Wabah Penyakit Aneh
Oleh; Sirilus Selaka
Dipublikasikan oleh Timor Express, 7 Oktober 2010
SEORANG teman menyebarkan sms yang katanya merupakan himbauan Menkes; “Waspadailah enam penyakit aneh yang rentan diderita oleh Pegawai Negeri Sipil (PNS) hari-hari ini; 1; Kudis alias kurang disiplin. 2; Asma; asal mengisi absen. 3; TBC; tidak bisa computer. 4; Kram; kurang trampil. 5; Asam Urat; asal sampai kantor uring-uringan alias tidur. 6; Ginjal; gaji ingin naik tapi kerjanya lamban”. Ada yang perlu ditambahkan? Mungkin mual-muntah alais mengeluh melulu, mutasi no kompetensi-prestasi, tetapi koneksi-relasi, yes.! Dan untuk mendapatkan tiga yes, you must do it; bekerjalah demi kepentingan yang berkuasa. Apapun yang dikerjakan harus menyenangkan hati bos, jangan banyak bertanya, apalagi mengkritik.
Penguasa jaman ini banyak yang menderita syndrom sensitifitis alias radang pada organ-organ sensitif. Tanda-tandanya; bila dikritik, kulit muka memerah, mata melotot, hidung kembang-kempis menahan napas, mulut komat-kamit seribu mantera. Umbu TW Pariangu bahkan memberi subjudul tulisanya, “seorang pejabat marah-marah” lantaran dikritik soal pembelian mobil mewah. Ini bukan soal emosi, melainkan penerapanya secara tepat dalam berbagai situasi. Daniel Goleman (1995), mengutip ucapan Aristoteles; “Setiap orang bias marah, itu mudah. Tetapi marah pada orang yang tepat, dalam tingkatan yang tepat, waktu yang tepat, untuk tujuan yang tepat, dan dengan cara yang tepat, ini tidak mudah”.
Bagaimana mengurangi sifat lekas marah atau Irritability Quotient ? David D Burns (1980) memperkenalkan dua pendekatan regular yang bisa digunakan untuk mengatasi rasa marah yaitu; dengan menekan kemarahan itu ke dalam, yang akan merusak diri dari dalam dan menyebabkan depresi dan apati atau mengekspresikanya. Namun demikian, mengekspresikan kemarahan yang tampaknya sederhana dan efektif, kadang malah membawa kita ke dalam kesulitan. Untuk itu, Burns menganjurkan pendekatan kognitif, yaitu dengan mengeliminasi keinginan untuk marah, karena kenyataanya hanya ada sedikit hal (kritik) yang perlu dimarahi. Apakah kita ingin mengatasi rasa takut pada kritik dengan cara yang lebih tenang dan tidak ofensif? Kemampuan ini akan berdampak luar biasa pada persepsi diri. Kritikan bisa jadi benar, salah atau ada di antaranya. Tetapi cara untuk menentukanya adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada si pemberi kritik. Tanyakan dengan spesifik meskipun terasa pedas dan pribadi. Ini akan mengungkapkan kebenaran, memberikan kesempatan untuk memperbaikinya atau dapat memastikan bahwa kritik itu hanya merupakan ekspresi rasa frustrasi dan tidak benar-benar mengkritik. Apapun itu, tidak perlu memunculkan rekasi negatif karena ada pilihan lain yang lebih sehat, apakah memanfaatkan kritik itu sebagai bahan instropeksi, refleksi dan koreksi diri, atau menganggapnya angin lalu.
Secara patofisiologi atau perjalanan penyakit, syndrom sensitifitis yang tidak segera disembuhkan dapat mengakibatkan sakit jantung, darah tinggi dan sudden death atau mati mendadak. Dalam kasus ini, kritik bukanlah etiologi yang mesti dihindari, tetapi mekanisme kooping menghadapi kritik adalah obat mujarab. Tidak mau dikritik? Jonatan Saturo menyarankan; “Cara pasti menghindari kritik adalah, jangan berbuat apapun, memiliki apapun dan menjadi apapun”.
Pejabat yang menderita syndrom sensitifitis cenderung menularkan penyakit eneh lain pada bawahanya. Bawahan yang rentan tertular adalah si tangan kanan, si anak emas, perak dan perunggu. Penyakit yang dimaksud adalah syndrom superioritas salah kaprah. Tanda dan gejalanya; suka menepuk dada karena merasa paling pintar, paling trampil, paling berkontrubsi, paling berhak atas fasilitas dinas, paling menuntut tak mau mengalah dan berbagi. Lalu si tangan kiri dan si anak tiri yang menderita syndrom inferioritas semu hanya bisa menunduk, menurut, mengangguk lalu menggeleng tak berdaya.
Syndrom superioritas salah kaprah ini bisa dicegah dan disembuhkan dengan memutus rantai politisasi birokrasi yang mewabah di musim pilkada. Himbauan bahkan instruksi tegas bagi setiap PNS untuk menjaga netralitas dalam setiap hajatan politik mesti diikuti sanksi tegas. Tanpa itu, oknum aparatur negara kian geranjingan bergerilia di medan abu-abu, tak peduli berseragam abu-abu, keki, safari, motif daerah sampai celana umpan dan model keong racun. Kelompok PNS ini mirip para pencari pesugihan, segala cara dihalalkan asal untung, yang penting menang dan senang. (istilah Romo Mangunwijaya). Atau dalam catatan Senny Pellokila (Timex, 15/01/2010), sebagai tujuh keistimewaan PNS; kerja santai, tidak stress, sulit dipecat, gaji dan pangkat selalu naik, karier dilindungi pangkat, pensiun dan jaminan hari tua, serta simbol status sosial. Pellokila ‘mendiagnosis’, kelompok ini sangat berperan aktif menghancurkan negara dan provinsi ini.
Sementara untuk kelompok penderita syndrom inferioritas semu, jangan terlalu terfokus pada kelebihan (semu) orang lain dan menjadi minder, lalu merasa diri tidak berarti. Karena Romo Mangunwijaya dan Senny Pellokila sungguh mengapresiasi kelompok ini sebagai yang berhati nurani. Menjadi aparatur negara disadarinya sebagai pannggilan hidup dan dijalaninya penuh kesadaran dan tanggung jawab baik secara hukum maupun secara moral. Orientasinya adalah untuk kemanusiaan, mengangkat harkat dan martabat manusia..
Waspadalah,, wabah penyakit berbahaya mengintai di setiap musim pancaroba politik yang sudah banyak menelan korban jiwa, harta dan martabat..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar