Jumat, 22 April 2011

s.o.s for rsu

S.O.S for RSU
Oleh; Sirilus Selaka
Timor Express, 19 April 2011
PEREMPUAN itu berpakaian serba putih, berdiri di atas tanah lapang yang diapit gedung-gedung putih, melambaikan handuk putih, meminta bantuan ke udara, pada helikopter yang melintas di atas rumah sakit di salah satu kota di Jepang yang terkena dampak gempa dan tsunami kala itu.
Save Ours Soul untuk rumah sakit di Jepang akibat gempa tektonik dan tsunami, Save Ours System untuk rumah sakit di manapun yang diguncang gempa teknologi, teknokrat dan tsunami massa. Mereka meneriakan save ours soul di sana demi keselamatan jiwa dari amukan fenomena alam, teriakan mereka adalah spontan, tanpa berpikir, bertanya dan menganalisa apa yang sedang terjadi. Di sini, kami meneriakan save ours system demi keselamatan jiwa dan raga banyak orang, dari cengkraman noumena mismanajemen. Teriakan kami adalah lantang, bergetar dan berserak lantaran terlalu lama dibiarkan gelisah,kecewa, tertekan dan terhimpit antara kinerja dan kesejahteraan . Teriakan kami adalah murni bisikan nurani, steril dari kontaminasi tendesi serta jauh dari niat character assassination siapapun. Diantara lantang teriakan, kami saling berbisik; jangan nodai kemurnian perjuangan ini dengan pamrih murahan.
Kami adalah laki-laki dan prempuan, berpakaian serba-serbi, berdiri di atas tanah lapang yang diapit gedung-gedung putih berkaca setengah polos. Orasi kami membahana, bukan menghujat tetapi menambah devosi pada junjungan kami. Kami tampil bukan sok trampil, bukan sok pahlawan apalagi pahlawan kesiangan karena kami adalah rombongan pekerja yang tak pernah libur untuk melipur lara dan merawat luka-luka. Dan, karena terluka, kami memberontak. Menagih janji -demi janji, menuntut arti -demi arti.
Kami mendatangi laki-laki berpakaian serba gelap, antara biru, hijau dan coklat. Laki-laki itu menyapa kami dengan senyum ramah di wajahnya yang flamboyan. Suaranya penuh karisma; “Rumah sakit itu padat karya, padat modal dan padat manajemen. Karena selalu padat persoalan, sempat terpikir untuk ‘menjualnya’ pada pihak yang berniat meng-takeover”. Kami saling pandang dalam diam, kemudian mengagguk; jika itu adalah langkah penyelamatan, lakukanlah. Lakukan secepatnya sebelum rumah sakit ini ‘dijual’ dibawah tangan atau digadaikan tanpa agunan.
***
Dengan beralihstatus dari RSUD menjadi BLUD, banyak pihak menaruh ekspektasi akan sebuah rumah sakit pemerintah yang ramah, murah tapi bukan murahan. Muda-mudahan semuanya menjadi lebih baik, mulai dari pintu masuk, pelataran parkir yang rapi, lancar dan aman - pedagang kaki lima direlokasi ke tempat yang tidak mengganggu lalu lintas dan estetika - pos penjagaan dengan security yang tegas dan familiar - antrian di loketyang lebih cepat dan teratur, pasien beristirahat dalam ruangan yang nyaman dan aman, fasilitas penunjang tersedia, para karyawan melayani pasien dengan senyum dan komunikasi yang terapeutik, tidak lagi mengeluh apalagi melakukan aksi-aksi menuntut haknya - berita di surat kabar tidak lagi didominasi persoalan-persoalan pelik dan memprihatinkan. Terwujudlah visi; menjadi rumah sakit kebanggaan masyarakat NTT.
Faktanya, tiga bulan pertama perjalanan BLUD justeru semakin mengecewakan. Padahal, hasil indeks kepuasan pelanggan external tahun 2010 menunjukan, 84,78% pelanggan external merasa sangat puas, 47% pelanggan internal merasa tidak puas, dengan kesimpulan; ketidakpuasan pelanggan internal tidak berpengaruh terhadap kinerja yang diberikan kepada pelanggan external. Asumsinya, BLUD dijalankan dengan langkah blunder. Langkah pertama yang dianggap blunder adalah menuang ‘anggur’ lama ke dalam botol baru, dimana pola dan ritme manajemen lama dijalankan di atas koridor baru. Ini terkait erat dengan rekrutmen dan restrukturisasi. Langkah kedua, swakelola demi memotong panjang dan berbelitnya rantai birokrasi , justeru nyaris memotong-hilangkan beberapa mata rantai yang berdampak pada mandeknya aliran dana. Padahal, eksistensi entitas plat merah ini didanai negara dengan system prabayar. Keluhan orang sakit miskin berikut bukti otentik pembelanjaan kebutuhan yang semestinya didanai negara menjadi pembenaran asumsi ini.
Terlalu dini untuk menilai ini, tapi juga terlalu lama menunggu adaptasi putaran roda lama di atas rel baru yang akan menghambat laju perjalanan. Untuk itulah, teriakan minta tolong save ours system membahana. Pada titik ini, bukan lagi waktunya untuk mempertanyakan soal, tapi mempersoalkan jawaban, karena jawaban yang diberikan pihak-pihak berkompeten baru sebatas janji akan melakukan evaluasi, perombakan dan perbaikan.
Karyawan rumah sakit ini yang sering jadi bulan-bulanan berbagai pihak tatkala persoalan pelayanan kesehatan kepada orang sakit miskin merebak, berupaya menyelamatkan ‘korban bencana’ dengan berbagai cara. Upaya terbaru berupa pembentukan Forum Peduli Rumah Sakit yang dikapteni Ketua Ikatan Dokter Indonesia Cabang Kupang, dr. Kamilus Karangora SpPD cukup mendapat support dari berbagai kalangan. Beberapa diantaranya meminta agar upaya ini tidak terlokalisir pada persoalan dana Jamkesmas semata, tapi bisa menyentuh persoalan rumah sakit secara komperhensif. Bahkan ada yang ingin mejadi relawan dengan alasan, ingin ambil bagian bukan karena dipanggil atau tidak, tetapi terpanggil karena perjuangan ini senafas dengan impian mereka selama ini. Namun demikian, ada juga upaya untuk memperlemah forum ini. Karangora yang didukung langsung hampir semua dokter ahli, dokter umum dan lebih dari lima ratus karyawan lainya maju tak gentar membela yang miskin dengan semboyan; setiap perjuangan ada pengkhianatan.
***
Kami adalah laki-laki dan perempuan, berperang melawan musuh dalam selimut, berjuang menyibak tirai yang membelenggu ethos, pathos dan logos kami. Kami bersenjatakan fakta dan pakta; musuhnya musuh adalah teman. Kami adalah kaum nomaden tapi bukan bangsa barbar. Kami telah berjajni pada sejarah; pantang pulang sebelum menang. Kami adalah keturunan nenek-moyang pelaut, yang mengayuh bahtera dengan otot lengan terluka. Beberapa diantara kami terpaksa berkubur di laut, mejadi tumbal keganasan gelombang pertahanan diri.
Duhai penguasa tujuh samudra dan lima benua, selamatkan bahtera ini hingga kami membuang sauh di pantai idaman, merapat di dermaga impian… (*)

1 komentar:

  1. Kami adalah laki-laki dan perempuan, berperang melawan musuh dalam selimut, berjuang menyibak tirai yang membelenggu ethos, pathos dan logos kami. Kami bersenjatakan fakta dan pakta; musuhnya musuh adalah teman. Kami adalah kaum nomaden tapi bukan bangsa barbar. Kami telah berjajni pada sejarah; pantang pulang sebelum menang. Kami adalah keturunan nenek-moyang pelaut, yang mengayuh bahtera dengan otot lengan terluka. Beberapa diantara kami terpaksa berkubur di laut, mejadi tumbal keganasan gelombang pertahanan diri.
    Duhai penguasa tujuh samudra dan lima benua, selamatkan bahtera ini hingga kami membuang sauh di pantai idaman, merapat di dermaga impian… (*)

    BalasHapus