Sabtu, 02 April 2011

Einstein dan Nabi Palsu
Oleh; Sirilus Selaka *)


Dipublikasikan oleh Timor Express, 11 Juni 2009)
“TENTANG Tuhan, saya tidak dapat menerima suatu konsep apa pun yang berdasarkan otoritas gereja. Sepanjang yang saya ingat, saya membenci indoktrinasi massal. Saya tidak mengimani karena takut akan kehidupan, takut akan kematian, maupun iman yang buta”. Demikia pernyataan Einstein, ilmuwan penerima Nobel sebagai sosok pemikir yang sangat dikagumi sekaligus sangat dibenci di pengujung abad 20. Ini karena selain penemuan-penemuan spektakulernya di bidang sains dan teknologi yang sulit ditandingi oleh para ilmuwan pada masanya, Einstein kerap melancarkan kritik pedas pada gereja dan doktrin-doktrinya yang dianggap tidak rasional. Menurut Einstein, gereja telah melakukan ‘pembodohan massal’ dengan konsep ketuhanan yang tidak masuk akal. Kritik Einstein tersebut berangkat dari kegelisahanya ihwal eksistensi Tuhan yang tak kunjung ditemukan. Ia tidak puas dengan sosok Tuhan yang dipersonalkan atau digambarkan mirip manusia dalam Kitab Injil.
Tak pelak, Einstein dianggap mengingkari Alkitab yang seharusnya diimani tanpa harus diperdebatkan lagi. Tanggapan keras bertubi-tubi dilontarkan pihak gereja. Pdt. Carl F. Weldman menilai Einstein salah total, karena tidak ada Tuhan selain Tuhan personal. Pernyataan Einstein bukanlah termasuk bagian dari pencarian hakiki akan eksistensi Tuhan. Akan tetapi hanyalah sebentuk provokasi yang tidak didasarkan oleh iman yang kuat. Sri Paus Yohanes Paulus II menyatakan; Menginginkan bukti-bukti ilmiah tentang Tuhan, sama dengan merendahkan Tuhan ke derajad wujud-wujud dunia kita dan karenanya kita akan keliru secara metodologis berkenaan dengan apa itu Tuhan. Sains harus mengakui batas-batasnya serta ketidakmampuanya untuk mencapai eksistensi Tuhan, Einstein tidak bisa mengukuhkan ataupun mengingkari eksistensiNya.
Nukilan buku Wisnu A Wardhana dengan judul Einstein Membantah Taurat & Injil (Timex, 8/02/2009) dengan konklusi bahwa Einstein Tak Menemukan Tuhan yang sesuai dengan jalan pikiranya sampai akhir hayatnya walau kedua bola matanya dijugil untuk diawetkan. Demi pencarianya akan eksistensi Tuhan, Einstein pun memeluk dua agama sekaligus. Baginya, hidup dengan dua agama bukanlah sesuatu yang aneh. Ia belajar agama Yahudi yang adalah agama leluhurnya, sedangkan agama Katolik dipelajarinya kemudian. Bahkan sejak kecil, Einstein sudah mempelajari dengan cukup cermat isi Kitab Taurat dan Injil.
Selain oleh Einstein, dunia berulang kali diguncang berita kemunculan nabi palsu. Hingga kini, akhir perjalanan iman nabi palsu di dunia selalu berakhir di penjara, bahkan banyak yang bunuh diri sebelum sempat bertobat untuk kembali ke jalan yang benar. Dasar kemunculan para nabi palsu pun mirip walau tak sama persis yaitu demi sebuah pencarian akan Tuhan. Dimanakah Tuhan? Pertanyaan Hendrik Berybe (1977) dalam sajak Adakah Engkau cukup mewakili fenomena ini. “Adakah Engkau tetap sebuah tanya yang menunggu ku di tapal batas duniaMu yang semesta dan tetes bumiku. Dalam getar-getar buana, kilap mataku bagai manik-manik yang pucat. Di pintuMu, aku mengadu sejarahku”.
