Selasa, 26 April 2011

Pelangi di RSU

Timor Express, 08 Oct 2008, | 155

Ada Pelangi Di RSU
Sebuah wawancara…

APA yang terlintas di benak saat mendengar kabar rumah sakit terbakar? Kematian. Mereka yang lumpuh, yang patah kaki, yang tak berdaya dan semua yang tidak dapat menyelamatkan diri mati terpanggang bersama penderitaanya.. Tapi, syukurlah, itu tidak terjadi berkat reaksi spontan semua orang yang tidak sempat memikirkan resiko apalagi pamrih untuk ambil bagian dalam tindakan pemadaman, penyelamtan dan pengamanan.

Apa yang dikatakan? Kasihan. Bangunan semegah itu harus terbakar. Rugi. Kita rugi, pemerintah rugi, bukan kita untung, bangsa untung. Heran. Rumah sakit secanggih ini bisa terbakar? Namanya juga musibah. Ataukah dengan emosional mengatakan su rasa..! Rumah sakit itu terlalu arogan, diskriminatif dan birokratis? Arogan memasang tarif setinggi langit tapi kualitas pelayanan setinggi bukit.

Apa yang dilihat malam itu? Lidah api berwarna warni seperti pelangi, merah, kuning, hijau di langit yang hitam. Wajar. Ada obat merah, rivanol dan cairan/bahan lain berwarna-warni ikut terbakar. Mungkin juga wajar bahwa pelangi itu dari terbakarnya rasa marah yang identik dengan merah, cemburu dan iri berwarna kuning, juga perasaan hati lainya sesuai warna masing-masing.

Apa yang dilakukan sekarang? Lakukan yang wajar-wajar saja, yang tidak wajar itu urusan yang berwajib, yang tidak berwajib jangan coba-coba main api,!
Banyak orang peduli pada rumah sakit ini, banyak pihak meminta RSU untuk berbenah. Apa yang perlu dibenah? Fisik (house), mau dilelang atau di-PL, sesudahnya, rumah sakit ini mau diasuransikan pada pihak ketiga atau dilengkapi sistim pengamanan super canggih, siapa bisa menjamin; ini kebakaran pertama dan terakhir,?

Memadamkan bara pelangi
Pembenahan pada situasi (home) RS yang selama ini banyak dikeluhkan terutama kualitas pelayanan perlu juga mendapat perhatian serius pasca kebakaran ini. Mahalnya tarif RS yang terasa tidak senafas dengan daya beli masyarakat NTT pada umumnya cukup mengindikasikan arogansi, dimana client seakan tidak punya ruang tawar-menawar untuk apa yang harus dibayar. Client seakan disodorkan alternarif; harta atau nyawa..Umbu T.W Pariangu dalam Kualitas Pelayanan Publik menulis; Pelayanan publik yang market oriented, patut diterapkan tetapi terlebih dahulu harus dengan memperhitungkan segi-segi jangkauan pelayanan yang seadil-adil mungkin, dimana orientasi tidak justeru memarginalisasi liberasi kebutuhan seluruh level rakyat dalam bingkai demokratisasi pelayanan.

Kasus kenaikan tarif RSU berdasarkan Perda No. 4 Tahun 2006 beberapa waktu yang sempat menuai penolakan oleh komponen masyarakat di Kota Kupang merupakan contoh betapa pelayanan publik secara demokratis masih diperhitungkan sebelah mata dan tidak berjiwa preferential for and with the poor.

Rakyat semakin miskin dalam menikmati wacana perubahan yang lipstikal, instant dan berorientasi jangka pendek. Kesulitan mereka menakar dan mengakses pelayanan dasar (based service, ex; health and education) menjadi femomena jamak yang terus bergelimangan frustasi maupun apatisme mereka dalam republik penuh mimpi ini.(Timex, 26 Juni 2008)
Sementara secara internal RSU, bara pelangi yang harus dipadamkan adalah; sistem ’otonomi’ unit-unit pelayanan yang berakibat pada kualitas pelayanan.

Sekedar contoh; lihat saja warna seragam yang dikenakan tiap unit atau instalasi yang berwarna-warni seperti pelangi. Kita memang perlu ’gaul’ dalam soal konveksi, tapi perlu juga soal keseragaman dalam ’rasa’, memupuk solidaritas sesama karyawan satu atap bernama RSU. Tiap unit seakan berlomba membusungkan dada mengklaim diri sebagai yang paling vital, yang lain hanya sekedar pelengkap atau penunjang. Parahnya lagi, superioritas itu berimbas pada penuntutan hak exlusiv tanpa rasa kasihan pada jerih- payah para pelengkap atau penunjang yang sejatinya berkontribusi sama vitalnya dalam kolektifitas kerja demi pelayanan yang komprehensif pada pasien.

Lesley Flyn menulis kiasan berikut; Di sanggar kerja seorang tukang kayu, perkakas-perkakas terlibat perbincangan. Beberapa diantaranya ingin agar palu sebagai pimpinan diganti, karena palu ribut dan sombong. ’Jika kalian ingin menyingkirkan saya, kalian harus menyingkirkan paku juga. Agar paku berguna, dia harus dipalu berulang kali’. ’Tunggu dulu’ sahut paku. ’Jika saya harus disingkirkan, kalian harus menyingkirkan amplas juga. Apapun yang dia lakukan hanya di permukaan saja, tidak pada bagian dalam’. Amplas menyela, ’jika itu persoalanya, maka penggaris juga harus menyingkir.

Dia selalu menggunakan dirinya sebagai ukuran bagi segala sesuatu. Dia selalu benar’. Penggaris mengejek, ’jika ada yang paling tidak diinginkan di sini, itu adalah serut, dia tidak pernah melakukan apa-apa kecuali melicinkan urat-urat kayu’.. Saat mereka sibuk berdebat, Tukang Kayu dari Nazaret muncul. Ia langsung bekerja membuat sebuah mimbar, yang akan digunakan untuk menyebarkan Firman Tuhan. Sepanjang hari Ia menggunakan palu, paku, amplas, penggaris, serut, dan perkakas lainya. Saat Tukang Kayu mengamati mimbar yang sudah selesai itu, gergaji berdiri dan berkata, ’Mimbar ini membuktikan, bahwa kita semua adalah rekan sekerja Allah’! (Temuan Baru, 2008)

Warna-warni pelangi ini akan membakar home rumah sakit in ketika ditiup angin kecemburuan, ketidakpuasan, merasa dianaktirikan dll. Bara ini harus dipadamkan dengan ’rekonsiliasi’ internal pasca kebakaran yang menyebabkan kedaruratan pelayanan saat ini.

Pembiaran terhadap pelangi yang menaungi lagit rumah sakit ini hanya akan membiaskan visi; ’Menjadi Rumah Sakit Kebanggan Masyarakat NTT’, semakin sulit membumi di hati dan perasaan (bangga) warga masyarakat kita yang relativ mudah tersinggung, gampang emosional, tak sabar antri dan sensitif terluka hatinya.

Api rakhmat dan petaka
Sebagaimana kita tahu, kerugian diatas 10 miliar. Ini petaka bagi rumah sakit yang tengah ’bedah rumah’, tetapi alangkah celakanya jika nyala ’mercusuar’ itu diabaikan dengan mempersetankan himbauan berbagai pihak yang peduli pada rumah sakit ini. Papan bertuliskan; ’Maaf Kenyamanan Anda Terganggu,,,,’ akan terus terpampang jika perencanaan bedah rumah mengabaikan prinsip orang bijak; ’Gagal dalam perencanaan, sama dengan merencanakan kegagalan’.

Ini sebuah rahmat karena RS ini tidak dibumi-hanguskan oleh si jago merah malam itu, tapi adalah petaka, jika kita kemudian tidak berbenah secara house dan home.
Emha Ainun Najib menulis sebuah sajak tentang Rakhmat Dan Petaka; ..Ini rakhmat dan ini petaka/mari terima dengan perasaan dingin/sebab ia belum selesai/esok hari yang menanti/minta separoh nyawa hari ini/Ia, ia-bakal menjelaskan/harus menjelaskan!/adegan belum akan selesai/manusia membayarnya dengan mati demi mati/dengan sepi demi sepi/untukNya yang tak terperi/jadi kini belum bisa bilang apa-apa/penilaian kita darurat/penilaian bergerak/terus bergerak:tak pernah jadi/musti berdasar esok hari/sedang nanti sore barangkali aku mati/dan besok kau/tapi mari layani dengan dingin/rasa sedih itu setan kecil/sedang bahagia kita bisa bikin sendiri.(Srg.79)

Sajak, tetaplah sebuah sajak, tapi bahwa rakhmat dan petaka kita bisa bikin sendiri. Jikalau pelangi itu rakhmat, mari terima dengan dingin, abadikanlah sebagai pengalaman tak terlupakan karena pengalaman adalah guru yang baik. Dan jikalau ini petaka, mari padamkan dengan dingin pula....Pelangi itu indah, tapi sayang fatamorgana..*
(PENULIS: Sirilus Selaka)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar