Menanti Ajal
(Derita Pasien Miskin Di Rumah Sakit Kaya)
Oleh: Sirilus Selaka.
Timor Express, 15 Juli 2008
SETIAP perubahan selalu ada konsekuensinya. Sekalipun perubahan itu bertujuan memperbaiki.seperti konversi minyak tanah ke gas yang bertujuan penghematan mengundang kontroversi dan memakan korban jiwa.
Peralihan program nasional berupa subsidi pemerintah melalui Depkes untuk mewujutkan pelayanan kesehatan yang menyeluruh bagi masyarakat miskin dari askeskin ke jamkesmas baru – baru ini juga”memekan korban”. Konflikpun tak terhindarkan antara pasien peserta transisi dengan pihak rumah sakit, yang dalam hal ini memperlakukan status pasien sesuai data dari Pemkab/Pemkot dalam bentuk dokumen elektronik. Sebelum kartu Jamkesmas diterbitkan dan didistribusikan oleh PT.Askes yang juga berdasarkan data dari Pemkab/Pemkot,maka peserta yang datang ke rumah sakit berbekal kartu Jaring Pengaman Sosial{JPS}atau Askeskin harus disingkirkan dulu status kemiskinannya.Apabila namanya tidak tertera dalam dokumen maka akan diperlakukan sebagai pasien umum.
Seperti kasus menimpa pasien tumor kandungan, sesuai pemberitaan Timex tanggal 12 Juli 2008 lalu. Pasien ini tidak dapat dilayani gratis karena tak mengantongi kartu Jamkesmas,hanya memegang kartu Jaring Pengaman Sosial {JPS}.
Beberapa pasien pemegang kartu JPS,Askeskin maupun yamg merasa tidak mampu, kemudian mengurus Surat Keterangan Tidak Mampu {SKTM}dan tetap ditolak, harus mendatangi kantor Bupati atau Walikota untuk meminta pertolongan. Mereka didorong oleh keinginan yang kuat untuk sembuh dan sehat, ditambah ketidakmampuan menjangkau biaya pengobatan yang aduhai mahal, juga ‘cemburu’ pada tetangga yang dijamin pemerintah. Dan bila tidak berhasil juga, maka pasien dengan penyakit yang harus membutuhkan tindakan dan obat yamg harganya jutaan rupiah, yang bagi beberapa saudara kita selama hidupnya tidak pernah menggenggam uang sebanyak itu harus pasrah ‘menanti ajal’.
Ajal ko dinanti?
Bukankah seharusnya dihindari atau dilawan? Alih –alih menanti, beberapa orang menjemputnya untuk mengakhiri penantian, sebagai bentuk ketidakmampuan menghindar dan ketidakberdayaan melawan ajal. Apakah itu pilihan? Kaca mata iman dan hukum tentu menjawab tidak. Tetapi pengalaman membuktikan bahwa kehidupan telah menyediakan alternatif ini untuk dipilh.
Saat seseorang menderita penyakit yang menurutnya tidah ada harapan sembuh bila tidak punya biaya, maka tak banyak yang bisa dilakukan selain pasrah menanti ajal, sambil mengharapkan keajaiban dari Sang Tabib Ilahi, sumber segala kesembuhan. Keajaiban itu sering menyata dalam bentuk;dompet amal, tali kasih, operasi gratis,rumah sakit terapung dan bantuan –bantuan lain yang biasa musiman
Setiap pasien mengharapkan yang terbaik dan merencanakan yang terburuk. Bila terburuk yang harus direncanakan, maka dia perlu mempersiapkan atau dipersiapkan sebaik mungkin sebelum ajalnya datang. Seorang imam, dalam renungan malam di salah satu stasiun TV meminta begini;’Ambil sehelai kertas, tuliskan nama-nama orang yang akan datang melayat bila anda meninggal dunia nanti. Bila kertas itu belum penuh, itu artinya anda belum siap untuk mati, karena anda kurang berbuat baik. Dan bila anda harus mengambil lagi sehelai kertas, maka anda fudah siap’. Ini jelas bukan suatu teori ilmu agama, tapi banyak orang mempraktekaya. Banyak yang membutuhkan berhelai-helai kertas untuk menulis lebih dari sekali nama orang yang tidak sanggup menulis separuh halaman karena tidak mengingat lagi atau karena memeang dia pelit. Tidak sedikit orang yamg mempersetankan penuh tidaknya lembaran itu, mereka percaya pada Sang Maha’Tahu telah mencatatnya dengan tinta emas.
Jika teori ini kita pakai untuk pendahulu-pendahulu Jamkesmas yang mati karena ‘penyakit’ sesuai diagnosa Menkes, yang adalah seorang dokter spesialis jantug bahwa;’ Bukan programnya yang jelek, tapi banyaknya jalur-jalur di Askeskin yang korup. Mulai pembuat surat pengantar miskin di RT\RW yang bisa digosok, hingga birokrasi di PT. Askes yang birokratis dan banyak pungutan.{Jawa Pos, 10 Juli 2008}.Maka berapa helai kertas yang harus ditulis dan tenda duka seluas berapa lapangan bola untuk menampung para pelayay.
Askaskin sudah menemui ajalnya. Walaupun tanah kuburannya belum kering, arwahnya masih gentayangan dan penasaran karena warisanya disengketakan orang, kita patut berterima kasih padanya karena sudah banyak membantu kaum miskin, juga kaya yang mengaku miskin untuk keluar dari penderitaan karena sakit.
Diagnosa {baca: warning}dari Menkes itu patut kita anggap sebagai surat wasiat ‘almarhum’ Askeskin untuk para stakeholder yang terlibat dalam program Jamkesmas, agar subsidi silang untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang menyeluruh bagi masyarakat miskin ini dikelola dengan: benar, menyeluruh {komprehensif},sesuai dengan standar pelayanan medik yang ‘cost efektif’, rasional, pelayanan terstruktur, berjenjang, portabilitas, transparan dan ankuntabel(Pedoman Pelaksanaan Jamkesmas 2008). Sehingga kelak bila Jamkesmas harus menemui ajalnya {diakhiri} maka tidak ada sengketa harta gono gini. Bersyukurlah kita yang masih diberi kesempatan ke dua untuk mengelola warisan dari Askeskin.
Rumah sakit yang kaya.
Jauh sebelum program –program bantuan untuk pasien miskin diluncurkan, RSU Kupag sudah mengamalkan Pancasila dan UUD 45 pasal 28 ayat {1},pasal 34 ayat {1}dan ayat {3}{yang menjadi landasan hukum Jamkesmas}sebagai rumah sakit pemerintah dengan salah satu fungsi sosialnya.. Bahkan sampai datangnya program bantuan pun, rumah sakit ini masih tetap berkorban. Banyak piutang tak tertagih harus dimaklumi karena situasi di RS yang tidak harus membayar di depan {pay forward}. Ini termasuk pasien-pasien yang terpaksa dicap gratis, kemudian tidak bisa diklaim pmebayaranya karena keabsahan kepesertaanya tidak memenuhi syarat. Contoh kasus Diana yang menderita seorang diri di RS sampai ajal menjemputnya tanpa seorangpun mengaku sebagai keluarga, sahabat atau sekedar kenalan. Siapa yang menebus obat tahan sakitnya, agar dia lebih tenang dalam menanti ajalnya?
Sekarang RS pemerintah yang hendak “diprivatisasi” menjadi Badan Layanan Umum {BLU}ini bisa bernapas legah karena Jamkesmas akan menjamin juga masyarakat miskin yang tidak mempunyai kartu identitas seperti; gelandangan, pengemis, anak terlantar yang karena sesuatu alas an tidak terdaftar dalam SK Bupati /Walikota, akan dikoordinasi oleh PT.Askes dengan Dinsos setempat untuk diberikan kartunya.
Belajar dari pengalam ini, maka wajar bila RS yang kaya ini nampak mulai “pelit” yang akhirnya menstigma dirinya di mata masyarakat dengan sebutan diskriminatif, birokratis, dll.
Jumlah sasaran peserta program Jamkesmas tahun 2008 sebanyak 19,1 juta Rumah Tangga miskin atau sekitar 76,4 juta jiwa bersumber dari data BPS tahun 2006 yang dijadikan dasar penetapan jumlah sasaran peserta secara Nasional oleh Menkes RI. Berdasarkan jumlah sasaran Nasional tersebut, Menkes membagi sasaran kuota Kabupaten/ Kota. Berdasarkan kuota ini, Bupati/ Walikota menetapkan peserta dalam satuan jiwa. Apabilah jumlah yang ditetapkan dengan SK ini melebihi dari jumlah kuota yang telah ditetapkan maka menjadi tanggung jawab Pemda setempat {Pedoman Pelaksanaan Jamkesmas 2008}. Sistim kuota ini baik untuk menghindari permitaan “jatah” lebih oleh daerah-daerah. Beruntunglah mereka yang miskin di bawah tahun 2006, dan bag yang jauh miskin di atas tahun 2006 harus berharap pada Pemda untuk dapat ditolong. Bila tidak, maka penyakit mereka yang butuh biaya mahal terpaksa pasrah menanti ajal.
Pengalaman ditolaknya SKTM dari RT/ RW sampai ditandatangani oleh Camat yang terjadi selama ini, tidak perlu terulang. Kita berharap, program ini benar-benar menolong mereka yang miskin, yang sering mengabaikan kesehatanya dengan berjemur panas di lading, berjalan menunduk di lumpur sawah demi nasi yang tersaji di meja makan kita. Mereka yang putus otot lenganya mendayung perahu yang kehabisan solar demi lezatnya ikan bakar. Mereka yang patah tulang rusuknya, terjatuh dari rangka bangunan, bertingkat full AC yang “hot and cool”. Mereka yang,,, ah, harus berapa helai kertas lagi..?
Bagi mereka, kesehatan mungkin tidak lebih penting dari perut, tapi sakit ternyata lebih mahal dari nyawa sekalipun…….
dan sekarang, para karyawan yang menanti ajal lantaran jasa Jamkesmas tak kunjung dibagikan.. penantian panjang dan lama. katanya dana dibekukan sudah setahun lebih, padahal negara membayar di depan untuk setiap program yang digulirkan....
BalasHapus