Walau jawaban pasti atas fenomena ini adalah penggenapan Firman Tuhan, tetapi menyaksikan dampak kemunculan yang tragis berupa aksi bunuh diri, aksi-aksi amoral serta begitu mudahnya para nabi palsu merekrut pengikut-pengikutnya dengan doktrin-doktrin sesat, maka perlu aksi penyelamatan berbagai pihak. Penyelamatan dengan pendekatan persuasif sampai represif secara komperhensif memang perlu karena selain jawaban pasti secara teologis di atas, terdapat pula jawaban lain sebagai alasan kemunculan fenomena ini. Pertama, dalam ilmu jiwa fenomena ini termasuk dalam kategori gangguan kejiwaan yang dikenal sebagai waham agama dan dapat menyerang siapa saja ketika dipicu berbagai faktor pencetus. Kedua, kebebasan yang kebablasan terhadap UU yang memayungi kebebasan beragama dan menjalankan kepercayaan setiap warga negara. Tentang kebebasan, Stephen Covey mengingatkan; Anda boleh bebas memilih tindakan, tetapi anda tidak bebas untuk memilih konsekuensi tindakan. Indonesia nan pluralis ini sudah membatasi jumlah agama resmi yang diakui eksistensinya. Agama-agama resmi kemudian bertanggungjawab membatasi pembiasan/penyimpangan ritual iman umatnya. Pembiaran demi kreativitas dan dinamisasi beresiko improvisasi kebablasan yang membidani lahirnya doktrin-diktrin ekslusif, sesat melalui penafsiran secara bebas isi Buku Suci, lalu diaplikasikan terlampau harafia bahkan menyimpang dalam aksi amoral sampai membunuh atas nama wahyu. Ketiga, sementara kalangan memandang hal ini sebagai reaksi atas aksi pemimpin rohani yang terkadang tampak pudar peran sentralnya sebagai Wakil Tuhan di dunia. Peran dan tangguang jawab pemimpin rohani yang pernah dikatakan seorang guru adalah; pemimpin rohani seharusnya membimbing dua orang sekaligus, orang lain dan dirinya sendiri. Gugatan ini beralasan, mengingat globalisasi yang menyusup massif nyaris tanpa filter di tengah dunia tanpa batas jelajah. Keempat, kehidupan dunia yang keras membuat manusia mencari ‘sesuatu’ lewat jalan alternatif termasuk menyelami buku-buku keagamaan yang juga tumbuh subur-bebas.
Siapakah manusia yang pernah melihat Tuhan?.. Walau Einstein menolak perwujudnyataan sosok Tuhan dalam diri sesama manusia (antropomorfisme), tetapi W.S. Rendra percaya bahwa; “Tuhan adalah teman serdadu yang tertembak, Tuhan berjalan disepanjang jalan becek sebagai orang miskin yang tua dan bijaksana, dengan baju compang-camping, membelai kapala anak-anak yang lapar. Tuhan adalah bapak yang sakit batuk dengan pandangan arif dan bijak, membelai kepala para pelacur. Tuhan berada di gang-gang gelap, bersama para pencuri, para perampok dan para pembunuh. Tuhan adalah teman sekamar para penjajah. Raja dari segala raja, adalah cacing bagi bebek dan babi. Wajah Tuhan yang manis adalah meja perjudian, yang berdebu dan dibanting kartu-kartu. Dan sekarang saya lihat, Tuhan sebagai orang tua renta, tidur melengkung di trotoar, batuk-batuk karena malam yang dingin, dan tanganya menekan perutnya yang lapar. Tuhan telah terserang lapar,batuk dan selesma, menangis ditepi jalan. Wahai, ia adalah teman kita yang akrab! Ia adalah teman kita semua; para musuh polisi. Para perampok, pembunuh, penjudi,pelacur, penganggur dan peminta-minta. Marilah kita datang kepadaNya” (Basis, 1965).
Bebas berpikir dan bertindak adalah hak sebagai manusia, tetapi membatasi kebebasan sesuai ukuran yang ditentukan adalah kewajiban sebagai umat beragama dan warga negara. **
Penulis;
Tinggal di Kupang.

3 komentar:

  1. Selain Einstein masih banyak lagi kritik modern terhadap iman dan agama; iman sebagi ilusi,s ebagai hiburan palsu yang dibuat oleh manusia untuk mengatasi frustrasi hidup; regresi psikologis, sehingga manusia tinggal dalam keadaan infantil dan tidak bisa menjadi dewasa dan berdikari sebagaimana mestinya. Semua kritik itu bertolak dari pendapat bahwa agama merupakan sesuatu yang kolot, yang sebenarnya tidak boleh ada, yang menghindarkan manusia menjadi diri dan menguasai hidupnya sendiri. Oleh karena itu dewasa ini manusia membutuhkan suatu masyarakat tanpa agama, suatu masyarakat yang mengatur hidup bersama dan hubungannya dengan alam menurut pendekatan rasional, pendekatan ilmiah dalam arti ilmu pasti. Para pengkeritik mengandaikan suatu pandangan evolutif tentang dunia. Mereka menggambarkan suatu perkembanngan bertahap, di dalamnya manusia mengatasi suatu keadaan tidak beres dan mencapai tahap dimana ia tidak lagi membutuhkan agama. Namun kenyataannya agama de facto ada dan masih mempunyai pengaruh kuat terhadap manusia. Kurang lebih selama 2000 tahun Gereja ada dan membuktikan perkataan Gamaliel: "kalau memang benar mereka berasal dari Allah, mereka akan bertahan/ada untuk selama-lamanya. Gereja menjadi suatu bukti dan contoh bahwa agama-iman masih terlampau kuat mempengaruhi manusia. Einstein dkk sangat menjunjungtinggi kebebasan manusia, karena itu termasuk beriman atau tidak pun manusia bebas memilih. Namun manakala kebebasan manusia personal sudah mengarahkan hidup semakin jauh dari keagungan hidup manusia sudah saatnya kita memberi batasan padanya. Orang beriman pun sangat menjunjung kebebasan, namun kebebasan ysng diagungkan adalah kebebasan yang bertanggungjawab. Hati-hati saja dengan "virus Einstein,dkk"...tentukan pilihanmu mulai dari sekarang jangan pake tunda gtu......okay????

    BalasHapus
  2. @Tom, trims for exellent coment.. Tulisan tsb dibuat sbagai ekspresi kegelisahan akan maraknya fenomena nabi palsu di Kupang ketika itu..Kegelisahan terlbih pda penyalagunaan jalan agama menuju tujuan keji sang nabi palsu. Topik ini relatif luas,jika dikorelasikan dengan realitas kekinian, maka di ujung tulisan sederhana tsb, tercantum kalimat; "Mereka yang tampil dengan koar suara kenabian tanpa aplikasi penyelamatan, samadengan nabi palsu". Di ujung komentar Anda; "Hati-hati saja dengan virus Einstein,dkk..tentukan pilihanmu mulai dari sekarang jangan pake tunda..". Jika dibawa ke ranah politik,rakyat digiring untuk segera menentukan pilihan (wajib) krna menghindar bukan alternatif. Akan tetapi pilihan tsb membelenggu kebebsan, krna nurani sesungguhnya abstain. Ini setalitiga uang dengan seorang beriman yg ke gereja hanya demi tidak digosipkan sbagai kafir..Bagi sementara orang, kebebasan melindungi agama, bukan sebaliknya..

    BalasHapus
  3. betul, aplikaksi keselamatan menjadi barometer kesejatian setiap tindakan kenabian. Kalo berbicara diranah politik memang sudah sekian banyak orang yang menjadi korban pertentangan hati nurani sehingga tidak heran semakin manusia tinggal dalam kekinian hati nurani seakan lumpuh untuk bekerja. Dalam agama dan beriman manusia diberikan kebebasan untuk memilih termasuk tidak beriman toh yang kena "efeknya" juga bukan orang lain. Kalau ke gereja hanya karena takut digosip lebih baik memilih untuk tidak ke gereja. Tetapi kembali pada kemahakuasaan Allah; apa yang dipikirkan manusia tidak pasti sama dengan pikiran Allah, setiap rencana dan kehendak manusia bisa berbalik sekejab karena kemahakuasaan Allah. Kebebasan yang bertanggungjawab seharusnya tetap di junjung tinggi.

    BalasHapus