Appolonaris Berkanis salah seorang karyawan RSU Kupang yang kini tengah menyelesaikan program S2 Hukum Kesehatan di Unika Semarang, tentang penerapan PPh 21 bagi PNS golongan III di lingkup RSU Kupang yang diskriminatif dan primitif antara tenaga medis dan non medis pun tak digubris pihak berkompeten. Bahkan kegelisahan para PNS yang hasil keringatnya disunat atas nama pajak penghasilan itu pernah disampaikan dalam audensi bersama DPRD I dan Pemprov NTT bulan Mei 2008 lalu hanya berbuah kata menunggu dan menunggu. Tentu bukan cara yang santun dengan aksi demo meluapkan kegelisahan sebagaimana yang dilakukan para karyawan RSUD TC Hillers-Maumere atau RSUD-Larantuka beberapa waktu lalu untuk menuntut kebersamaan ‘rasa’ dalam suka-duka, sehat-sakit. Namun terkadang luapan kegelisahan yang terakumulasi bisa meruntuhkan sopan santun, respek dan loyalitas sebagai karyawan.
Tulisan singkat ini tidak dalam menggelisahkan hati siapapun, selain ‘meng-copy-resepkan’ tanda dan gejala penyakit kronis yang sungguh menggelisahkan hati banyak orang. Kini kegelisahan itu dititipkan pada tongkat estafet kepemimpinan RSU yang diserah-terimakan. Ketika memandang pijar cahaya ‘meteor baru’ RSU, tersibaklah rambut ikal ini sambil memohon; sekiranya harapan ini membumi di hati dan perasaan (bangga) masyarakat NTT yang relatif mudah tersinggung, gampang emosi, tak sabar antri dan sensitif terluka.. Congratulation ‘meteor baru’ RSU.*
Minggu, 03 April 2011
Terapy Syndrom Judi
Terapi Syndrom Judi
Oleh; Sirilus Selaka
(Pernah dipublikasikan oleh Timor Express dan Radar Bulukumba)
SELESAI membaca tulisan Rattahpinisa H.H.”Jerat-jerat Narkoba “yang dimuat harian Timex 27 Juni 2008,saya sejenak berhenti membolak-balik halaman koran dan merenung, “3M(merokok, minum, madat)Narkoba dan sex bebas adalah satu keluarga,besaudara,entah kandung, sepupu, tiri atau kembar tapi tak sama. Siapa nenek, bapak, kakak atau siapa saudara bungsu mereka. Yang jelas mereka itu ada di mana-mana, hidup seperti biasa, makan,mandi, pergi ke pasar, kantor, sekolah, berdoa, bertobat dan mengulang lagi. Mereka selalu dibenci, dikejar-kejar aparat(bukan saudara mereka,,?)ditangkap, dihukum dan direhabilitasi. Rumah mereka diobok-obok, digusur dan dibakar. Perenungan terganggu sebentar, ada yang baru datang, dia mengaku sebagai saudara tertua dari 3M (bukan trio Macan), namanya Judi, wajahnya pucat,rambutnya kusut, sorot matanya suram akibat kurang tidur, punya banyak hutang dan sudah dipecat dari tempatnya bekerja akibat sering mangkir. Dia juga mengaku sering menipu dan mencuri uang sebagai modal “usaha”, baru sebulan bebas dari tahanan terkait pelanggaran pasal 303 KUHP. Mereka itu satu keluarga selebritis, isu dan berita seputar kehidupan mereka tak pernah sepi dari pemberitaan media masa. Simak sejenak cuplikan beberapa topik berita dari berbagai media masa berikut ini;”perokok pasif dan kanker paru-paru, pilot India suka mabuk, mantan jura dunia terjerat kokain, anak TK korban cokelat narkoba, Sandra Dewi duta anti narkoba, BK ingin segera klir soal Max Moein, judi PS 4, pelejar diringkus, berjudi 4 pejabat jadi tersangka”. Ini hanya secuil cuplikan yang merepresantasi anak TK sampai pejabat Negara dan berbagai profesi lain dari berbagai penjuru dan segala lapisan masyarakat. Kok, kaya seratus juri vote lock dan duaratus soulvoters, he, he,, maaf Nona Igun ya,,,.
Judi, apapun nama, bentuk dan tujuanya, di Indonesia dilarang Undand-undang. Beberapa Negara melegalkan judi sebagai sumber devisa dan lahan subur pengusaha(Bandar) judi. Almahrum Ali Sadikin dalam masa jabatanya sebagai gubernur DKI pernah melegalkan judi dan berhasil meningkatkat perekonomian Jakarta. “Saya ijinkan judi, tapi hanya untuk orang-orang China”, kata anggota Petisi 50 ini pada suati kesempatan.
Pemerintah Indonesia melalui Depsos pernah menyelenggarakan (menghalalkan) judi secara Nasional. Dari PORKAS ke SDSB, tetapi judi bentuk lain tetap di larang. SDSB atau Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah. Dimana para dermawan menyumbang kemudian bila beruntung setiap seribu rupiah bisa mendapatkan hadiah Rp. 3. 750.000,-. Angka yang menggiurkan sehingga banyak orang miskin menjadi dermawan malah tambah miskin, tambah malas, rajin menciptakan rumus-rumus jitu, selalu menghayal dan mengharap, pandai meramal, menganalisa mimpi-mimpi sendiri dan mimpi orang lain, banyak juga yang menderita halusinasi. Kita memaklumi keserakahan kita sebagai manusia, demi hadiah yang menggiurkan si miskin rela jadi dermawan, demi BLT si kaya rela jadi miskin. SDSB akhirnya diharamkan kembali oleh idealisme anak bangsa sendiri. Beberapa tahun kemudian judi nasional ini kembali diwacanakan untuk mendongkrak prestasi olahraga tanah air, tetapi layu sebelum berkembang terbentur tarik ulur berbagai pihak dan kepentingan
Sebelum Jendral Sutanto memangku Jabatan Kaporli, kegiatan terlarang ini “marak” di mana-mana, judi internasional, nasional, lokal maupun tradisional bebas alias “lostrom”. Syok terapi jajaran kepolisian dibawa Komando Kaporli Jendral Suanto di awal masa jabatanya benar-benar manjur. Kuman –kuman penyakit masyarakat ini banyak yang “mati suri”. Syndrom judi baik akut maupun kronis sembuh, termasuk peralatan praktek (mesin-mesin judi) disita (mungkin dibakar atau dibenamkan ke laut sebagai museum bawah air).
Rupanya kesembuhan kala itu cuma simptomatik oleh efek analgetik-antipiretik (antalgin dan paracetamol). Kuman penyakitnya hidup kembali dan mulai berinkubasi, Sekarang gejala klinisnya sudah mulai dikeluhkan, diagnosanya jelas “sindrom judi kambuhan/berulang”, atau perlu pemeriksa diagnostic secara mikroskopik,.? Jangan pak, biaya “reagen” sekarang mahal, hasilnya pun bias direkayasa.
Di sini terlihat bahwa judi terletak diantara 4ukuran baik:1.Deontologi:maksud baik berakibat buruk, 2.Utilitarisme: maksud dan akibat baik tetapi melanggar aturan,3.Eudomonisme: semata-mata mengejar suatu tujuan, 4.Hedonisma: ukuran baik jika memuaskan.
Dalam ilmu ‘penyakit masyarakat’ syndrom judi termasuk kategori penyakit keturunan, menahun, menular, mematikan tetapi bisa disembuhkan dan dicegah. Bahkan di beberapa tempat judi dianggap sebagai tradisi atau budaya.
Sindrom judi tak bisa disembuhkan secara total, rabies tak bisa hilang sebelum anjingnya dimusnahkan. Silahkan klik www.stopmerokok.com untuk berhenti merokok, jangan lupa konsultasi juga ke dokter, tapi stop judi belum ada websitenya tu. Sebagai pasien syndrom judi kronis yang kini sedang menjalani program peyembuhan, sanya ingin membagikan resep sederhana dari seorang ‘dokter’ yang dicombain dengan ramuan tradissional, ditambah kata-kata sakti sang istri, nasiat orang tua, teman dan semua orang yang ikhlas menolong. Inilah copy resepnya;
/Determinasi + komitmen, dosis sekali minum (dosis tunggal). Ketetapan hati dan komitmen untuk berhenti’ komit pada diri, sesama dan Tuhan.
/Delete, dosis 1x1, hapus semua telepon yang sering mengundang kita ke TKP (Tempat Kita Pasang uang). Bla nomor itu nyasar lagi, hapus sekali lagi, masih nyasar juga, ganti nomor sekalian,,! Mumpung lagi obral kartu perdana nich.
/Friend, dosis 3x1, carilah teman yang bisa membentu kesembuhan kita, “Teman yang baik mengingatkan teman yang salah, teman yang tida baik membiarkanya” (Imam Ghazali)
/Place, dosis kalau perlu(maintenance) hindari sedapat mungkin untuk datang ke TKP. Bila terpaksa datang dan ditanya, “Kok lama absen?”, katakan saja sudah pensiun dini. Kata Benyamin Franklyn, “Tak ada yang salah dengan pensiun sepanjang tidak mengganggu karya seseorang”.
/Musik, ini dosis bebas karena berupa roboronsia atau vitamin penambah daya tahan tubuh dari godaan setan maupun hasrat hati. Dengarlah lagu-lagu seperti, Judi, gali lubang tutup lubang milik bang Haji Roma, “judi menjanikan kemenangan, judi, kalaupun kau menang itu awal dari kekalahan, kaya, itu awal dari kemiskinan, datang penuh harapan pulang penuh penyesalan”. Gali lubang tutup lubang, lubangnya di pasir, semakin digali semakin terkubur, ini kutipan nasihat dari Jonatan Saturo, “Orang yang biasa berhutang layaknya orang yang sedang berenang menuju kapal yang sedang tenggelam”. . Rupanya yang dimaksud hutang untuk modal berjudi
Selamat mencoba, ingat berdoa sebelum minum obatnya, makan dan istirahat teratur biar gemuk/sehat, bila sakit berlanjut hubungi dokter, masih kumat juga, kami terpaksa mengucapkan, “Selamat Anda gagal”. Tapi ingat, kegagalan adalah sukses yang tertunda. Mari kita menyulam benang kusut masa lalu untuk menjaring peluang hari ini demi masa depan…Selamtat tinggal penderitaan…*
Oleh; Sirilus Selaka
(Pernah dipublikasikan oleh Timor Express dan Radar Bulukumba)
SELESAI membaca tulisan Rattahpinisa H.H.”Jerat-jerat Narkoba “yang dimuat harian Timex 27 Juni 2008,saya sejenak berhenti membolak-balik halaman koran dan merenung, “3M(merokok, minum, madat)Narkoba dan sex bebas adalah satu keluarga,besaudara,entah kandung, sepupu, tiri atau kembar tapi tak sama. Siapa nenek, bapak, kakak atau siapa saudara bungsu mereka. Yang jelas mereka itu ada di mana-mana, hidup seperti biasa, makan,mandi, pergi ke pasar, kantor, sekolah, berdoa, bertobat dan mengulang lagi. Mereka selalu dibenci, dikejar-kejar aparat(bukan saudara mereka,,?)ditangkap, dihukum dan direhabilitasi. Rumah mereka diobok-obok, digusur dan dibakar. Perenungan terganggu sebentar, ada yang baru datang, dia mengaku sebagai saudara tertua dari 3M (bukan trio Macan), namanya Judi, wajahnya pucat,rambutnya kusut, sorot matanya suram akibat kurang tidur, punya banyak hutang dan sudah dipecat dari tempatnya bekerja akibat sering mangkir. Dia juga mengaku sering menipu dan mencuri uang sebagai modal “usaha”, baru sebulan bebas dari tahanan terkait pelanggaran pasal 303 KUHP. Mereka itu satu keluarga selebritis, isu dan berita seputar kehidupan mereka tak pernah sepi dari pemberitaan media masa. Simak sejenak cuplikan beberapa topik berita dari berbagai media masa berikut ini;”perokok pasif dan kanker paru-paru, pilot India suka mabuk, mantan jura dunia terjerat kokain, anak TK korban cokelat narkoba, Sandra Dewi duta anti narkoba, BK ingin segera klir soal Max Moein, judi PS 4, pelejar diringkus, berjudi 4 pejabat jadi tersangka”. Ini hanya secuil cuplikan yang merepresantasi anak TK sampai pejabat Negara dan berbagai profesi lain dari berbagai penjuru dan segala lapisan masyarakat. Kok, kaya seratus juri vote lock dan duaratus soulvoters, he, he,, maaf Nona Igun ya,,,.
Judi, apapun nama, bentuk dan tujuanya, di Indonesia dilarang Undand-undang. Beberapa Negara melegalkan judi sebagai sumber devisa dan lahan subur pengusaha(Bandar) judi. Almahrum Ali Sadikin dalam masa jabatanya sebagai gubernur DKI pernah melegalkan judi dan berhasil meningkatkat perekonomian Jakarta. “Saya ijinkan judi, tapi hanya untuk orang-orang China”, kata anggota Petisi 50 ini pada suati kesempatan.
Pemerintah Indonesia melalui Depsos pernah menyelenggarakan (menghalalkan) judi secara Nasional. Dari PORKAS ke SDSB, tetapi judi bentuk lain tetap di larang. SDSB atau Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah. Dimana para dermawan menyumbang kemudian bila beruntung setiap seribu rupiah bisa mendapatkan hadiah Rp. 3. 750.000,-. Angka yang menggiurkan sehingga banyak orang miskin menjadi dermawan malah tambah miskin, tambah malas, rajin menciptakan rumus-rumus jitu, selalu menghayal dan mengharap, pandai meramal, menganalisa mimpi-mimpi sendiri dan mimpi orang lain, banyak juga yang menderita halusinasi. Kita memaklumi keserakahan kita sebagai manusia, demi hadiah yang menggiurkan si miskin rela jadi dermawan, demi BLT si kaya rela jadi miskin. SDSB akhirnya diharamkan kembali oleh idealisme anak bangsa sendiri. Beberapa tahun kemudian judi nasional ini kembali diwacanakan untuk mendongkrak prestasi olahraga tanah air, tetapi layu sebelum berkembang terbentur tarik ulur berbagai pihak dan kepentingan
Sebelum Jendral Sutanto memangku Jabatan Kaporli, kegiatan terlarang ini “marak” di mana-mana, judi internasional, nasional, lokal maupun tradisional bebas alias “lostrom”. Syok terapi jajaran kepolisian dibawa Komando Kaporli Jendral Suanto di awal masa jabatanya benar-benar manjur. Kuman –kuman penyakit masyarakat ini banyak yang “mati suri”. Syndrom judi baik akut maupun kronis sembuh, termasuk peralatan praktek (mesin-mesin judi) disita (mungkin dibakar atau dibenamkan ke laut sebagai museum bawah air).
Rupanya kesembuhan kala itu cuma simptomatik oleh efek analgetik-antipiretik (antalgin dan paracetamol). Kuman penyakitnya hidup kembali dan mulai berinkubasi, Sekarang gejala klinisnya sudah mulai dikeluhkan, diagnosanya jelas “sindrom judi kambuhan/berulang”, atau perlu pemeriksa diagnostic secara mikroskopik,.? Jangan pak, biaya “reagen” sekarang mahal, hasilnya pun bias direkayasa.
Di sini terlihat bahwa judi terletak diantara 4ukuran baik:1.Deontologi:maksud baik berakibat buruk, 2.Utilitarisme: maksud dan akibat baik tetapi melanggar aturan,3.Eudomonisme: semata-mata mengejar suatu tujuan, 4.Hedonisma: ukuran baik jika memuaskan.
Dalam ilmu ‘penyakit masyarakat’ syndrom judi termasuk kategori penyakit keturunan, menahun, menular, mematikan tetapi bisa disembuhkan dan dicegah. Bahkan di beberapa tempat judi dianggap sebagai tradisi atau budaya.
Sindrom judi tak bisa disembuhkan secara total, rabies tak bisa hilang sebelum anjingnya dimusnahkan. Silahkan klik www.stopmerokok.com untuk berhenti merokok, jangan lupa konsultasi juga ke dokter, tapi stop judi belum ada websitenya tu. Sebagai pasien syndrom judi kronis yang kini sedang menjalani program peyembuhan, sanya ingin membagikan resep sederhana dari seorang ‘dokter’ yang dicombain dengan ramuan tradissional, ditambah kata-kata sakti sang istri, nasiat orang tua, teman dan semua orang yang ikhlas menolong. Inilah copy resepnya;
/Determinasi + komitmen, dosis sekali minum (dosis tunggal). Ketetapan hati dan komitmen untuk berhenti’ komit pada diri, sesama dan Tuhan.
/Delete, dosis 1x1, hapus semua telepon yang sering mengundang kita ke TKP (Tempat Kita Pasang uang). Bla nomor itu nyasar lagi, hapus sekali lagi, masih nyasar juga, ganti nomor sekalian,,! Mumpung lagi obral kartu perdana nich.
/Friend, dosis 3x1, carilah teman yang bisa membentu kesembuhan kita, “Teman yang baik mengingatkan teman yang salah, teman yang tida baik membiarkanya” (Imam Ghazali)
/Place, dosis kalau perlu(maintenance) hindari sedapat mungkin untuk datang ke TKP. Bila terpaksa datang dan ditanya, “Kok lama absen?”, katakan saja sudah pensiun dini. Kata Benyamin Franklyn, “Tak ada yang salah dengan pensiun sepanjang tidak mengganggu karya seseorang”.
/Musik, ini dosis bebas karena berupa roboronsia atau vitamin penambah daya tahan tubuh dari godaan setan maupun hasrat hati. Dengarlah lagu-lagu seperti, Judi, gali lubang tutup lubang milik bang Haji Roma, “judi menjanikan kemenangan, judi, kalaupun kau menang itu awal dari kekalahan, kaya, itu awal dari kemiskinan, datang penuh harapan pulang penuh penyesalan”. Gali lubang tutup lubang, lubangnya di pasir, semakin digali semakin terkubur, ini kutipan nasihat dari Jonatan Saturo, “Orang yang biasa berhutang layaknya orang yang sedang berenang menuju kapal yang sedang tenggelam”. . Rupanya yang dimaksud hutang untuk modal berjudi
Selamat mencoba, ingat berdoa sebelum minum obatnya, makan dan istirahat teratur biar gemuk/sehat, bila sakit berlanjut hubungi dokter, masih kumat juga, kami terpaksa mengucapkan, “Selamat Anda gagal”. Tapi ingat, kegagalan adalah sukses yang tertunda. Mari kita menyulam benang kusut masa lalu untuk menjaring peluang hari ini demi masa depan…Selamtat tinggal penderitaan…*
Sabtu, 02 April 2011
‘Jelangkung Masuk Surga’
Oleh: Sirilus Selaka *)
(Dipublikasikan oleh Timor Express, 28 November 2008)
SELAMAT datang KPK, welcome to my paradise NTT, surganya para bandit perampok uang rakyat. Bila ucapan khas penyambutan tamu ini terlambat disampaikan, wajar karena kehadiran KPK di Kupang kemarin bak Jelangkung; datang tak dijemput, pulang tak diantar. Tamu, seperti kata Andy F Noya; Saat Anda datang, cukup 5 menit jadi tamu, selanjutnya Anda kami anggap tuan rumah. Maka ucapan selanjutnya adalah; selamat bekerja…Lalu siapakah gerangan dukun yang melakukan ritual pemanggilan jelangkung untuk memangsa para kanibal yang tengah pulas kekenyangan daging, darah dan air mata kaumnya sendiri? Mengapa, untuk apa, kapan dan bagaimana sampai kawanan ‘teroris’, musuh nomor wahid para koruptor itu bisa lolos masuk surganya korupator, nerakanya rakyat ini? Disebut grup surga-neraka karena NTT masuk the big vive provinsi terkorup di Indinesia. Catatan Maria Margaretha Hartiningsi yang dikutip Fidel Harjo; Paling enak jadi koruptor di NTT karena hampir 90% para koruptor dijamin lolos dari jeratan hukum dan bebas dijebloskan ke penjara (Pos Kupang, 25/7/08).
Kembali ke pertanyaan 5W+1H di atas. Siapa dukun yang mengundang Jelangkung itu? Mungkin dukun tingkat pusat, di bawah pusat, di bawahnya lagi, atau mungkin di atas pusat alias dukun internasional? Siapa pun, yang jelas ini bukan dukun sembarang dukun, bukan dukun pengganda uang, atau dukun cabul, ini dukun berhati malaikat, bersuara nabi dan bertangan penyelamat, walau datang dari dunia lusifer. Dukun yang tidak sudi berkoalisi dengan sesama dukun tapi memilih besekutu dengan manusia.
Mengapa? Karena kanibalisme di sisni sudah memprihatinkan. Pelakunya lebih banyak yang lolos dari jeratan jejaring segitiga penegak hukum. Alasanya, harus ada surat izin pemeriksaan, surat perintah penagkapan, surat kuasa pengambilan kembali uang negara dan surat wasiat eksekusi perkara. Alasan-alasan stereotip itulah, dunia perdukunan merasa perlu turun tangan, mengundang Jelangkung yang adalah sepupu dekat Super Man dan bekerja tanpa batas ruang dan waktu. Alih-alih butuh surat-surat, SP3 pun akan disulap jadi ‘Surat Perintah Penangkapan Pelaku’…benar-benar super.?
Untuk apa? Untuk menyelamatkan jutaan nyawa yang terbungkus dalam raga kerempeng peot, yang sekian lama bertahan hidup dari ampas perahan kelapa, sampai perut bocah-bocah buncit dihuni cacing – busung lapar. Pelakunya berlomba menumpuk kekayaan, tak tersisa celah buat angkatan kerja untuk berkarya. Golongan produktif terpaksa harus tersiksa sampai meregang nyawa di negeri orang. Miskin di kampung halaman, menderita dan mati terkubur di tanah rantau. Banyak yang pergi, sedikit yang kembali. Beberapa pulang dalam keranda bisu. Pergi lari dari rumah, pulang bersama kursi roda. Pergi tak direstui ibu prtiwi, pulang diusir bak anjing kudisan; datang tak dijemput, pulang tak digaji. TKI, susah di negeri sendiri, tersiksa di negeri orang.
Kapan ritual pemanggilan dilakukan? Ssst,, rahasia! Ini bukan gosip seleb, ini rahasia besar. Entah siang, entah malam, entah, subuh atau temaram, hanya waktu yang tahu waktunya sendiri. Para bandit entah komplotan, entah perorangan, kini berlomba dengan waktu, sementara kawanan Jelangkung mengejar waktu dan rakyat punya waktu. Biarlah waktu yang akan menghentikan setiap langkah, karena waktu teralu panjang bagi yang menunggu, terlalu pendek bagi yang ketakutan, terlalu lama bagi yang menderita, terlalu cepat bagi yang bahagia, tetapi waktu abadi bagi kebenaran, keadilan dan yang mencintai kejujuran. Ini pesan almarhuma Putri Diana yang ‘memilih’ mati dibunuh waktu yang menyakitinya.
Lalu kapan sang waktu bicara, mengartikulasikan pada dunia bahwa; firdaus telah hilang dari genggaman si panjang tangan, dirampas Jelangkung, dan menjemput paksa ke neraka jahanam? Menurut hasil penerawangan si penghuni kolom horor; “Brsiap-siaplah Jadi Napi”(Timex, 22/11/08).. Maka bersiaplah menuai badai dari angin yang ditabur dulu. Tak ada yang gratis di dunia ini, nyawa ganti nyawa, darah balas darah, air mata dibayar tangis. Bersiaplah mengenakan baju koruptor terbaru, rancangan desainer masa kini. Berkemaslah, ucapkan pesan-pesan terakhir pada orang-orang tercinta yang dihidupi dengan uang keramat itu. Tandatangani surat wasiat selagi bisa walau dengan tangan bergetar, siapa tahu pergi untuk selamanya, karena di hotel pro deo itu tersedia bara yang siap memanggang hingga tulang belulang yang keropos. Saatnya hampir tiba untuk melepas masa ‘lajang’ dan akan dihujani ucapan; “Selamat Menempuh Hidup Baru”.
Sebelum ke mobil tahanan, bekali jantung dengan tablet darah tinggi, stroke dan diabetes yang ditimbun dalam tubuh tambun, selama menimbun kuasa. Jangan lupa kantongi uang secukupnya buat berlangganan koran sebagai jendela dunia nan luas, yang selalu digenggam bak daun kelor. Bawa juga ATK sisa mark up proyek pengadaan alat dan bahan periode kemarin, buat menulis jawaban pertanyaan; “Siapak Engaku?”. Jawablah serileks saat mengelabui auditor dulu, bahwa; Aku adalah Adam yang telah memakan buah apel itu; / Adam yang tiba-tiba sadar kehadiranya sendiri, terkejut dan merasa malu / Aku adalah Adam yang kemudian mengerti baik dan buruk, dan mencoba lolos dari dosa kelain dosa / Adam yang selalu mengawasi diri sendiri dengan rasa curiga, dan berusaha menutup wajahnya / akulah tak lain Adam yang menggelepar dalam jaring waktu dan tempat, tak tertolong dari kenyataan; firdaus yang hilang / lantaran kesadaran dan curiga yang berlebih atas kehadiranya sendiri / Aku adalah Adam yang mendengar suara Tuhan; selamat berpisah Adam. (Siapakah Engkau, Sapardi Djoko Damono, 1970)
Bagaimana? Bagaimana mereka berkolaborasi, gentayangan, mengintip dan menyadap setiap konspirasi dengan media super canggih dan super magic ? Sekarang, how to do it?
Kita tunggu laporan selanjutnya..Membaca Tajuk Rencana harian ini edisi 24/11/08, nampak sebuah ketidakpuasan terhadap lirikan KPK yang hanya melerok kasus kapal ikan dan dana purna bakti saja. Terdapat juga tuntutan perlakuan adil KPK secara hukum terhadap berbagai kasus korupsi yang sempat dipetieskan pada waktu lalu. Dalam penerawangan saya (dukun palsu?), jangan terlampau khawatir, 90% kekhawatiran manusia tak selalu terjadi. Be slowly baby, takan lari gunung dikejar, dan bila gunung itu tak bisa berpindah menghampiri, maka kita yang harus menghampirinya. Conception Picciotto, demonstran ‘calon tetangga’ Barack Obama di Gedung Putih menginspirasi dan meneguhkan ketabahan kita dalam mencari dan menemukan keadilan. Bayangkan, 27 tahun wanita Spanyol itu menyia-nyiakan kecantikan masa mudanya dengan hidup terlunta-lunta sebagai demonstran menentang the corruption dan jenis penzoliman lain.(Serial Timex, 21,22/11/08) Atau penggalan bait lagu Mestakung gubahan Prof. Yohanes Surya Ph,D berikut cukup meyakinkan kita; “Tetapkan sasaran, tetapkan setinggi mungkin, makin tinggi makin baik. Bicarakan tiap hari, bicarakan ke setiap orang, bicarakan dalam doa, melangkahlah maju dan maju. Jangan goncang lihat gelombang, jangan gentar dengan deru angin, jangan menyerah hadapi rintangan. Yakinlah, gunung tinggi dapat didaki, laut luas dapat diseberangi, masalah sulit dapat dipecahkan. Tak ada yang tak mungkin bila Mestakung; “seMESTA menduKUNG” . Menurut juara dunia olimpiade Fisika Internasional di Singapura tahun 2006 ini, Mestakung diambil dari konsep sederhana; bahwa ketika sesuatu berada dalam kondisi kritis, maka setiap partikel disekelilingnya akan bekerja serentak demi mencapai titik ideal. (Mestakung, Prof, Yohanes Surya Ph.D, 2006) Kaitanya dengan pekerjaan Jelangkung, maka setiap kita adalah partikel disekeliling masalah korupsi ini. Dan bila semua partikel ini bereaksi serentak maka, titik ideal bisa kita rengkuh.
Selanjutnya, kita serahkan pada sutradara dan aktor-aktor ‘film horor’ nan mencekam itu, untuk dapat mempertontonkan pada dunia, tontonan yang memuaskan . Sekedar bocoran, ini cuplikan adegan ‘film box offis 2008’;
Sesosok bayangan berkelebat, tiba-tiba berdiri di depan pintu;
“Anda kami tangkap,,!”
“Mana surat perintah, dan kalian ini siapa, tidak tahukah kalian bahwa ini kawasan elit surga?”
“Tak perlu basa-basi, kami kawanan Jelangkung tak bisa dikibuli, dan tak sudi disogok”
Tak lama kemudian, pintu neraka pun terbuka…Sejurus kemudian, jagat raya teduh tenang. Ya, sehabis badai, datang ketenagan……..THE END
*)Penulis; Warga kota Kupang,
Oleh: Sirilus Selaka *)
(Dipublikasikan oleh Timor Express, 28 November 2008)
SELAMAT datang KPK, welcome to my paradise NTT, surganya para bandit perampok uang rakyat. Bila ucapan khas penyambutan tamu ini terlambat disampaikan, wajar karena kehadiran KPK di Kupang kemarin bak Jelangkung; datang tak dijemput, pulang tak diantar. Tamu, seperti kata Andy F Noya; Saat Anda datang, cukup 5 menit jadi tamu, selanjutnya Anda kami anggap tuan rumah. Maka ucapan selanjutnya adalah; selamat bekerja…Lalu siapakah gerangan dukun yang melakukan ritual pemanggilan jelangkung untuk memangsa para kanibal yang tengah pulas kekenyangan daging, darah dan air mata kaumnya sendiri? Mengapa, untuk apa, kapan dan bagaimana sampai kawanan ‘teroris’, musuh nomor wahid para koruptor itu bisa lolos masuk surganya korupator, nerakanya rakyat ini? Disebut grup surga-neraka karena NTT masuk the big vive provinsi terkorup di Indinesia. Catatan Maria Margaretha Hartiningsi yang dikutip Fidel Harjo; Paling enak jadi koruptor di NTT karena hampir 90% para koruptor dijamin lolos dari jeratan hukum dan bebas dijebloskan ke penjara (Pos Kupang, 25/7/08).
Kembali ke pertanyaan 5W+1H di atas. Siapa dukun yang mengundang Jelangkung itu? Mungkin dukun tingkat pusat, di bawah pusat, di bawahnya lagi, atau mungkin di atas pusat alias dukun internasional? Siapa pun, yang jelas ini bukan dukun sembarang dukun, bukan dukun pengganda uang, atau dukun cabul, ini dukun berhati malaikat, bersuara nabi dan bertangan penyelamat, walau datang dari dunia lusifer. Dukun yang tidak sudi berkoalisi dengan sesama dukun tapi memilih besekutu dengan manusia.
Mengapa? Karena kanibalisme di sisni sudah memprihatinkan. Pelakunya lebih banyak yang lolos dari jeratan jejaring segitiga penegak hukum. Alasanya, harus ada surat izin pemeriksaan, surat perintah penagkapan, surat kuasa pengambilan kembali uang negara dan surat wasiat eksekusi perkara. Alasan-alasan stereotip itulah, dunia perdukunan merasa perlu turun tangan, mengundang Jelangkung yang adalah sepupu dekat Super Man dan bekerja tanpa batas ruang dan waktu. Alih-alih butuh surat-surat, SP3 pun akan disulap jadi ‘Surat Perintah Penangkapan Pelaku’…benar-benar super.?
Untuk apa? Untuk menyelamatkan jutaan nyawa yang terbungkus dalam raga kerempeng peot, yang sekian lama bertahan hidup dari ampas perahan kelapa, sampai perut bocah-bocah buncit dihuni cacing – busung lapar. Pelakunya berlomba menumpuk kekayaan, tak tersisa celah buat angkatan kerja untuk berkarya. Golongan produktif terpaksa harus tersiksa sampai meregang nyawa di negeri orang. Miskin di kampung halaman, menderita dan mati terkubur di tanah rantau. Banyak yang pergi, sedikit yang kembali. Beberapa pulang dalam keranda bisu. Pergi lari dari rumah, pulang bersama kursi roda. Pergi tak direstui ibu prtiwi, pulang diusir bak anjing kudisan; datang tak dijemput, pulang tak digaji. TKI, susah di negeri sendiri, tersiksa di negeri orang.
Kapan ritual pemanggilan dilakukan? Ssst,, rahasia! Ini bukan gosip seleb, ini rahasia besar. Entah siang, entah malam, entah, subuh atau temaram, hanya waktu yang tahu waktunya sendiri. Para bandit entah komplotan, entah perorangan, kini berlomba dengan waktu, sementara kawanan Jelangkung mengejar waktu dan rakyat punya waktu. Biarlah waktu yang akan menghentikan setiap langkah, karena waktu teralu panjang bagi yang menunggu, terlalu pendek bagi yang ketakutan, terlalu lama bagi yang menderita, terlalu cepat bagi yang bahagia, tetapi waktu abadi bagi kebenaran, keadilan dan yang mencintai kejujuran. Ini pesan almarhuma Putri Diana yang ‘memilih’ mati dibunuh waktu yang menyakitinya.
Lalu kapan sang waktu bicara, mengartikulasikan pada dunia bahwa; firdaus telah hilang dari genggaman si panjang tangan, dirampas Jelangkung, dan menjemput paksa ke neraka jahanam? Menurut hasil penerawangan si penghuni kolom horor; “Brsiap-siaplah Jadi Napi”(Timex, 22/11/08).. Maka bersiaplah menuai badai dari angin yang ditabur dulu. Tak ada yang gratis di dunia ini, nyawa ganti nyawa, darah balas darah, air mata dibayar tangis. Bersiaplah mengenakan baju koruptor terbaru, rancangan desainer masa kini. Berkemaslah, ucapkan pesan-pesan terakhir pada orang-orang tercinta yang dihidupi dengan uang keramat itu. Tandatangani surat wasiat selagi bisa walau dengan tangan bergetar, siapa tahu pergi untuk selamanya, karena di hotel pro deo itu tersedia bara yang siap memanggang hingga tulang belulang yang keropos. Saatnya hampir tiba untuk melepas masa ‘lajang’ dan akan dihujani ucapan; “Selamat Menempuh Hidup Baru”.
Sebelum ke mobil tahanan, bekali jantung dengan tablet darah tinggi, stroke dan diabetes yang ditimbun dalam tubuh tambun, selama menimbun kuasa. Jangan lupa kantongi uang secukupnya buat berlangganan koran sebagai jendela dunia nan luas, yang selalu digenggam bak daun kelor. Bawa juga ATK sisa mark up proyek pengadaan alat dan bahan periode kemarin, buat menulis jawaban pertanyaan; “Siapak Engaku?”. Jawablah serileks saat mengelabui auditor dulu, bahwa; Aku adalah Adam yang telah memakan buah apel itu; / Adam yang tiba-tiba sadar kehadiranya sendiri, terkejut dan merasa malu / Aku adalah Adam yang kemudian mengerti baik dan buruk, dan mencoba lolos dari dosa kelain dosa / Adam yang selalu mengawasi diri sendiri dengan rasa curiga, dan berusaha menutup wajahnya / akulah tak lain Adam yang menggelepar dalam jaring waktu dan tempat, tak tertolong dari kenyataan; firdaus yang hilang / lantaran kesadaran dan curiga yang berlebih atas kehadiranya sendiri / Aku adalah Adam yang mendengar suara Tuhan; selamat berpisah Adam. (Siapakah Engkau, Sapardi Djoko Damono, 1970)
Bagaimana? Bagaimana mereka berkolaborasi, gentayangan, mengintip dan menyadap setiap konspirasi dengan media super canggih dan super magic ? Sekarang, how to do it?
Kita tunggu laporan selanjutnya..Membaca Tajuk Rencana harian ini edisi 24/11/08, nampak sebuah ketidakpuasan terhadap lirikan KPK yang hanya melerok kasus kapal ikan dan dana purna bakti saja. Terdapat juga tuntutan perlakuan adil KPK secara hukum terhadap berbagai kasus korupsi yang sempat dipetieskan pada waktu lalu. Dalam penerawangan saya (dukun palsu?), jangan terlampau khawatir, 90% kekhawatiran manusia tak selalu terjadi. Be slowly baby, takan lari gunung dikejar, dan bila gunung itu tak bisa berpindah menghampiri, maka kita yang harus menghampirinya. Conception Picciotto, demonstran ‘calon tetangga’ Barack Obama di Gedung Putih menginspirasi dan meneguhkan ketabahan kita dalam mencari dan menemukan keadilan. Bayangkan, 27 tahun wanita Spanyol itu menyia-nyiakan kecantikan masa mudanya dengan hidup terlunta-lunta sebagai demonstran menentang the corruption dan jenis penzoliman lain.(Serial Timex, 21,22/11/08) Atau penggalan bait lagu Mestakung gubahan Prof. Yohanes Surya Ph,D berikut cukup meyakinkan kita; “Tetapkan sasaran, tetapkan setinggi mungkin, makin tinggi makin baik. Bicarakan tiap hari, bicarakan ke setiap orang, bicarakan dalam doa, melangkahlah maju dan maju. Jangan goncang lihat gelombang, jangan gentar dengan deru angin, jangan menyerah hadapi rintangan. Yakinlah, gunung tinggi dapat didaki, laut luas dapat diseberangi, masalah sulit dapat dipecahkan. Tak ada yang tak mungkin bila Mestakung; “seMESTA menduKUNG” . Menurut juara dunia olimpiade Fisika Internasional di Singapura tahun 2006 ini, Mestakung diambil dari konsep sederhana; bahwa ketika sesuatu berada dalam kondisi kritis, maka setiap partikel disekelilingnya akan bekerja serentak demi mencapai titik ideal. (Mestakung, Prof, Yohanes Surya Ph.D, 2006) Kaitanya dengan pekerjaan Jelangkung, maka setiap kita adalah partikel disekeliling masalah korupsi ini. Dan bila semua partikel ini bereaksi serentak maka, titik ideal bisa kita rengkuh.
Selanjutnya, kita serahkan pada sutradara dan aktor-aktor ‘film horor’ nan mencekam itu, untuk dapat mempertontonkan pada dunia, tontonan yang memuaskan . Sekedar bocoran, ini cuplikan adegan ‘film box offis 2008’;
Sesosok bayangan berkelebat, tiba-tiba berdiri di depan pintu;
“Anda kami tangkap,,!”
“Mana surat perintah, dan kalian ini siapa, tidak tahukah kalian bahwa ini kawasan elit surga?”
“Tak perlu basa-basi, kami kawanan Jelangkung tak bisa dikibuli, dan tak sudi disogok”
Tak lama kemudian, pintu neraka pun terbuka…Sejurus kemudian, jagat raya teduh tenang. Ya, sehabis badai, datang ketenagan……..THE END
*)Penulis; Warga kota Kupang,
Einstein dan Nabi Palsu
Oleh; Sirilus Selaka *)
Dipublikasikan oleh Timor Express, 11 Juni 2009)
“TENTANG Tuhan, saya tidak dapat menerima suatu konsep apa pun yang berdasarkan otoritas gereja. Sepanjang yang saya ingat, saya membenci indoktrinasi massal. Saya tidak mengimani karena takut akan kehidupan, takut akan kematian, maupun iman yang buta”. Demikia pernyataan Einstein, ilmuwan penerima Nobel sebagai sosok pemikir yang sangat dikagumi sekaligus sangat dibenci di pengujung abad 20. Ini karena selain penemuan-penemuan spektakulernya di bidang sains dan teknologi yang sulit ditandingi oleh para ilmuwan pada masanya, Einstein kerap melancarkan kritik pedas pada gereja dan doktrin-doktrinya yang dianggap tidak rasional. Menurut Einstein, gereja telah melakukan ‘pembodohan massal’ dengan konsep ketuhanan yang tidak masuk akal. Kritik Einstein tersebut berangkat dari kegelisahanya ihwal eksistensi Tuhan yang tak kunjung ditemukan. Ia tidak puas dengan sosok Tuhan yang dipersonalkan atau digambarkan mirip manusia dalam Kitab Injil.
Tak pelak, Einstein dianggap mengingkari Alkitab yang seharusnya diimani tanpa harus diperdebatkan lagi. Tanggapan keras bertubi-tubi dilontarkan pihak gereja. Pdt. Carl F. Weldman menilai Einstein salah total, karena tidak ada Tuhan selain Tuhan personal. Pernyataan Einstein bukanlah termasuk bagian dari pencarian hakiki akan eksistensi Tuhan. Akan tetapi hanyalah sebentuk provokasi yang tidak didasarkan oleh iman yang kuat. Sri Paus Yohanes Paulus II menyatakan; Menginginkan bukti-bukti ilmiah tentang Tuhan, sama dengan merendahkan Tuhan ke derajad wujud-wujud dunia kita dan karenanya kita akan keliru secara metodologis berkenaan dengan apa itu Tuhan. Sains harus mengakui batas-batasnya serta ketidakmampuanya untuk mencapai eksistensi Tuhan, Einstein tidak bisa mengukuhkan ataupun mengingkari eksistensiNya.
Nukilan buku Wisnu A Wardhana dengan judul Einstein Membantah Taurat & Injil (Timex, 8/02/2009) dengan konklusi bahwa Einstein Tak Menemukan Tuhan yang sesuai dengan jalan pikiranya sampai akhir hayatnya walau kedua bola matanya dijugil untuk diawetkan. Demi pencarianya akan eksistensi Tuhan, Einstein pun memeluk dua agama sekaligus. Baginya, hidup dengan dua agama bukanlah sesuatu yang aneh. Ia belajar agama Yahudi yang adalah agama leluhurnya, sedangkan agama Katolik dipelajarinya kemudian. Bahkan sejak kecil, Einstein sudah mempelajari dengan cukup cermat isi Kitab Taurat dan Injil.
Selain oleh Einstein, dunia berulang kali diguncang berita kemunculan nabi palsu. Hingga kini, akhir perjalanan iman nabi palsu di dunia selalu berakhir di penjara, bahkan banyak yang bunuh diri sebelum sempat bertobat untuk kembali ke jalan yang benar. Dasar kemunculan para nabi palsu pun mirip walau tak sama persis yaitu demi sebuah pencarian akan Tuhan. Dimanakah Tuhan? Pertanyaan Hendrik Berybe (1977) dalam sajak Adakah Engkau cukup mewakili fenomena ini. “Adakah Engkau tetap sebuah tanya yang menunggu ku di tapal batas duniaMu yang semesta dan tetes bumiku. Dalam getar-getar buana, kilap mataku bagai manik-manik yang pucat. Di pintuMu, aku mengadu sejarahku”.
Walau jawaban pasti atas fenomena ini adalah penggenapan Firman Tuhan, tetapi menyaksikan dampak kemunculan yang tragis berupa aksi bunuh diri, aksi-aksi amoral serta begitu mudahnya para nabi palsu merekrut pengikut-pengikutnya dengan doktrin-doktrin sesat, maka perlu aksi penyelamatan berbagai pihak. Penyelamatan dengan pendekatan persuasif sampai represif secara komperhensif memang perlu karena selain jawaban pasti secara teologis di atas, terdapat pula jawaban lain sebagai alasan kemunculan fenomena ini. Pertama, dalam ilmu jiwa fenomena ini termasuk dalam kategori gangguan kejiwaan yang dikenal sebagai waham agama dan dapat menyerang siapa saja ketika dipicu berbagai faktor pencetus. Kedua, kebebasan yang kebablasan terhadap UU yang memayungi kebebasan beragama dan menjalankan kepercayaan setiap warga negara. Tentang kebebasan, Stephen Covey mengingatkan; Anda boleh bebas memilih tindakan, tetapi anda tidak bebas untuk memilih konsekuensi tindakan. Indonesia nan pluralis ini sudah membatasi jumlah agama resmi yang diakui eksistensinya. Agama-agama resmi kemudian bertanggungjawab membatasi pembiasan/penyimpangan ritual iman umatnya. Pembiaran demi kreativitas dan dinamisasi beresiko improvisasi kebablasan yang membidani lahirnya doktrin-diktrin ekslusif, sesat melalui penafsiran secara bebas isi Buku Suci, lalu diaplikasikan terlampau harafia bahkan menyimpang dalam aksi amoral sampai membunuh atas nama wahyu. Ketiga, sementara kalangan memandang hal ini sebagai reaksi atas aksi pemimpin rohani yang terkadang tampak pudar peran sentralnya sebagai Wakil Tuhan di dunia. Peran dan tangguang jawab pemimpin rohani yang pernah dikatakan seorang guru adalah; pemimpin rohani seharusnya membimbing dua orang sekaligus, orang lain dan dirinya sendiri. Gugatan ini beralasan, mengingat globalisasi yang menyusup massif nyaris tanpa filter di tengah dunia tanpa batas jelajah. Keempat, kehidupan dunia yang keras membuat manusia mencari ‘sesuatu’ lewat jalan alternatif termasuk menyelami buku-buku keagamaan yang juga tumbuh subur-bebas.
Siapakah manusia yang pernah melihat Tuhan?.. Walau Einstein menolak perwujudnyataan sosok Tuhan dalam diri sesama manusia (antropomorfisme), tetapi W.S. Rendra percaya bahwa; “Tuhan adalah teman serdadu yang tertembak, Tuhan berjalan disepanjang jalan becek sebagai orang miskin yang tua dan bijaksana, dengan baju compang-camping, membelai kapala anak-anak yang lapar. Tuhan adalah bapak yang sakit batuk dengan pandangan arif dan bijak, membelai kepala para pelacur. Tuhan berada di gang-gang gelap, bersama para pencuri, para perampok dan para pembunuh. Tuhan adalah teman sekamar para penjajah. Raja dari segala raja, adalah cacing bagi bebek dan babi. Wajah Tuhan yang manis adalah meja perjudian, yang berdebu dan dibanting kartu-kartu. Dan sekarang saya lihat, Tuhan sebagai orang tua renta, tidur melengkung di trotoar, batuk-batuk karena malam yang dingin, dan tanganya menekan perutnya yang lapar. Tuhan telah terserang lapar,batuk dan selesma, menangis ditepi jalan. Wahai, ia adalah teman kita yang akrab! Ia adalah teman kita semua; para musuh polisi. Para perampok, pembunuh, penjudi,pelacur, penganggur dan peminta-minta. Marilah kita datang kepadaNya” (Basis, 1965).
Bebas berpikir dan bertindak adalah hak sebagai manusia, tetapi membatasi kebebasan sesuai ukuran yang ditentukan adalah kewajiban sebagai umat beragama dan warga negara. **
Penulis;
Tinggal di Kupang.
Oleh; Sirilus Selaka *)
Dipublikasikan oleh Timor Express, 11 Juni 2009)
“TENTANG Tuhan, saya tidak dapat menerima suatu konsep apa pun yang berdasarkan otoritas gereja. Sepanjang yang saya ingat, saya membenci indoktrinasi massal. Saya tidak mengimani karena takut akan kehidupan, takut akan kematian, maupun iman yang buta”. Demikia pernyataan Einstein, ilmuwan penerima Nobel sebagai sosok pemikir yang sangat dikagumi sekaligus sangat dibenci di pengujung abad 20. Ini karena selain penemuan-penemuan spektakulernya di bidang sains dan teknologi yang sulit ditandingi oleh para ilmuwan pada masanya, Einstein kerap melancarkan kritik pedas pada gereja dan doktrin-doktrinya yang dianggap tidak rasional. Menurut Einstein, gereja telah melakukan ‘pembodohan massal’ dengan konsep ketuhanan yang tidak masuk akal. Kritik Einstein tersebut berangkat dari kegelisahanya ihwal eksistensi Tuhan yang tak kunjung ditemukan. Ia tidak puas dengan sosok Tuhan yang dipersonalkan atau digambarkan mirip manusia dalam Kitab Injil.
Tak pelak, Einstein dianggap mengingkari Alkitab yang seharusnya diimani tanpa harus diperdebatkan lagi. Tanggapan keras bertubi-tubi dilontarkan pihak gereja. Pdt. Carl F. Weldman menilai Einstein salah total, karena tidak ada Tuhan selain Tuhan personal. Pernyataan Einstein bukanlah termasuk bagian dari pencarian hakiki akan eksistensi Tuhan. Akan tetapi hanyalah sebentuk provokasi yang tidak didasarkan oleh iman yang kuat. Sri Paus Yohanes Paulus II menyatakan; Menginginkan bukti-bukti ilmiah tentang Tuhan, sama dengan merendahkan Tuhan ke derajad wujud-wujud dunia kita dan karenanya kita akan keliru secara metodologis berkenaan dengan apa itu Tuhan. Sains harus mengakui batas-batasnya serta ketidakmampuanya untuk mencapai eksistensi Tuhan, Einstein tidak bisa mengukuhkan ataupun mengingkari eksistensiNya.
Nukilan buku Wisnu A Wardhana dengan judul Einstein Membantah Taurat & Injil (Timex, 8/02/2009) dengan konklusi bahwa Einstein Tak Menemukan Tuhan yang sesuai dengan jalan pikiranya sampai akhir hayatnya walau kedua bola matanya dijugil untuk diawetkan. Demi pencarianya akan eksistensi Tuhan, Einstein pun memeluk dua agama sekaligus. Baginya, hidup dengan dua agama bukanlah sesuatu yang aneh. Ia belajar agama Yahudi yang adalah agama leluhurnya, sedangkan agama Katolik dipelajarinya kemudian. Bahkan sejak kecil, Einstein sudah mempelajari dengan cukup cermat isi Kitab Taurat dan Injil.
Selain oleh Einstein, dunia berulang kali diguncang berita kemunculan nabi palsu. Hingga kini, akhir perjalanan iman nabi palsu di dunia selalu berakhir di penjara, bahkan banyak yang bunuh diri sebelum sempat bertobat untuk kembali ke jalan yang benar. Dasar kemunculan para nabi palsu pun mirip walau tak sama persis yaitu demi sebuah pencarian akan Tuhan. Dimanakah Tuhan? Pertanyaan Hendrik Berybe (1977) dalam sajak Adakah Engkau cukup mewakili fenomena ini. “Adakah Engkau tetap sebuah tanya yang menunggu ku di tapal batas duniaMu yang semesta dan tetes bumiku. Dalam getar-getar buana, kilap mataku bagai manik-manik yang pucat. Di pintuMu, aku mengadu sejarahku”.
Walau jawaban pasti atas fenomena ini adalah penggenapan Firman Tuhan, tetapi menyaksikan dampak kemunculan yang tragis berupa aksi bunuh diri, aksi-aksi amoral serta begitu mudahnya para nabi palsu merekrut pengikut-pengikutnya dengan doktrin-doktrin sesat, maka perlu aksi penyelamatan berbagai pihak. Penyelamatan dengan pendekatan persuasif sampai represif secara komperhensif memang perlu karena selain jawaban pasti secara teologis di atas, terdapat pula jawaban lain sebagai alasan kemunculan fenomena ini. Pertama, dalam ilmu jiwa fenomena ini termasuk dalam kategori gangguan kejiwaan yang dikenal sebagai waham agama dan dapat menyerang siapa saja ketika dipicu berbagai faktor pencetus. Kedua, kebebasan yang kebablasan terhadap UU yang memayungi kebebasan beragama dan menjalankan kepercayaan setiap warga negara. Tentang kebebasan, Stephen Covey mengingatkan; Anda boleh bebas memilih tindakan, tetapi anda tidak bebas untuk memilih konsekuensi tindakan. Indonesia nan pluralis ini sudah membatasi jumlah agama resmi yang diakui eksistensinya. Agama-agama resmi kemudian bertanggungjawab membatasi pembiasan/penyimpangan ritual iman umatnya. Pembiaran demi kreativitas dan dinamisasi beresiko improvisasi kebablasan yang membidani lahirnya doktrin-diktrin ekslusif, sesat melalui penafsiran secara bebas isi Buku Suci, lalu diaplikasikan terlampau harafia bahkan menyimpang dalam aksi amoral sampai membunuh atas nama wahyu. Ketiga, sementara kalangan memandang hal ini sebagai reaksi atas aksi pemimpin rohani yang terkadang tampak pudar peran sentralnya sebagai Wakil Tuhan di dunia. Peran dan tangguang jawab pemimpin rohani yang pernah dikatakan seorang guru adalah; pemimpin rohani seharusnya membimbing dua orang sekaligus, orang lain dan dirinya sendiri. Gugatan ini beralasan, mengingat globalisasi yang menyusup massif nyaris tanpa filter di tengah dunia tanpa batas jelajah. Keempat, kehidupan dunia yang keras membuat manusia mencari ‘sesuatu’ lewat jalan alternatif termasuk menyelami buku-buku keagamaan yang juga tumbuh subur-bebas.
Siapakah manusia yang pernah melihat Tuhan?.. Walau Einstein menolak perwujudnyataan sosok Tuhan dalam diri sesama manusia (antropomorfisme), tetapi W.S. Rendra percaya bahwa; “Tuhan adalah teman serdadu yang tertembak, Tuhan berjalan disepanjang jalan becek sebagai orang miskin yang tua dan bijaksana, dengan baju compang-camping, membelai kapala anak-anak yang lapar. Tuhan adalah bapak yang sakit batuk dengan pandangan arif dan bijak, membelai kepala para pelacur. Tuhan berada di gang-gang gelap, bersama para pencuri, para perampok dan para pembunuh. Tuhan adalah teman sekamar para penjajah. Raja dari segala raja, adalah cacing bagi bebek dan babi. Wajah Tuhan yang manis adalah meja perjudian, yang berdebu dan dibanting kartu-kartu. Dan sekarang saya lihat, Tuhan sebagai orang tua renta, tidur melengkung di trotoar, batuk-batuk karena malam yang dingin, dan tanganya menekan perutnya yang lapar. Tuhan telah terserang lapar,batuk dan selesma, menangis ditepi jalan. Wahai, ia adalah teman kita yang akrab! Ia adalah teman kita semua; para musuh polisi. Para perampok, pembunuh, penjudi,pelacur, penganggur dan peminta-minta. Marilah kita datang kepadaNya” (Basis, 1965).
Bebas berpikir dan bertindak adalah hak sebagai manusia, tetapi membatasi kebebasan sesuai ukuran yang ditentukan adalah kewajiban sebagai umat beragama dan warga negara. **
Penulis;
Tinggal di Kupang.
Langganan:
Postingan (Atom)